SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
episode V


__ADS_3

Selepas dari gereja,aku bersama sarah pulang bersama.Lidia berpisah dengan kami karena arah pulang yg berbeda.


Diperjalanan sarah tak biasanya menggengam tanganku.


Dia tidak pernah melakukan nya sebelumnya.


Bahkan aku tidak pernah berpikiran bercumbu dengan nya apalagi hanya sekedar berpegangan tangan.


Aku sangat menghargainya.Dan emang iyah aku belum pengalaman dalam hal itu.


Aku tidak bereaksi.Aku hanya berjalan sambil memandang kedepan.


Sarah merapatkan tubuhnya.


Wajah nya tampak pucat.


Sepertinya dia jatuh sakit.


Tpi sangat tiba tiba,mengingat dia tampak bersemangat saat ritual tadi.


“Sayang kenapa?”tanyaku peduli


“leherku panas....sakitt....”jawab sarah lemas


Sarah menyenderkan seluruh tubuhnya ketubuhku.


Aku merasa dia sangat berat.


Sarah memang memiliki tubuh lebih berisi dan lebih tinggi dariku saat itu.


Aku memapah dia yang tampak tidak dapat menopang kakinya sendiri.


“Hey...hey....Benni.........”


Aku mendengar teriakan dari belakang.


Aku menoleh dan melihat lidia berlari kearah kami sambil terengah engah.


“Sarah ben...sarah...sarah kesurupan”kata lidia terengah engah.


Seketika aku bingung.


Aku syok melihat ternyata sarah tidak ada disampingku.


“Dia dirumah, dirumah ga ada orang..tolong bantuin aku”sambung lidia


Aku tidak punya waktu untuk memikirkan siapa yang bersamaku tadi.


Aku hanya berpikir kalau sarah dalam keadaan tidak baik.


Aku bersama lidia berlari menuju rumah lidia.


Alangkah terkejut kami berdua melihat sarah sedang berusaha menggantung leher dengan dasi yang dipakainya sendiri.


Dasi itu dililitkan diatas pintu dan dia berusaha untuk mengakhiri hidupnya.


Beruntung aku dengan sigap menarik sarah hingga ia terjatuh.


Setidaknya sarah tidak sampai menggantung lehernya sendiri.


Seketika aku terperangkak menghindar menjauhi sarah.


Wajah nya bukan sarah.


Tpi tubuh dan pakaiannya jelas2 pakaian sarah.


Wajahnya pucat dan lehernya hitam lebam


Dia mencekik lehernya sendiri.


Lalu lidia menampar wajah sarah sangat kuat.


“Sadar sarah sadar.....”teriak lidia sambil menangis kencang.


Dia menampar sarah kedua kalinya hingga sarah pingsan.


Sudah 1 jam namun sarah belum sadar juga .


Aku duduk disamping sarah.


Orang tua lidia datang dan menyapa kami.


Lidia menjelaskan mengapa aku dengan sarah berada dirumah itu.


Tentu saja dia tidak akan berkata yang sebenarnya.


Aku menyuruh lidia untuk mengatakan yang sebenarnya.Ia mengangguk namun entah mengapa dia malah berbohong.


“Ting ting ting”


Lonceng gereja berbunyi menandakan pukul 3 sore.

__ADS_1


Sarah akhirnya tersadar beberapa saat setelahnya.


Dia memelukku kencang.


Beruntung orang tua lidia berada didapur,jadi dia tidak melihat kami berpelukan.


Dia menangis dan merengek rengek untuk pulang.


Tak pikir panjang aku segera meminta ijin untuk pulang ke orang tua lidia.


Lidia memperingatkanku untuk menjaganya hingga kerumah.


Terpaksa aku menggunakan angkutan umum untuk mengantarkan sarah.


Aku tidak tega melihat dia dalam keadaan lemah.


Dia hanya bersandar dipundakku sambil tertunduk.


Tak banyak kata yang keluar,Ku hanya mengantarkan dia segera kerumahnya.


Sarah tinggal dengan nenek nya.


Orang tuanya tinggal didesa yang jauh.


Aku mengantarkannya lalu aku pulang.


Sepanjang perjalanan pulang.


Aku merasa tubuhku sangat ringan.


Aku seperti sedang berlari disaat malam gelap.


Seperti perasaan yang amat lega.


Bagaimna aku bisa merasa setenang ini.


Sampai dirumah aku mengganti pakaianku dan memasak untuk kusantap sendirian.


Rumah akan kosong hingga minggu depan.


Hanya ada aku dan rasa takutku.


Setelah beres beres rumah,aku merenungi kejadian itu.


Aku sangat yakin sarah menggenggam tanganku.


“Ah sudahlah”pikirku


Pikiranku berpaling pada kepala sekolah.


Tetttt tetttt tetttt


Alarm ku berbunyi pukul 05.00


Aku sengaja bangun lebih awal.


Ini merupakan rencana tahap awal yang sempurna.


Kukenakan pakaianku lalu aku bergegas kesekolah.


Hingga disekolah,aku melihat sekeliling sekolah.


Tidak ada siswa


Hanya ada penjaga sekolah yang sedang membuka kelas kelas.


Prediksiku sangat tepat.


Meskipun kelasku sudah dibuka,aku malah berfokus kekamar mandi.


Aku menunggu hingga kamar mandi itu dibuka.


Penjaga sekolaha akhirnya menuju kamar mandi.


Aku mengikutinya dari belakang.


Dia yang menyadari ku tampak biasa saja.


Aku kira dia akan marah atau sebagainya.


Atau mungkin dia begitu agar aku tidak tampak curiga.


Dimulai mengeluarkan kuncinya dan membuka kamar mandi tersebut.


Namun dia tidak langsung pergi.


Dia masuk kedalam dan membawa bunga dari dari dalam.


Bunga itu seperti bunga yang semalam.


Dia membawanya kearah pembakaran sampah.

__ADS_1


Dia membakar bunga itu.


Aku menahan penjaga sekolah itu.


Pak pasaribu begitu sebutannya.


“Knpa dibakar pak?”tanyaku


“ga tau kau itu”jawabnya sambil berjalan


“apa ada kaitannya dengan kepala sekolah dan anak kecil”sambungku sambil  menahan badannya yang ingin berpaling


Dia tampak terkejut dan mendekap mulutku.


Mulutku didekap setengah.


Aku masih dapat bernafas dengan baik.


Tetapi aku tidak bisa berbicara.


“siapa yang ngasih tau samamu”bisik pak pasaribu


Tentu saja aku tidak dapat menjawab pertanyaan konyol itu dalam keadaan mulut dibekap


Dan dia menyadari itu.


Dia melepaskan tangannya dan membawaku kebelakang kelas.


“Dari mana kau tau?”ancam pak pasaribu.


“aku melihat kepala sekolah membawa bunga itu dan aku ..ahhh”kataku terpatah patah


“aku apa?”sambungnya dengan nada tinggi.


“aku lihat anak kecil itu berada disini dan aku ingin tau dia siapa!”jawabku memelas


“jangan konyol,anak itu udah mati”sambung pak pasaribu


“Pak tolong kasi tau saya pak,apa yang terjadi sebenarnya pak!”


Aku memohon kepada bapak pasaribu sambil menahan rasa tangisku.


Seperti terpaksa dia pun mau menceritakan kejadian dimasa lalu yang menimpa anak itu.


“iyah kukasi tau,tpi kuharap kau tau tutup mulut atau mati kau”ancam pak pasaribu


“iyah aku pasti tutup mulut”sambungku.


Dan ternyata memang benar kepala sekolah terlibat dalam hal ini.


Pak E.P(kepala sekolah)


Dulunya hanya guru pengajar honorer.


Dia hanya bergaji pas pasan.


Lalu dia menikah dengan salah satu gadis penduduk disekitar sekolah tersebut.


Lalu dia mengontrak rumah didekat sekolah itu.


Hingga akhirnya di tahun 1998,pada masa krisis ekonomi dia mengalami kesulitan keuangan yang sangat besar.


Dia tidak mampu membayar uang kontrakan dan membiayai rumah tangganya.


Terlebih dia mempunyai seorang anak yang masih kecil.


Anak itu berumur sekitar 8 tahunan.


Pihak sekolah tidak dapat menggaji para guru dan pegawainya.Lalu dia berniat untuk bekerja sampingan untuk memperoleh uang untuk kebutuhannya sehari hari.


Lalu entah benar atau tidak pak pasaribu mengatakan pak e.p(kepala sekolah)


Pergi kedukun untuk melakukan pesugihan.Sang dukun dikatakan dapat memberikan apa saja yang dia mau.


Namun tentu saja harus ada yang ditumbalkan.


Entah kesetanan apa dia rela menumbalkan anaknya untuk memperoleh kesejahtraan.


Dia mengantung anak nya sendiri dirumahnya.


Yang berarti kamar mandi tersebut dulunya adalah rumah kontrakan bapak kepala sekolah.


Entah pelebaran sekolah atau masih tanah milik sekolah.


Kira kira itu logikanya knpa kontrakan itu berubah menjadi kamar mandi sekolah.


Meski berhasil memperoleh kekayaan ,ternyata pak E.p (kepala sekolah)


Sangat menyesal atas perbuatannya.


Itu adalah alasan mengapa dia selalu membawa bunga kekamar mandi tersebut.

__ADS_1


“Lalu dikemanakan mayat anak itu?”tanyaku penasaran.


“tidak ada yang tau pasti”jawab pak pasaribu.


__ADS_2