SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 91 : GODAAN


__ADS_3

Tubuhku benar-benar menghangat waktu itu seolah-olah aliran darah di tubuhku menjadi sangat lancar. Sementara di depanku Nyi Sukma sedang duduk sambil tersenyum manis ke arahku.


"Bagaimana minumannya?" tanya perempuan itu sambil mempermanis senyumannya.


"Minumannya enak sekali, Nyi Sukma," jawabku diikuti oleh kelima temanku.


Aku menoleh ke arah kiri. Aku terkejut karena Dinda sedang tertidur di sana.


"Din, kamu kenapa?" teriakku sambil berusaha mendekati temanku itu.


"Jangan! Biarkan ia tertidur. Ia tidak apa-apa. Ia hanya kelelahan saja. Sekarang, saya ingin menunjukkan kalian sesuatu," cegah Nyi Sukma.


Nyi Sukma lantas berdiri dengan anggunnya. Tubuhnya yang ramping tampak sempurna saat itu. Ia merentangkan kedua tangannya ke samping seraya berkata.


"Kamu tidak ingin menggandeng lengan saya, Im?" ucapnya sambil melirik ke arahku.


Entah kenapa saat ini aku menurut saja dengan ucapan perempuan cantik ini. Aku menggandeng lengannya dan melangkah bersama menuju ke suatu ruangan. Sedangkan keempat teman laki-lakiku berjalan di belakang kami meninggalkan Dinda yang tidur terlelap di kursi.


"Kita mau ke mana, Nyi Sukma?" tanyaku penasaran.


"Kita akan ke kamar pribadi saya," jawab Nyi Sukma dengan kenesnya.


"Apa?" pekikku.


"Tidak usah kaget. Tidak akan terjadi apa-apa, kok," jawabnya.


Dalam kebingungan akhirnya kami pun sampai di kamar Nyi Sukma yang ternyata sangat luas dan lebih indah dari ruang tamunya. Aku dan keempat temanku mematung di depan kamar Nyi Sukma saat perempuan itu melepas selendang dan bagian luar pakaiannya sembari melangkah ke atas ranjang yang terlihat empuk sekali.


Kami berlima tak berkedip menatap keindahan duniawi di hadapan kami. Aku berusaha untuk menghindari bertatapan langsung dengan mata perempuan itu, tapi entah kenapa desiran darah di tubuhku seperti mengajak mataku untuk terus terpesona dengan kecantikan Nyi Sukma.

__ADS_1


"Im ... kemarilah sejenak ...," ucap Nyi Sukma dengan nada lembut.


"Ti-tiiidak, Nyi ...," jawabku pelan.


"Saya akan membisikkan letak pintu rahasia yang kalian cari itu," jawab Nyi Sukma dengan lembut.


"Katakan saja di mana letaknya, Nyi ...," balasku.


"Saya hanya menawarkan, Im. Kalau kamu tidak mau, ya sudah ...," jawab Nyi Sukma dengan tetap tersenyum.


"Ya ... Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus menuruti keinginan perempuan di depanku ini," ucapku di dalam hati.


"Kemarilah, Im ...," ucap Nyi Sukma lagi.


Aku pun melangkah secara perlahan mendekati Nyi Sukma yang sedang duduk di atas kasur busa yang sangat tebal. Aku terus mengatur napasku agar bisa mengendalikan hawa negatif dalam diriku. Kali ini aku sudah berada tepat di hadapan Nyi Sukma.


"Di mana lokasi pintu rahasia itu, Nyi?" tanyaku kembali.


"Apa yang akan kamu lakukan, Nyi?" berontakku.


"Saya hanya ingin berbisik di telingamu, Im," kekehnya.


Aku pun pasrah ketika mulut perempuan itu semakin dekat dengan telingaku. Wangi parfum mahal tercium di hidungku menambah kehangatan di dadaku. Kali ini posisi tubuhku agak membungkuk karena ditarik oleh Nyi Sukma.


"Pintu rahasia itu ada di kamar ini, Im ...," bisik Nyi Sukma di telingaku.


Mataku membelalak karena terkejut dengan ucapan perempuan itu.


"Di sebelah mana, Nyi?" Aku bertanya lagi.

__ADS_1


"Pintunya ada di .... di ...," ucap Nyi Sukma terbata-bata. Aku menunggu kelanjutan ucapannya, tapi bukannya melanjutkan omongannya, kali ini ia malah melakukan sesuatu di luar dugaanku. Ia tiba-tiba menarik tubuhku ke arahnya sehingga aku yang tidak dalam posisi seimbang jatuh terjerembap di atas tubuhnya.


"Apa yang kamu lakukan, Nyi?" protesku.


Nyi Sukma tidak menghiraukan ucapanku, ia malah semakin lancang merangkulku dan menyodorkan auratnya kepadaku. Darahku semakin mendesir hebat saat itu. Fisikku ingin memberontak atas apa yang dilakukan oleh perempuan ini, tapi desiran darah di tubuhku itu semakin merajalela saja, sehingga aku harus bersusah payah melawan hasratku. Nyi Sukma terus berusaha melancarkan aksinya untuk mempengaruhiku. Saat itu aku benar-benar ingin berteriak dengan kuat karena tak kuasa menahan hasratku sendiri. Nyi Sukma menyadari bahwa sebentar lagi aku akan jatuh ke pelukannya. Kemudian ia berkata,


"Pintu rahasianya adalah cermin besar itu, Im. Silakan kalau kamu mau pergi dari sini atau kamu ingin bersenang-senang dulu dengan saya ...," ucap Nyi Sukma dengan tersenyum.


Saat itu aku benar-benar sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh perempuan itu. Namun, tiba-tiba terdengar teriakan seseorang dari kuar rumah Nyi Sukma.


"Jangan, Nyi Sukma. Imran itu milikku ...," suara perempuan dari luar rumah.


"Bukankah itu suara Nyi Hanum?" pikirku di dalam hati.


Nyi Sukma awalnya tidak memperdulikan suara itu. Ia terus saja melancarkan aksinya untuk memperdayaiku, tapi suara teriakan itu semakin memancing emosi Nyi Sukma.


"Jangan, Nyi ... Imran itu hanya millikku ...," teriak Nyi Hanum lagi.


Nyi Sukma marah, ia bangkit dari tempat tidur dan meninggalkanku dengan ekspresi wajah penuh emosi. Pada saat itu aku menemukan kesadaranku kembali, aku menyuruh teman-temanku untuk melompat ke dalam cermin di kamar itu. Mula-Mula mereka ragu melakukannya, tapi Roni yang berani mencobanya pertama kali dan benar saja ia pun menghilang. Setelah itu Andre pun mengikuti jejak Roni, ia pun menghilang dari tempat itu. Sekarang giliran Ikbal yang melompat dan ia pun lenyap begitu saja. Tersisa Faisal dan aku, Faisal kusuruh melompat dan ia pun menghilang. Sementara di luar rumah terjadi kegaduhan, sepertinya Nyi Sukma sedang bertarung dengan Nyi Hanum. Aku tidak menyia-nyiakan waktu untuk bersiap melompat, tapi aku teringat dengan Dinda yang masih terlelap di ruang tamu. Aku pun berlari ke ruang tamu. Aku berusaha mengangkat tubuh Dinda meskipun agak kesulitan. Aku terus melangkah dengan perlahan hingga akhirnya kami berdua sampai di kamar Nyi Sukma.


Entah kenapa suara di luar sudah tidak ada lagi. Apakah salah satu dari mereka sudah ada yang kalah. Aku tidak ambil pusing, dengan segera kulempar tubuh Indah ke dalam cermin dan ia pun menghilang. Kini tersisa aku sendirian di dalam kamar Nyi Sukma. Aku teringat kembali dengan apa yang beberapa waktu lalu Nyi Sukma lakukan terhadapku.


"Ya Tuhan ... aku harus cepat-cepat pergi dari sini sebelum siluman itu kembali dan ia akan memperdayaiku kembali," ucapku di dalam hati.


KRIEEEEET!!!


Terdengar suara pintu dibuka, rupanya Nyi Sukma sudah kembali ke dalam rumah.


"Imraaaaan ... kamu masih di sana, kan?" teriak Nyi Sukma dengan ganjennya.

__ADS_1


Aku bergidik ngeri membayangkan apa yang akan ia lakukan terhadapku. Dengan mengucap bismillah aku pun melompat ke dalam cermin tepat saat perempuan itu masuk ke dalam kamar.


BERSAMBUNG


__ADS_2