SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 63 TANGKAP


__ADS_3

Setelah Pak Marzuki mengisi buku tamu, kami semua pun diarahkan oleh Pak Prapto menuju sebuah ruangan yang agak luas. Di dalamnya berjejer beberapa meja. Ada beberapa petugas yang duduk di balik meja sambil mengetik. Pak Marzuki diminta duduk di depan salah satu petugas. Pak Prapto berdiri di belakang petugas itu dan kami bertiga duduk di sebelah Pak Marzuki.


"Coba ceritakan bagaimana kejadian yang menimpa Pak Misnatun dan Bu Misnatun!" tukas petugas muda itu. Waktu itu saya masih remaja. Ibu dan Bapak seperti biasa pagi-pagi selepas salat subuh pamit ke pasar untuk berbelanja kebutuhan warung. Cuma hari itu bilangnya agak lama belanjanya karena rencananya mau bagi-bagi mie ayam secara gratis ke beberapa panti asuhan dan tukang-tukang becak. Pulangnya mereka berdua mengalami kecelakaan menabrak tiang di pinggir jalan. Dan nyawa mereka berdua tidak terselamatkan. Mereka meninggal di tempat kejadian," jawab Pak Marzuki.


"Apakah waktu itu tidak ada pemeriksaan dsri kepolisian?" tanya petugas tersebut.


"Polisi sudah memeriksa semuanya. Berkali-kali.malahan, tapi mereka tidak menemukan kejanggalan apapun dari kecelakaan itu. Menurut mereka rem mobil blong karena kelalaian pemilik kendaraan," jawab Pak Marzuki lagi.


"Lantas, apa maksud Bapak datang ke tempat ini sekarang?" tanya petugas itu lagi.


"Saya datang ke tempat ini karena diberitahu oleh adik-adik ini bahwa ada orang yang mengaku telah mecelakai kedua orang saya dengan merusak rem mobil itu secara sengaja," jawab Pak Marzuki.


"Oh ya? Apa adik-adik ini tidak salah berbicara?" tanya petugas itu.


"Tidak, Pak. Saya mendengar sendiri orang itu mengakuinya dan ingi menyerahkan diri ke polisi," jawabku tegas.


"Kalian tahu, kan, konsekuensi memberikan kesaksian palsu?" tanya petugas tersebut


"Kami paham hal itu, Pak. Kami meyakini informasi yang kami berikan nyata adanya," jawab Arini.


"Baiklah! Sekarang jelaskan kronologinya!" ujar petugas itu.


Kami pun menceritakan secara detil kejadian yang kami lihat tadi. Setelah itu Pak Prapto mengajak kami menuju ke lokasi yang kami maksud dengan membawa beberapa personil polisi.


"Berani sekali kalian ini? Apa yang kalian lakukan itu bahaya, loh! Pak Jamal itu memiliki potensi untuk melukai kalian kalau sampai dia tahu bahwa kalian mengintip dan akan melaporkan ke polisi," ujar Pak Prapto.


"Kami modal nekat saja, Pak. Lah wong tiap lewat situ kami mencium bau busuk. Makanya kami penasaran sekali. Sewaktu ada kesempatan, kami pun menyelidikinya. Siapa sangka ternyata kami malah mengungkap kejahatan seseorang yang sudah terkubur puluhan tahun," jawabku.

__ADS_1


"Kamu tidak banyak berubah, Im. Masih sama seperti dulu. Kamu dan Parto itu sebelas dua belas pokoknya," ujar Pak Prapto.


"He he he ...." Aku pun tertawa.


"Oh ya, Pak. Kira-Kira nanti di pengadilan, apakah bapaknya Pak Jamal akan mendapatkan keringanan hukuman? Bukankah ia sudah lama ingin menyerahkan diri ke polisi?" tanyaku.


"Seharusnya begitu. Tapi, semua tergantung dari proses persidangan di pengadilan negeri," jawab Pak Prapto.


"Kalau Pak Jamal sendiri apakah akan dijerat hukum juga?" tanyaku lagi.


"Yang jelas ia juga akan ikut dimankan karena dianggap menyembunyikan pelaku kriminal. Tapi, saya pesimis Pak Jamal itu akan dihukum berat," jawab Pak Prapto.


"Kenapa begitu, Pak?" tanyaku.


"Iya, begitulah. Bapaknya Pak Jamal pasti akan bersaksi yang akan meringankan Pak Jamal, bahkan bisa jadi Pak Jamal terbebas dari jerat hukum," jawab Pak Prapto.


"Kenapa begitu, Pak?" tanyaku penasaran.


"Bukankah kami bisa bersaksi bahwa Pak Jamal memang tidak menginginkan bapaknya menyerahkan diri ke polisi," jawabku.


"Tidak semudah itu, Im. Pengadilan butuh saksi dan bukti yang kuat. Nanti di pengadilan kamu akan tahu bahwa membuktikan ia ikut bersalah itu tidaklah mudah. Terlebih Pak Jamal memang yang merawat bapaknya yang sedang sakit," jawab Pak Jamal.


"Iya, Pak. Semoga pengadilannya nanti akan berjalan seadil-adilnya," jawabku.


"Aamiin ...,"


Akhirnya kami pun sampai di bengkel milik Pak Jamal. Kami tidak melihat Pak Jamal di sana. Polisi pun berpencar untuk mengepung rumah tua di pinggir sungai.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian, aku mendengar polisi sudah berhasil menangkap bapaknya Pak Jamal. Pak Jamal pun turut ditahan sebagai saksi oleh polisi.


Kami tidak diperbolehkan turun dari mobil oleh Pak Prapto karena menurutnya hal itu membahayakan buat kami. Apabila wajah kami terlihat oleh Pak Jamal, hal itu berpotensi Pak Jamal akan marah dan mengincar kami.


Kami hanya menyaksikan dari dalam mobil berkaca gelap ini bagaimana Pak Jamal dan bapaknya digelandang menuju mobil polisi lainnya. Aku perhatikan bapaknya Pak Jamal itu tidak terlihat sedih sama sekali. Ia justru terlihat


sangat bahagia. Mungkin, karena keinginannya sudah tercapai, yaitu menerima hukuman akibat kejahatannya di masa lalu.


"Tolong jangan tangkap anak saya! Saya melakukannya sendiri. Waktu itu anak saya itu masih kecil. Ia tidak tahu apa-apa tentang ini. Yang ia tahu hanyalah merawat saya dan menjadi tulang punggung keluarga," teriak bapaknya Pak Jamal.


"Maaf, Pak! Anak Bapak tetap kami periksa sebagai saksi dan tidak menutup kemungkinan ia akan menjadi tersangka sesuai dengan hasil penyelidikan," tegas salah satu polisi.


Bapaknya Pak Jamal digelandang oleh beberapa polisi dengan cara diangkat. Sedangkan Pak Jamal sendiri juga ikut dibawa, tapi ia hanya berjalan dengan diapit oleh dua orang polisi. Mereka lewat di sebelah mobil yang kami naiki. Pak Jamal sempat menoleh ke arah kami dan kami pun menunduo secara refleks. Untunglah kaca mobil ini gelap sehingga kami yakin Pak Jamal tidak mengetahui keberadaan kami di dalam mobil ini sebagai informan kepolisian. Jujur, melihat tatapan Pak Jamal saat itu yang tajam, kami merasa ngeri sendiri.


Akhirnya, Pak Jamal dan bapaknya yang berada di mobil paling depan sudah berangkat terlebih dahulu. Tinggal mobil yang kami naiki yang belum berangkat. Pak Marzuki juga sudah pindah ke mobil yang lain.


"Kalian tidak usah ikut ke Polres lagi. Saya akan mengantar kalian ke rumah masing-masing," cetus Pak Prapto sambil duduk di belakang kemudi.


"Kami bisa pulang sendiri, Pak, kalau Bapak memang ada tugas penting lainnya," jawabku.


"Tenang, saya masih ada cukup waktu untuk mengantar kalian. Toh, mereka berdua sudah ditangani oleh anak buah saya," jawab Pak Prapto.


Kami pun tidak bisa menolak tawaran polisi senior ini lagi. Pak Prapto pun dengan lihainya mengendarai mobilnya mengantarkan kami satu persatu. Bondan ke kosannya, Arini ke rumah ayah angkatnya, dan ke rumahku sendiri. Sepanjang jalan Pak Prapto tak henti-hentinya berbagi cerita dan pengalamannya mulai kecil hingga sesukses sekarang. Mobil Pak Prapto yang sekarang jauh lebih bagus dan lega dari mobil yang ia gunakan untuk menjemput ibu di rumah sakit waktu itu. Tapi, selera musik Pak Prapto tidak berubah. Gending Pelok Temor menggema di mobil pribadinya yang tergolong high class. Bapak dan ibuku menyambut kedatangan Pak Prapto dengan gembira. Mbah Nur dan sahabatku, Parto pun tak lupa untuk dijemput untuk bercengkrama melepas rindu dengan polisi teladan itu.


BERSAMBUNG


Gimana, Sobat Junan? Sudah puas belum dengan update-an hari ini? Sudah 3 episode, loh!

__ADS_1


Hm ... up lagi nggak ya?


Kalau komenan dan votenya banyak, aku usahain dech.....


__ADS_2