
Aku yang berdiri paling dekat posisinya dengan si kakek.
"Ada apa, Kek? Kakek siapa?" tanyaku memberanikan diri.
Kakek tua itu menarik napasnya yang tersengal.
"Nak, saya ini yang diberi tugas oleh Pak Rudi untuk merawat kebun jagung ini. Malam ini saya sengaja berjaga di sini karena mendengar kalau anak-anak melakukan penjelajahan di kebun jagung ini," jawab kakek tua itu.
"Oh ... gitu ... terus kenapa Kakek seperti tergesa-gesa begitu?" tanyaku lagi.
"Sebenarnya saya sudah berjaga dari tadi di sini. Sejak.kelompok pertama yang masuk ke kebun jagung, saya sudah di sini," jawab kakek tua itu.
"Apa yang kakek lakukan sejak tadi di sini?" tanyaku lagi.
"Gini, Le. Setiap kelompok yang mau masuk ke kebun jagung ini aku tanyain. Ada yang wetonnya legi, nggak," jawab kakek.
"Emang kenapa kalau wetonnya legi, Kek?" Aku balik bertanya.
"Kalau yang wetonnya legi, lebih baik jangan masuk ke kebun jagung ini karena bahaya," ujar kakek tua itu.
"Bahaya kenapa, Kek?" Ketua kelompok menyela.
"Begini, Nak. Kakek kan sudah lama mengelola kebun jagung ini. Istri kakek kebetulan wetonnya legi. Pernah satu kali dia masuk ke dalam kebun jagung untuk mencari kakek. Semalaman dia menghilang di sini," cerita kakek tua itu
"Terus gimana nasib istri Kakek?" tanya ketua kelompok.
"Semalaman orang-orang mencari nenek, tapi nggak ketemu-ketemu. Istri kakek itu ketemu setelah azan Subuh dalam.keadaan lemah," jawab kakek.
"Tapi istri Kakek selamat, kan?" tanyaku.
"Sejak kejadian itu istri kakek sering mengigau dan sakit-sakitan. Beberapa bulan kemudian istri kakek itu meninggal," jawab si kakek perlahan.
__ADS_1
"Saya turut bersedih dengan kejadian yang menimpa istri kakek. Tapi, bagaimana ceritanya kok bisa orang yang berweton legi tidak boleh masuk ke kebun jagung ini?" Aku bertanya.
"Hal itu sudah terjadi turun-temurun, Nak. Konon, kebun jagung ini dulu-dulunya milik seorang Tuan Tanah di daerah ini. Ia adalah seorang duda dan memiliki seorang anak yang sudah beranjak remaja. Pada suatu hari ada seorang gadis datang ke desa ini. Nah, kecantikan gadis itu memikat hati si Tuan Tanah. Tuan Tanah bermaksud untuk memperistri gadis itu, tapi gadis itu menolak karena ia tidak ingin menikah dengan laki-laki yang usianya jauh di atasnya. Ternyata gadis itu diam-diam tertarik pada anak dari Tuan Tanah itu. Hingga akhirnya mereka pun berpacaran dan melakukan hubungan terlarang di kebun jagung ini."
"Tuan Tanah yang tidak terima cintanya ditolak oleh gadis cantik itu diam-diam membuntuti gadis itu yang sedang berjalan mengendap-endap bersama seorang pria menuju ke kebun jagung miliknya. Tuan Tanah itu tidak tahu bahwa laki-laki yang bersama dengan gadis pujaannya adalah anaknya sendiri. Di kebun jagung itulah Tuan Tanah itu membunuh laki-laki yang sedang bersama gadis pujaannya. Setelah ia berhasil membunuhnya, Tuan Tanah itu baru tahu kalau laki-laki itu adalah anaknya sendiri. Ia pun marah kepada gadis itu dan ia juga membunuh gadis itu. Kemudian Tuan Tanah itu pun menjadi linglung setelahnya. Konon gadis itu memiliki weton legi. Sejak saat itu setiap warga yang memiliki weton legi sering hilang di kebun jagung tersebut," tutur kakek panjang lebar.
"Jadi itu ceritanya, Kek?" tanyaku.
"Iya, Nak. Jadi, saya minta kepada kalian yang memiliki weton legi untuk tidak masuk ke dalam kebun jagung ini," ujar kakek.
"Tapi, Kek. Kalau sampai ada anggota kelompok yang tidak ikut masuk ke dalam, nilai kami ntar dikurangi oleh panitia?" protes salah satu temanku.
"Kamu pilih keselamatan apa nilai?" tanya kakek.
"Dua-Duanya, Kek. Kami ingin selamat, tapi juga tidak mau nilai kami dikurangi," jawabnya.
"Gimana ini, Ketua?" tanya Bondan.
Ketua kelompok menarikku ke belakang dan membisikiku. Anggota group A ikut mundur ke belakang karena takut berhadapan dengan kakek aneh tersebut.
"Iya juga. Lagipula mana ada cerita mitos seperti itu. Aku tidak pernah mendengarnya," jawabku juga dengan berbisik.
"Baiklah, kamu kembali ke posisimu tadi. Kayaonya kakek tua itu memperhatikan gerak-gerikmu mulai tadi," bisik ketua kelompok.
"Aku lahir senin legi," selorohku.
"Hah? Ya udah kamu nggak usah rame-rame nanti malah didengar oleh orang tua itu," ujar ketua kelompok.
Aku pun kembali berdiri di depan kakek tua itu. Ketua kelompok tiba-tiba berkata.
"Oke teman-teman. Tolong yang weton lahirnya legi, angkat tangan?" teriak ketua kelompok sambil berdiri menghadap kami. Ia sengaja membelakangi kakek tua itu agar ia bisa memberikan kode kepada kami tanpa diketahui oleh kakek tua itu.
__ADS_1
Tidak ada teman-teman yang mengangkat tangan, termasuk aku.
"Alhamdulillah ... tidak ada, Kek, yang lahirnya weton legi," ucap ketua kelompok sambil menoleh ke arah kakek tua yang saat ini berada di belakangnya.
Kakek tua itu memandang curiga kepada ketua kelompok itu.
"Saya ulangi sekali lagi, siapa di antara kalian yang lahir dengan weton legi?" Kali ini ketua kelompok tidak memberikan kode lagi. Tapi, kami semua sudah paham dengan apa yang harus kami lakukan.
"Gimana, Kek? Kita boleh masuk semua sekarang?" tanya ketua kelompok kepada kakek tua itu lagi.
"Terserah!!!" Kakek tua itu menjawab dengan.ketus kemudian ia berlalu pergi meninggalkan kami.
Kami menatap kepergian kakek tua itu hingga ia menghilang dalam kegelapan malam. Selanjutnya kami kembali kepada formasi seperti sebelum kedatangan kakek misterius itu.
"Benar dugaanku, kan, Im? Kakek itu utusannya panitia yang bertugas mengacaukan kelompok penjelajahan!" teriak ketua kelompok.
"Iya betul, Ketua!" sahut salah satu anak.
Anak yang lain tidak memberikan reaksi apa-apa. Kemudian aku yang menjawab.
"Bagaimana kalau ucapan kakek tua tadi benar?"
"Halah! Kamu ini, Im ... Ayo, buruan kota masuk saja ke kebun jagung ini sebelum kelompok lain berhasil menyusul kita!" ujar ketua kelompok.
Ucapan ketua kelompok langsung diikuti oleh anak-anak, termasuk aku. Aku sempat melirik ke arah jam tangan yang sedang aku pakai. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Aku dan dua anggota group A yang lain pun masuk ke baris pertama pohon jagung. Entah kenapa, sejak masuk ke kebun jagung ini, perasaanku tiba-tiba merasa tidak enak. Aku teringat dengan ucapan kakek tua tadi bahwa orang dengan weton 'Legi' dilarang masuk ke kebun ini. Aku sadar sudah melanggar pesan kakek tua tadi karena aku lahir pada hari Senin Legi.
BERSAMBUNG
Terima kasih kepada Sobat Junan yang sudah mengikuti kisah SEKOLAH HANTU sampai di episode ini.
__ADS_1
Aku mau tanya, kalian ini asalnya dari daerah mana, sih? Tolong tulis nama daerah kalian di kolom komentar!