SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 87: JUNGKAT-JUNGKIT


__ADS_3

Kami berempat terkejut dengan tampilan jungkat-jungkit berukuran besar di hadapan kami. Benda itu terlihat aneh dan berbeda dengan jungkat jungkit pada umumnya. Di sisi sebelah barat terdapat sebuah tempat duduk, di sisi sebelah kanan juga terdapat sebuah tempat duduk, di sisi sebelah utara terdapat satu tempat duduk yang sama, dan terakhir di sisi sebelah selatan juga terdapat kursi yang serupa. Keempat kursi itu terhubung dengan menggunakan papan dan terpusat pada poros keempat kursi itu. di poros sistem jungkat-jungkit itu terdapat tiang yang berulir mirip seperti baut.


Kami berempat menatap kebingungan pada benda di hadapan kami itu. Selain bentuknya yang tidak lazim, kami tidak menemukan hal lain yang mencurigakan.


"Jungkat-Jungkit yang aneh!" dengkus Ikbal.


Keempat orang yang lain pun mengiyakan perkataan Ikbal. Kami kebingungan dengan benda asing yang ada di hadapan kami saat ini. Bagaimana sistem kerja benda ini sebenarnya? Itulah yang sedang ada di benak kami masing-masing.


"Ha ha ha ... Kalian bingung dengan jungkat-jungkit ini, ya?" tawa Sang Penjaga baru itu mengagetkan kami yang sedang berpikir keras.


Kami berlima tidak ada yang menyahut karena apa yang dikatakan pria tersebut memang benar. Meskipun kami tidak menyukai cara tertawanya.


"Tidak usah bingung, Anak Muda! Baiklah, akan saya jelaskan cara kerja jungkat-jungkit ini. Kamu dengarkan betul-betul penjelasan saya. Agar kalian bisa selamat dari jungkat-jungkit mematikan ini! Meskipun ...... Yah, kemungkinannya sangatlah kecil. Ha ha ha ha ha ...," ucap pria itu kembali dengan diakhiri tawanya yang sangat menjengkelkan.


"Cepat kamu jelaskan saja! Kami muak mendengar tawamu yang jelek itu," teriak Faisal tak kalah lantang dari pria berperawakan besar itu.


Mata Sang Penjaga melirik tajam ke arah Faisal. Sepertinya ia juga kesal dengan ucapan temanku itu. Tapi, kali ini ia tidak berbuat apa-apa karena ia tidak mau bernasib sama dengan temannya tadi.


"Sombong sekali kalian! Pantas saja temanku kesal dengan kalian. Oke, saya jelaskan dan tolong dengarkan baik-baik! Masing-Masing dari kalian akan duduk di atas keempat kursi itu. Setelah itu secara bergantian kursi-kursi itu akan naik dan turun seperti layaknya jungkat-jungkit yang biasa kalian mainkan di rumah. Selain naik dan turun secara bergantian, keempat kursi itu akan berputar dengan kecepatan tertentu. Dan kalian perhatikan baik-baik. Di sebelah jungkat-jungkit itu ada sebuah tiang. Ketika lampu yang ada di kursi kalian menyala, maka begitu kursi yang kalian duduki dekat dengan tiang itu, kalian harus lompat dan berpegangan dengan tiang itu dan meninggalkan yang lain. Lampu itu hanya bertahan selama tiga putaran. Jika sampai lampu itu mati maka dari kursi yang kalian duduki itu akan keluar tombak yang akan membunuh kalian. Dan kalian akan menjadi anak buah saya di sini selamanya," terang Sang Penjaga dengan nada serius.


"Bagaimana kalau salah satu dari kami berhasil melompat ke tiang itu? Apa kami semua akan selamat?" tanyaku penasaran.


"Tidak semudah itu, Anak Muda! Kalian semua harus bisa melompat ke tiang itu satu persatu," jawab pria berpakaian khas prajurit itu.


"Tapi ... bukankah setelah salah satu dari kami ada yang berhasil melompat, jungkat-jungkit itu menjafi tidak seimbang?" sela Roni.

__ADS_1


"Cerdas kamu! Yah, memang begitu adanya. Jika ada satu orang yang melompat, maka teman yang bersebrangan dengannya akan terhempas ke bawah menghunjam tombak tajam yang ada di bawah. Kecuali, ia cepat-cepat berlari ke tengah untuk menyelamatkan diri. Tapi ingat, ketika dua sisi yang tidak ada orangnya, maka putaran benda itu akan menjadi lebih cepat dari sebelumnya," jawabnya serius.


"Ya Tuhan!!!! pekik kami secara bersamaan.


" Bagaimana nasib Dinda, teman kami?" tanya Ikbal.


"Jika permainan ini berakhir dan ia belum kembali, otomatis ia dinyatakan gugur dan secara otomatis akan menjadi penjaga di sini. Ada pertanyaan lain?" ucap pria itu.


Kami semua tertunduk lesu dan tidak sanggup berkata-kata lagi. Tantangan terakhir ini ternyata sungguh berat sekali. Pantas saja, tidak pernah ada orang yang bisa selamat begitu terperangkap di tempat ini.


"Silakan kalian bersiap-siap di tempat kalian masing-masing! Sebentar lagi permainan ini akan dimulai," perintah Sang Penjaga.


Kami berlima saling berpandangan dengan wajah penuh keraguan. Kami berlima pun segera berjalan menuju jungkat-jungkit yang berada di tempat tinggi itu. Di depan sana berdiri kokoh dan megah istana Nyi Sukma.


"Maksud kamu apa, Im?" tanya Roni.


"Kita harus tetap optimis menghadapi hal ini. Jangan sampai kita berputus asa dan menyerah kepada Nyi Sukma karena hal itulah yang diinginkan oleh siluman itu. Kita harus tetap yakin bahwa Allah SWT lah penentu segalanya. Setidaknya, meskipun kita semua akan mati, kita mati dengan menyebut nama-Nya," jawabku.


Keempat temanku menghentikan langkah sejenak dan menoleh ke arahku. Kami berlima pun saling berhadapan dan tanpa dikomando, kami pun membentuk lingkaran.


"Seandainya di antara kalian ada yang selamat, aku titip adikku, ya?"


"Aku juga titip nenekku, ya?"


"Tolong sampaikan pada ayah dan ibuku, aku meminta maaf dan sangat menyayangi mereka,"

__ADS_1


"Sampaikan ke keluarga temanku. Aku minta maaf,"


Kami berlima saling menitip pesan kepada masing-masing yang lain.


"Kalian semua silakan duduk di kursi-kursi itu. Biar aku yang berada di tengah," ucap Faisal.


"Baiklah," jawab kami berempat mengikuti perintah Faisal.


Jungkat-Jungkit ini ukurannya cukup besar dan saat itu berdiri seimbang karena ditopang oleh ujung-ujung tombak tajam yang menjulang ke atas dari tanah. Ngeri rasanya melihat ke bawah. Di bawah sana terdapat tombak-tombak lain yang siap menusuk tubuh kami. Di sela-sela tombak-tombak itu juga terdapat air dan beberapa ekor buaya yang siap ******* tubuh kami.


"Bagaimana, apa kalian sudah siap? Kalau sudah siap, tombak-tombak penyangga ini akan segera saya lenyapkan dan jungkat-jungkit ini pun akan mulai bekerja," teriak Sang Penjaga.


Kami berlima saling bertatapan dan memberi kode untuk tetap fokus dan tenang. Setelah mendapat isyarat dari kami, Faisal pun berteriak pada Sang Penjaga.


"Insyallah, kami siap!" teriaknya.


"Oke, dalam hitungan ketiga. Permainan akan dimulai," teriak Sang Penjaga.


"Ayo, teman-teman kita berdoa! Bismillahirrohmanirrohiiim...," teriak Faisal dengan keras diikuti oleh kami berempat.


"Satu ... Dua ... Tiga ...," teriak Sang Penjaga.


Tombak-Tombak penyangga itu pun hilang secara bersama-sama dan tubuh kami pun mulai merasakan bahwa kursi yang kami duduki ini seperti sedang melayang di udara dan siap terhempas kapan saja serta bertumbukan dengan tombak tajam di bawah sana.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2