SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 26 : MIE AYAM


__ADS_3

Darahku tiba-tiba mendesir mendengar namaku disebut seseorang, tapi batang hidungnya tidak kelihatan.


"I-i-iya, s-s-siapa?" tanyaku spontan.


"Iiiiim .... Iiiim ...," suara itu semakin keras terdengar.


Aku dan kedua tanganku semakin tegang saja. Apalagi tiba-tiba dari sisi sebelah kanan pohon beringin muncul sosok yang cukup membuat kami terkejut.


"Ealah, kamu toh, Rin?" pekikku setelah mengetahui bahwa yang datang itu adalah Arini.


"Kamu ini, Rin. Bikin kaget orang saja," cetus Bondan kesal.


"Lah, kalian kenapa sih kok pada sensi sama aku? Aku kan emang manggil-manggil Imran karena pas turun dari Angkot, aku sudah keliatan kalian ada di sini," ujar Arini membela diri.


"Ya, tapi cara kamu memanggil Imran bikin kami bertiga ketakutan, Rin," protes Bondan.


"Stop! Stop! Stop! Nggak usah diperpanjang. Gini, Rin. Tadi kami bertiga sudah kecapekan memeriksa alun-alun ini, terus Imran ini habis dimarahi Satpam yang jaga kantor Pemda. Nah, pas kamu dateng barusan itu pikiran kami lagi blank akhirnya cara kamu manggil nama Imran bikin kami merinding," tutur Indah berusaha menengahi.


"Oooo begitu. Ya sudah, aku minta maaf untuk kedua abang-abangku ini. Maaf sudah bikin kalian kaget," celoteh Arini dengan nada manja.


"Abang apaan? Kamu aja manggil nama ke kami," jawab Bondan.


"Apa mau aku panggil Kak Bondan? Kak Imran?" rayu Arini.


"Geli kupingku mendengarnya, Rin. Nggak pantes cowok secantik kamu manggil 'Kak' kepada kami," jawabku.


"Uuuuu ... masa aku dipanggil cowok cantik? Tega amat kamu, Im," rengek Arini.


"Lah, harusnya gimana?" tanyaku berpura-pura.


"Yang bener mah cewek ganteng lah," jawab Arini sambil nyengir kuda.


"Itu mah sama saja, Rin!" ujarku sambil mengucek-ucek rambut Arini yang berwarna hitam legam.


Kami berempat pun terkekeh-kekeh. Sejenak kami melupakan kegagalan misi kami untuk mendapatkan petunjuk di tempat ini. Tapi, biarlah gagal, yang penting aku sudah bisa melihat senyum di wajah Arini yang sebelumnya sempat hilang.


Baru saja membayangkan hal itu, tiba-tiba terdengar suara azan Asar dari toa masjid jami' yang begitu menggema.


"Sebaiknya kita salat dulu sekarang untuk menenangkan pikiran kita sebelum kita merundingkan rencana selanjutnya dan pulang," ajak Indah.


"Aku setuju dengan idemu, Ndah. Kepala sudah mumet habis muter-muter alun-alun. Siapa tahu habis salat Asar nanti dapat ilham," jawab Bondan.


"Maksudmu Ilham teman seangkatan kita yang tadi pagi dihukum oleh kakak-kakak OSIS?" celetuk Indah.


"Kamu mau bikin gara-gara lagi atau gimana ini, Rin?" ujar Bondan dengan nada mulai meninggi.

__ADS_1


Arini ketawa cekikikan melihat reaksi Bondan.


"Sudah! Sudah! Ayo buruan kita ke masjid supaya tidak tertinggal salat jamaah!" selaku.


"Ayo! Tapi aku nggak ikut salat. Aku mau beli mie ayam saja di depan masjid sambil nungguin kalian," jawab Arini.


"Kamu lagi halangan, Rin?" tanya Indah.


"Iya Kak Rin," jawab Arini dengan sopan pada Indah.


"Ih, sama Indah manggilnya kakak," protes Bondan.


"Iya dong. Dia ini kan emang tampilannya dewasa nggak seperti kamu, selengean banget, Ndan!" protes Arini.


"Idih, dia lagi jilat kamu, Ndah. Atau maksud kamu wajah Indah kelihatan tua gitu? Waduh parah kamu, Rin!" ujar Bondan sambil menunjuk-nunjuk ke arah Arini.


Indah mesem saja menanggapi omongan Bondan yang provokatif.


"Enggak dong, Ndan. Kak Indah ini emang anggun kok orangnya. Emangnya kamu yang ...," protes Arini


"Stop! Atau aku kawinkan saja kalian berdua ya lama-lama," teriakku mulai kesal pada sikap mereka yang semakin kekanak-kanakan.


"Awas kamu!"


Ujar Arini dan Bondan dengan nada pelan dan saling menatap. Aku langsung melangkah dengan diikuti oleh mereka bertiga. Syukurlah, mereka sudah tidak saling membalas omongan setelah itu.


"Aku beli mie dulu, Im," ujar Arini dengan nada serius.


"Oke," jawabku.


Kami bertiga meninggalkan Arini di depan masjid untuk membeli mie ayam. Kami memasuki pelataran masjid jami'. Indah berbelok ke arah kanan untuk menuju tempat berwudhu khusus perempuan, sedangkan aku dan Bondan berbelok ke arah kiri menuju tempat berwudhu khusus laki-laki.


Setelah menunaikan salat Asar secara berjamaah, kami pun berjalan ke depan masjid untuk bertemu dengan Arini. Kami melihat Arini sedang duduk santai di sebuah kursi panjang di belakang rombong bertuliskan 'Mie Ayam Pak Kumis'.


"Kenyang dah, Rin?" sapaku mengagetkan Arini yang sedang menulis sesuatu di buku catatan kecil. Arini buru-buru memasukkan buku kecil itu.


"Eh, kalian. Aku belum makan mie ayam kok," jawab Arini santai.


"Lah, mulai tadi kamu ngapain di sini?" tanya Bondan.


"Ya, aku nungguin pedagangnya di sini," jawab Arini dengan entengnya.


"Loh, emangnya pedagangnya ke mana, Rin?" tanya Indah.


"Pedagangnya lagi ngambil mie mentah soalnya kehabisan stok, Kak" jawab Arini.

__ADS_1


"Ealah, kenapa kamu nggak beli ke yang lain aja, Rin. Tuh di sana kan juga ada pedagang mie ayam juga," ucap Bondan sambil menunjuk ke arah selatan. Tepatnya di bawah pohon di pinggir jalan.


"Enggak ah. Aku sudah langganan Mie Ayam Pak Kumis. Rasanya paling enak dan dijamin halal karena yang jualan sudah haji," jawab Arini.


"Alah kamu ini manja banget, Rin. Mie ayam dimana-mana ya rasanya sama saja," protes Bondan.


"Beda lah, Ndan. Mie ayam Pak Kumis ini rasanya lengkap. Makanya paling laris," jawab Arini.


"Bedanya apa? Ada rasa kumisnya gitu?" goda Bondan.


"Ih, kamu ini ngeselin banget sih, Ndan," omel Arini.


"Ya nggak gitunya, Rin. Kita ini buru-buru banget loh. Habis salat rencananya mau diskusi dulu terus pulang biar nggak kemaleman sampai di rumah," jawab Bondan.


"Ya, kita bisa diskusi sekarang, kan? Toh nggak ada orang lain di sini?" Arini membela diri.


"Kamu ini, Rin. Selalu bikin orang-," jawab Bondan kesal.


"Benar juga kata Arini. Kita bisa diskusi di tempat ini untuk menghemat waktu," sela Indah tiba-tiba.


"Oke, ayo kita duduk semua!" perintahku pada kedua temanku.


Kami berempat pun duduk saling berhadap-hadapan menggunakan dua kursi panjang milik Pak Kumis.


"Oke teman-teman. Kita sudah keliling alun-alun, tapi belum menemukan apa-apa. Apa rencana kita selanjutnya?" Aku membuka pembicaraan.


"Gimana kalau kita periksa satu kali lagi?" ucap Bondan.


"Percuma, Ndan. Tadi kita sudah memeriksa dengan teliti," jawab Indah.


"Terus, apa yang harus kita lakukan?" tanya Bondan.


"Hm ... Gimana kalau kita-" ucap Indah.


"Kita apa, Ndah?" tanyaku.


Indah yang sedang duduk berjajar dengan Arini tiba-tiba mendongak. Mulutnya tercekat.


"Kita ngapain, Ndah?" tanyaku sambil mencolek tangan teman cewekku itu.


Indah tetap tak bergeming. Malah sekarang ia melotot dan menatap ke arah belakang kami.


BERSAMBUNG


Slow but sure, Kawan.

__ADS_1


__ADS_2