
Dengan tergesa-gesa kami berjalan menuju pengawal Nyi Sukma yang sedang berjaga di tempat itu. Roni segera menegur pria yang badannya hampir sama dengannya itu.
"Kamu melihat Dinda teman kami?" tanya Roni dengan suara tegas.
"Ha ha ha ... buat apa kalian mencari anak itu? Sebaiknya kalian bersiap untuk menghadapi tantangan selanjutnya," jawab pengawal itu dengan terkekeh.
"Kalian apakan temanku itu? Awas, kalau sampai terjadi apa-apa dengan anak itu, kami tidak segan-segan untuk menghajar kalian semuanya," teriak Roni sambil mendorong tubuh pria gempal di depannya.
"Berani-Beraninya kamu menantangku, anak muda! Kalian harus ingat, di sini kamilah yang berkuasa!" bentak pengawal itu sambil memelintir tangan Roni.
"Arrrrrrrgh!!!" teriak Roni kesakitan karena tangannya diplintir oleh pengawal itu.
Andre datang untuk menyelamatkan Roni. Ia membantu Roni untuk lepas dari pelintiran pengawal itu. Akhirnya, dengan bantuan Andre, Roni pun berhasil lepas dari belenggu pengawal itu. Pengawal itu geram sekali dengan tindakan Andre, matanya nampak memerah dan sedetik kemudian ia mengeluarkan sebuah senjata dari balik pinggangnya. Ternyata sebuah cemeti. Ia menarik cemeti itu ke belakang dan bermaksud untuk melecut tubuh Andre.
"Awas, Ndreeee!!!!" teriak aku dan Faisal berbarengan.
Andre dan Roni tidak punya waktu untuk menghindar. Ujung cemeti itu akan segera mendera tubuh Andre terlebih dahulu, kemudian Roni. Aku tidak tahu efek dari deraan cemeti itu nanti. Taoi, kalau melihat dari bentuknya, sepertinya cemeti itu memiliki kekuatan magis tersendiri.
[Duaaaaaaar!!!!!!]
Terdengar bunyi dentuman keras di udara dan percikan api pun terlihat sangat jelas di hadapan kami berempat. Ternyata cemeti itu bertabrakan dengan sebuah benda di udara sehingga menghasilkan asap yang cukup tebal. Andre dan Roni selamat dari deraan cemeti ajaib itu. Pengawal itu terhempas ke belakang sejauh kurang lebih dua sampai tiga meter. Kemudian, dari kepulan asap itu muncul sesosok perempuan cantik dengan pakaian khas adat jawa berwarna ungu sangat serasi dengan warna kulitnya yang putih merona. Perempuan itu muncul secara tiba-tiba dengan sebuah selendang panjang yang menjulur panjang. Sepertinya selendang itulah yang ia gunakan untuk menghalau pecutan cemeti pengawal tadi.
"Jangan bertindak bodoh kamu! Bukankah sudah berkali-kali kuperingatkan untuk tidak melukai pemuda-pemuda ini!" teriak perempuan itu dengan suara nyaring dan merdu.
"A-a-ampun, Nyi Sukma! Hamba tidak bermaksud melanggar perintah Nyi Sukma. Hamba khilaf," jawab pengawal itu dengan tubuh membungkuk dan suara bernada takut.
"Segera pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran!" balas perempuan yang ternyata adalah Nyi Sukma itu.
"Baik, Nyi Sukma. Terima kasih," jawab pengawal itu sambil beranjak pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Sepeninggal pengawal tadi, Nyi Sukma kemudian menatap ke arah kami berempat. Pada saat itulah kami berempat betul-betul terpana dengan pemandangan indah di hadapan kami. Kami tidak menyangka bahwa sosok Nyi Sukma ternyata secantik itu, bahkan dalam keadaan marah pun kecantikannya tidak pudar sedikitpun.
"Seharusnya kalian tidak bertemu denganku secepat ini," ujar Nyi Sukma kemudian.
"Nyi .... kami sedang mencari Dinda," pekikku memberanikan diri.
"Tenang, temanmu tidak kenapa-kenapa, kok. Jatmiko sangat baik menjaga temanmu itu. Mereka berdua sedang berduaan di taman," jawab Nyi Sukma sambil menyungging senyum.
"Apa? Maksud Nyi Sukma, Dinda sudah gagal memenuhi tantangan di sini?" tanya Faisal.
"Sepertinya belum. Tapi, kalau melihat gelagatnya, sepertinya tak lama lagi teman kalian itu akan jatuh ke pelukan Jatmiko," jawab Nyi Sukma sambil tertawa renyah.
"Tidak, Nyi! Tolong lepaskan Dinda, Nyi! Biarkan kami secara bersama-sama melalui tantangan ketiga dari Nyi Sukma!" pekikku.
"Tidak bisa, anak muda. Peraturan tetaplah peraturan. Siapapun tidak boleh melanggar peraturan di sini. Bukankah kalian sudah melihat dengan mata kepala kalian sendiri, bagaimana aku menghukum anak buahku yang melanggar peraturan di sini!" teriak Nyi Sukma.
"Kalian tidak akan pernah bisa menemukan tempat itu! Sebaiknya kalian segera bersiap diri untuk menghadapi tantangan selanjutnya!" jawab Nyi Sukma tegas.
"Tolong, Nyi Sukma! Lepaskan kami semua dari tempat ini! Biarkan kami pulang ke rumah!" rengek Andre.
"Sudahlah! Aku tidak mau melihat kecengengan kalian. Sebentar lagi makanan akan datang untuk kalian. Dan selesai makan, pengawal yang lain akan mengantar kalian ke tempat tantangan ketiga. Pastikan kalian lolos dari tantang tersebut untuk bisa pulang ke rumah dengan selamat. Jika tidak, kalian akan menemaniku di sini selamanya," jawab Nyi Sukma sambil membalikkan diri dan mempertontonkan punggungnya yang terbuka.
"Bagaimana dengan Dinda, Nyi Sukma?" teriakku pada perempuan yang sedang berjalan meninggalkan kami menuju kepulan asap yang tiba-tiba muncul kembali setelah tadi lenyap ketika kami sedang bernegosiasi.
"Jika temanmu itu tahan terhadap godaan Jatmiko, maka ia akan datang menyusul kalian. Oh ya, tidak ada yang gratis di sini. Sebagai imbalan dari makanan yang akan kalian makan nanti, kalian akan menukarnya dengan rasa kantuk," jawab Nyi Sukma sebelum menghilang bersamaan dengan hilangnya kepulan asap misterius itu.
"Nyi Sukma!!" teriakku pada tempat kosong di hadapan kami.
Aku tersungkur lemas di atas tanah. Aku kepikiran dengan nasib yang akan menimpa Dinda.
__ADS_1
"Tenang, Im. Pasrahkan semuanya pada Allah SWT... Insyaallah Dinda akan selamat," hibur Faisal.
"Ayo, kita cari Dinda ke taman, Sal!" protesku.
"Tidak mungkin, Im. Kita tidak tahu seluk beluk tempat ini. Sebaiknya kita ikuti aturan main Nyi Sukma saja, karena aku yakin perempuan itu sudah mengatakan yang sebenarnya tentang tempat ini," jawab Faisal.
"Tapi, Sal, kasihan Dinda!" protesku.
Belum selesai Faisal menjawab, tiba-tiba datang dua orang pengawal berbadan besar membawa makanan dan disodorkan kepada kami.
"Hm ...," gumam kami berempat.
Makanan itu terlihat sangat menggugah selera. Kami tidak sanggup lagi untuk menahan rasa lapar ini.
"Aneh, padahal sebelumnya aku tidak merasa lapar sama sekali selama di sini," ucap Roni.
"Sudahlah, sebaiknya segera kita santap makanan ini!" ucap Andre.
"Kalian tidak ingat ucapan Nyi Sukma barusan. Setelah makan ini, rasa kantuk akan menyerang kita. Bagaimana kita akan menghadapi tantangan selanjutnya dalam keadaan mengantuk?" ucapku.
"Tapi, bagaimana kita akan menghadapi tantangan itu dalam keadaan lapar?" protes Roni.
"Sebaiknya kita makan saja sedikit, Im," ucap Faisal.
Aku sudah tidak punya argumen apa-apa untuk mereka karena mereka semua terlihat kelaparan sekali. Melihat cara mereka makan, aku oun tak sanggup untuk tidak ikut makan. Pikirku, aku hanya akan makan sedikit saja. Namun, lezatnya makanan itu membuatku tak bisa menahan diri untuk tidak makan banyak. Makanan itu pun ludes dikonsumsi oleh kami berempat. Setelahnya, pengawal-pengawal itu pun membawa kami ke sebuah tempat yang letaknya di depan sebuah rumah mewah dan megah. Ada jungkat-jungkit aneh di depan kami. Dan, rasa kantuk tiba-tiba menyerangku.
BERSAMBUNG
Mohon maaf kalau updatenya lama, Kak. Kesibukan di dunia nyata benar-benar sulit untuk dihindari. Semoga kalian masih setia membaca cerita ini.
__ADS_1