
Kami berdua benar-benar terkejut saat mengetahui bahwa pria yang naik ke dalam Angkot ternyata adalah arwah Pak Satpam. Tangan dan mukanya pucat sekali, matanya hanya kelihatan putih-putihnya saja, sedangkan darah memenuhi mukanya, sebagian juga membasahi seragam yang ia kenakan.
"Allaahuakbar!!!!!!" teriak kami berdua secara spontan.
Posisi kami berdua yang duduk berhadapan di kursi paling belakang, sedangkan arwah tersebut duduk di dekat pintu, membuat kami berdua benar-benar ketakutan dan tidak bisa keluar dari dalam Angkot karena untuk keluar harus melalui arwah tersebut.
"Gimana ini, Im? Kita nggak bisa ke mana-mana sekarang," pekik Arini sambil merapat ke posisiku duduk.
"Tenang dulu, Rin. Kita baca doa saja dulu. Kalau hantu itu menyerang kita, barulah kita akan melawannya mati-matian," jawabku berusaha menenangkan teman perempuanku itu.
"Oke, Im ... bismillahirrohmanirrohiiiim ...," Arini dan aku pun komat-kamit membaca doa untuk mengusir makhluk halus itu. Kami sengaja membacanya dengan keras agar didengar oleh hantu itu.
Arini memegang erat tanganku dan semakin merapatkan tubuhnya denganku. Aku sebenarnya cukup risih, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku harus melindungi Arini dari gangguan dan potensi serangan hantu tersebut.
Arini tak berani menoleh ke arah hantu itu karena semakin dibacakan ayat-ayat suci, bentuk fisik hantu tersebut semakin seram saja. Tingkat kepucatan wajahnya semakin meningkat, darah di wajahnya juga semakin membanjir, bahkan kali ini tatapan hantu Satpam tersebut semakin tajam dengan warna bola mata yang kemerahan. Aku yang laki-laki saja merasa sangat ngeri dengan penampilan sosoknya yang semakin menyeramkan, apalagi perempuan seperti Arini.
Aku semakin memperkeras bacaan doa diikuti oleh Arini yang kini semakin ketakutan. Tubuh kami gemetaran saat itu dan Arini pun sampai menangis di dalam dekapanku.
Tiba-Tiba ...
"Hei, lepas-lepas! Ditinggal buang air sebentar malah pacaran di dalam Angkot," teriak seseorang yang tiba-tiba muncul di kabin depan.
Pandanganku kembali beralih ke kursi kayu panjang di dekat pintu. Ternyata, sosok hantu Satpam barusan sudah tidak ada di sana lagi. Aku pun melepas dekapanku pada tubuh Arini.
"Ma-af, Pak! Semua ini tidak seperti yang Bapak bayangkan. Barusan di kursi kayu ini ada hantu" jawabku kepada Pak Sopir.
"APA? Kamu ini ngeles saja. Jangan kamu pikir saya ini bisa kamu bodohi, ya! Kalian ini masih terlalu kecil untuk pacar-pacaran. Apa perlu saya laporkan perbuatan kalian ini kepada orang tua kalian?" bentak sopir itu lagi.
"Tidak, Pak. Teman saya ini tidak berbohong, Pak. Dia ini teman saya bukan pacar saya. Saya berani bersumpah, barusan saya melihat hantu di kursi ini pada saat Bapak pergi buang air," ujar Arini membela diri.
"Sudah, saya tidak mau mendengar pembelaan kalian lagi. Kalau kalian masih ingin saya antar ke tujuan, tolong duduknya berpencar. Kalau tidak, saya turunkan kalian berdua di sini. Saya tidak sudi Angkot saya dijadikan tempat berbuat mesum!" ujar pria itu lagi dengan nada masih cukup tinggi menunjukkan rasa emosinya.
"Oke, kami duduk berpencar sekarang! Tolong cepat antar kami berdua pulang!" jawabku dengan nada merendah untuk menghindari perdebatan dengan pria tersebut.
"Im!" protes Arini.
"Sudahlah, Rin. Kita turuti saja kemauannya. Toh, tidak ada untungnya berdebat dengannya. Dia sudah terlanjur suuzon kepada kita. Kita mengalah saja. Yang penting kita segera sampai di rumah," jawabku meredakan emosi Arini.
__ADS_1
Arini pun mengerti dengan langkah yang aku ambil. Pak Sopir mulai menyalakan mobil yang ia kemudikan. Mesin pun menyala dan ia pun menginjak gas. Sayangnya, mobil tidak bisa bergerak maju seperti terhalang sesuatu. Sopir pun kebingungan.
"Kenapa, Pak?" tanyaku pada sopir tersebut.
"Sepertinya ada batu yang mengganjal di depan salah satu ban," jawabnya.
"Bapak mau ke mana?" tanyaku pada sopir karena melihat ia membuka pintu.
"Ya turun lah, untung menyingkirkan batunya," jawab Pak Sopir.
Sopir itu pun keluar dari mobil dan menunduk untuk memeriksa keempat roda mobil. Setelah itu kepala Pak Sopir nongol lagi.
"Gimana, Pak?" tanyaku dari dalam mobil.
"Iya benar. Ada batu yang mengganjal salah satu roda belakang," jawab Pak Sopir.
"Apa perlu saya bantu, Pak?" tanyaku pada pria tersebut.
"Enggak usah. Saya bisa melakukannya sendiri
"Iya, Pak," jawabku mengalah.
Pak Sopir pun terlihat menunduk lagi. Tapi, kali ini kami berdua terkejut karena ketika Pak Sopir menunduk, di belakangnya muncul sosok hantu Satpam itu lagi.
"*-*-*-tidaaaaaak!!!!"
" P-p-paaaaaak i-i-ituuuu ...,"
Aku dan Arini berusaha memberitahu Pak Sopir bahwa ada hantu di belakangnya, tapi entah kenapa suara kami tercekat di tenggorokan. Justeru, kami mendengar Pak Sopir sedang berbincang dengan hantu itu.
"Nah, gitu dong bantuin. Jangan pacaran saja. Tapi ini bukan sogokan loh, ya? Saya paling tidak suka melihat masih SMA sudah berani peluk-pelukan. Ntar kalau sampai hamil kasian orang tua kalian jadi malu akibat ulah anaknya yang tidak mau bertanggung jawab," suara omelan Pak Sopir seolah-olah sedang berbicara denganku.
Aku berusaha untuk menggerakkan kakiku untuk turun ke bawah agar bisa memberitahu Pak Sopir, tapi entah mengapa aku kehilangan tenagaku, begitu juga Arini.
"Gini ini, Dik, kalau kerja jadi sopir. Ada saja penghalangnya. Makanya, kamu sekolah yang bener, biar nanti bisa punya pekerjaan yang jauh lebih baik," suara yang terdengar dari luar mobil.
"Alhamdulillah ... akhirnya batunya sudah berhasil dipindahkan. Ayo masuk lagi ke dalam," suara Pak Sopir dari bawah mobil.
__ADS_1
"Maafkan saya tadi emosi sama kalian berdua, ya!" ucap Pak Sopir itu lagi.
Beberapa waktu kemudian, Pak Sopir sudah keluar dari bawah mobil dan masih belum menyadari bahwa yang sedang membantunya bukan aku melainkan hantu Satpam.
"Yuk, kita berang-" ucap Pak Sopir sambil menoleh ke arahku.
"Loh!" Pak Sopir melihat ke arahku dan ke arah bawah.
Pada saat itu aku menemukan kekuatanku kembali.
"Kamu kok ada di dalam? Terus yang di bawah ini siapa?" tanya Pak Sopir terbata-bata.
"Yang di bawah itu h-h-haaaantuuu, Pak!" jawabku.
Pak Sopir kembali menengok ke bawah. Tepat di kakinya sedang nongol kepala hantu Satpam itu.
"Haaan ... haaaaan ... haaaantuuuuuu!!!!!" teriak Pak Sopir sambil buru-buru lari ke arah kemudi.
"Buruan, Pak!" teriak Arini.
Aku melihat hantu Satpam itu kembali berdiri dan berjalan menuju ke posisi Pak Sopir. Pak Sopir terus menstarter mobilnya yang tidak segera menyala. Beberapa kali Pak Sopir menekan tombol starter tapi mesin belum menyala. Tangannya gemetar, sementara hantu Satpam kali ini sudah berdiri tepat di samping Pak Sopir dan tangannya berusaha menggapai bahu Pak Sopir yang kebingungan.
BERSAMBUNG
Beli jamu di simpang empat
Sudahkah kamu menutup pintu dan jendela rapat-rapat?
Jangan lupa baca karyaku yang lain :
KAMPUNG HANTU
MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
__ADS_1