SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 57 PENCARIAN


__ADS_3

Setelah mendengar informasi dari Arini, kami bertiga kemudian menyampaikan semua keterangan dari Kakek Sugik dan juga isi buku karyawan yang kami temukan. Arini terperangah setelah mendengar keterangan dari Kakek Sugik. Menurut penilaian kami, meskipun keterangan dari keduanya ada kemiripan, akan tetapi ada beberapa hal yang agak berbeda.


"Dari bukti-bukti yang sudah kita kumpulkan, sepertinya kita masih belum bisa menyimpulkan siapa sebenarnya pelaku pembunuhan Pak Misnanto? Semua memiliki potensi untuk melakukannya. Pak Rudi memiliki kemungkinan melakukan pembunuhan itu, meskipun motifnya belum kita ketahui. Pak Marzuki juga memiliki alasan kuat membunuh Pak Misnanto apabila ceritanya terhadap Arini hanya dibuat-buat saja," ucapku mengawali kesimpulan.


"Iya, benar, Im. Kita masih memerlukan bukti lain yang jelas-jelas memperkuat bukti-bukti yang kita miliki," jawab Indah.


"Aku setuju dengan kalian berdua. Malah, aku berpikir kematian kedua orang tua Pak Marzuki bisa saja ada kaitannya dengan kematian Pak Misnanto," ujar Arini.


"Bisa jadi kematian ayahmu juga, Rin," ucap Bondan.


Kami berempat saling memandang dengan penuh kebingungan.


"Sungguh kasus yang sangat membingungkan. Pelakunya benar-benar cerdik dalam melakukannya. Kenyataannya, kasus ini sudah tertutup selama bertahun-tahun," ucapku.


"Tapi, kita tidak boleh menyerah. Kita harus dapat mengungkap kasus ini sampai selesai," ucap Indah.


"Sekarang, kita musti ngapain?" tanya Arini.


"Entahlah, aku tidak punya ide sama sekali," jawab Indah.


"Bagaimana denganmu, Im? Apa kamu punya rencana?" tanya Bondan kepadaku.


"Aku ada rencana. Malahan aku sudah merencanakan ini sejak lama," jawabku enteng.


"Oh ya, Im? Apa rencanamu?" tanya Indah tak sabar.


"Kita akan pergi ke lantai dua lagi," jawabku


"Apa? Aku tidak salah dengar, kan?" tanya Bondan.


"Tidak, Ndan. Kamu tidak salah dengar. Kita harus masuk ke ruangan itu. Aku yakin di dalam ruangan itu masih banyak barang bukti yang disembunyikan oleh si pembunuh," jawabku tegas.


"Tapi, Im. Bukankah kamu sendiri tadi yang bilang bahwa kamu dan Bu Iis dikejar-kejar hantu Satpam ketika masuk ke sana?" tanya Indah.


"Apa kamu ada cara lain lagi, Ndah? Kita tidak akan bisa mengghindari hantu Satpam itu lagi. Kita harus menghadapinya agar bisa mengungkap misteri ini," jawabku.


"Oke ... benar juga pendapatmu. Untuk mengungkap kasus ini, kita memang harus berani melawan risiko bertemu hantu Satpam. Tapi, bagaimana cara kota bisa masuk ke ruangan itu? Bukankah ruangannya selalu dikunci rapat?" tanya Indah lagi.


"Iya, Im. Bagaimana cara masuk ke sana?" tanya Bondan.


"Tenang, Ndah ... Ndan ... Aku kan sudah bilang ke kalian barusan. Sejak awal aku memang sudah merencanakan untuk bisa masuk ke ruangan itu. Makanya ketika aku berkesempatan memegang kunci asli ruangan itu, aku sudah membuat duplikasinya," jawabku.

__ADS_1


"Maksud kamu bagaimana, Im? Apa kamu sempat pergi ke tukang kunci ketika memegang kunci ruangan itu?" tanya Bondan.


"Ha ha ha ... lucu kamu, Ndan? Aku hanya memegang kunci itu selama beberapa menit saja, tidak mungkin aku sempat untuk membawanya ke tukang kunci. Pasti hal itu akan ketahuan oleh Bu Iis," jawabku terkekeh.


"Lantas, dari mana kamu mendapatkan kunci duplikatnya kalau kamu tidak membawanya ke tukang kunci?" tanya Bondan.


"Apa kamu membuat duplikasinya di sabun mandi, Im?" tanya Indah sambil menatap mataku dengan tajam.


Aku tersenyum renyah pada Indah. Arini dan Bondan menatap mata Indah dan mataku secara bergantian.


"Iya, Ndah. Aku memang membuat duplikasinya dengan menggunakan sabun. Saat Bu Iis lengah, aku menekan anak kunci ke sabun mandi," jawabku kagum dengan kemampuan analisis anak perempuan itu.


"Ayo, buruan kita pergi ke tukang kunci, Im Sebelum bekas tekanan anak kunci itu rusak atau meleleh!" ujar Indah.


"Ayo, teman-teman kita berangkat mencari tukang kunci di sekitar sini!" ajakku.


"Sepertinya di sini tidak ada tukang kunci, Im. Kalau di dekat lokasi kecelakaan kedua orang tua Pak Kumis sepertinya ada," jawab Arini.


"Oke, kita langsung berangkat ke sana sekarang!" ajakku.


"Oke!" jawab ketiga temanku.


Kami berempat pun meninggalkan musala indah itu dan bermaksud menghentikan Angkot untuk mengantar kami berempat tempat tukang kunci.


TIN ... TIN ...


"Im, mau ke mana?" suara seseorang dari balik kemudi sebuah mobil box.


Kami berempat pun menoleh ke arah orang yang berteriak itu.


"Loh, Paklik ...," sahutku kaget.


"Iya, Im. Kamu mau ke mana?" tanya Paklik sambil memarkir mobil box-nya ke pinggir jalan.


Paklik kemudian turun dari atas mobil dan berjalan ke arah kami yang sedang berdiri menunggu Angkot di pinggir jalan.


"Ini, Paklik. Kami mau ke tempat tukang kunci," jawabku.


"Tukang kunci di dekat jembatan itu, kan? Kalian mau naik apa ke sana?" tanya Paklik.


"Iya, Paklik. Rencananya kami mau naik Angkot," jawabku.

__ADS_1


"Hm ... Berarti kalian akan mengeluarkan ongkos dua kali dong sama ongkos pulang?" tanya Paklik.


"Iya, Paklik," jawabku.


"Gimana kalau kalian ikut mobil box saya?" tanya Paklik.


Aku menoleh ke teman-temanku.


"Apa nggak ditilang polisi nantinya? Mobil box kan tidak boleh mengangkut orang?" tanyaku.


"Yang nggak boleh itu mengangkut istri orang, Im. He he he ... Tenang, kamu dan temanmu yang besar ini naik di belakang. Pengap-Pengap dikit nggak apa-apa, kan? Biar adik dua orang ini naik di depan, gimana? Mumpun saya juga mau lewat sana. Paling lima menit sudah sampai di sana, kok," jawab Paklik kalem.


"Hem ... gimana, Ndan? Kalau aku sih oke-oke saja. Itung-Itung penghematan juga, kan?" ujarku.


"Aku juga nggak apa-apa, kok, Im. Gimana dengan kalian?" tanya Bondan kepada Arini dan Indah.


"Kayaknya tawaran Paklikmu ini oke juga, Im," jawab Arini.


"Kamu nggak apa-apa, Ndah?" tanyaku pada Indah.


"Aku ngikut saja, Im. Lebih cepat lebih baik. Takutnya kalau nunggu Angkot keburu malam," jawab Indah.


"Oke deh, ayo kita berangkat sekarang!" teriakku.


Kami berempat pun naik ke mobil Paklikku. Aku dan Bondan bersembunyi di bagian belakang mobil. Meskipun mobil box ini ditutup dengan rapat ternyata udaranya tidak sepengap yang aku bayangkan.


"Tenang, Im. Dalamnya nggak pengap-pengap amat, kok. Karena box-nya sudah didesain khusus bisa membawa paketan antar kota. Paketnya juga butuh udara kering jadi boxnya dibuat memiliki sirkulasi udara yang bagus," ujar Paklik sebelum menutup pintu belakang.


Di dalam mobil aku dan Bondan masih berdiskusi tentang misteri kematian Pak Misnanto. Sayup-Sayup aku mendengar suara tawa Arini di bagian depan mobil. Tidak biasanya Arini bisa tertawa sekeras itu. Pasti itu akibat tingkah pamanku yang paling jago membuat candaan.


"Paklik ... Paklik ... seandaianya anakmu tidak diculik temanmu sendiri, pasti anakmu sudah sebesar Arini sekarang ...," ucapku di dalam pikiran.


BERSAMBUNG


Hai, Sobat Junan.


Kira-Kira kalian yang baca bab ini ada yang bingung dengan sosok Paklik? Kalau, iya, silakan baca novel KAMPUNG HANTU supaya kalian tidak bingung lagi.


Terus berikan dukungan like, komentar, dan vote kalian agar aku semakin rutin update-nya. Okay?????


Salam kangen dari Author ...

__ADS_1


Bye Bye ...


__ADS_2