
Aku mengerahkan segenap tenagaku agar bisa segera keluar dari lorong itu. Tapi, sekuat apapun usaha yang aku lakukan. Aku seolah-olah kembali ke tempat yang sama. Sampai akhirnya muncul ide di dalam benakku untuk lari ke arah yang berlawanan, yaitu ke arah aku masuk tadi. Baru saja pikiran itu muncul, tiba-tiba aku mendengar ada suara desauan dari arah belakangku.
Arrrrrrggggh!!!!
Suara itu membuat bulu kudukku merinding seketika. Semakin lama, suara desauan itu semakin dekat saja. Karena takut, aku pun memilih untuk kembali berlari. Kali ini aku mengerahkan sisa tenaga yang masih tersisa untuk menghindari kejaran makhluk misterius di belakangku. Aku menjadi ngos-ngosan karena berlari tanpa henti. Rasa takut yang mendera membuatku masih kuat untuk terus berlari. Ternyata usahaku membuahkan hasil, kali ini aku sudah tidak berlari menabrak rumput. Di sekitarku juga sudah tidak ada pohon jagung, dan suara desauan di belakangku audah tidak terdengar lagi.
"Alhamdulillah ... Akhirnya aku sudah berhasil keluar dari kebun jagung. Suara menyeramkan itu sudah tidak terdengar lagi. Tapi ... kenapa aku tidak berada di tengah sawah? Kenapa aku berada di tengah hutan? Di kiri dan kananku dikelilingi pohon-pohon jati yang tinggi? Ada di mana aku sekarang? Apakah ini adalah ujung lorong kebun jagung itu? Kalau memang iya, ke mana teman-temanku, kok tidak ada?" Aku merasakan kebingungan dengan apa yang aku lihat sekarang.
Karena kecapekan dan tak kuat lagi, aku pun secara perlahan mengurangi kecepatan lariku sehingga berhenti.
Aku menarik napas dalam-dalam sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa makhluk misterius tadi tidak mengejarku lagi. Karena kelelahan aku pun menyandarkan punggungku di salah satu pohon jati. Hampir saja aku memejamkan mata, namun ada suara yang seperti berbisik di telingaku.
"Jangan tidur, Imran!" itulah suara yang lamat-lamat teak rdengar di telingaku.
Aku pun memeriksa kondisi di sekitarku. Tidak ada siapa-siapa. Yang ada hanya deretan pohon jati yang kokoh dan sangat seragam. Mustahil sekali ada hutan dengan pohon jatinya yang sama persis seperti yang kulihat sekarang ini. Aku curiga aku tidak sedang berada di dunia manusia, melainkan berada di dunia jin seperti waktu itu.
Setelah aku berhasil memulihkan tenagaku, aku berencana untuk mencari jalan keluar dari hutan ini. Aku bangkit dari duduk kemudian aku pun berjalan searah dengan arah jalanku tadi. Kali ini aku lebih memilih untuk berjalan saja, tidak berlari seperti tadi.
Aku melangkah selama beberapa meter saja, tiba-tiba aku mendengar suara putara roda dari arah belakangku. Aku pun mengambil inisiatif untuk bersembunyi di salah satu pohon sambil mengintip ke arah jalan.
Krieeeeet ... Kriieeeeeet ...
Ternyata itu adalah suara pedati yang ditarik oleh seekor kuda berwarna coklat. Warna pedati itu didominasi oleh warna emas. Hanya di bagian-bagian tertentu berwarna lain.
"Oh tidak! Ternyata pedati itu dikendalikan langsung oleh seorang perempuan cantik dengan pakaian khas adat jawa. Perempuan itu menggunakan sanggul yang serasi dengan bentuk wajahnya yang bulat, sedangkan kebaya dan jariknya sangat pas di tubuhnya yang mungil dan berkulit cerah," Aku berkata di dalam hati.
Aku pikir perempuan itu tidak mengetahui keberadaanku di balik pohon ini. Tapi, ternyata aku salah. Ia menghentikan laju pedatinya dan menoleh ke arahku.
"Cah Bagus ... Kamu yang tersesat di kebun jagung, kan? Ayo, ikut saya kalau ingin keluar dari tempat ini!" teriak perempuan itu dengan suara yang sangat merdu.
__ADS_1
DEG!
Jantungku mendadak berdetak dengan kencang tatkala perempuan itu mengetahui keberadaanku. Aku tidak bisa mengelak lagi kali ini.
"K-K-Kamu s-siapa?" tanyaku gelagapan dengan suara yang tidak optimal.
"Nggak usah takut sama saya, Cah Bagus. Panggil saya Nyi Hanum. Saya yang berkuasa di tempat ini. Kemarilah ikut dengan saya kalau Cah Bagus ingin keluar dari tempat ini!" ujar perempuan cantik itu sambil menyungging senyumnya yang sangat manis.
begitu"T-tapi ...," jawabku terbata-bata.
"Saya tidak bisa menunggu lama, Cah Bagus. Tapi, saya bisa pastikan hanya saya yang bisa membawamu kembali ke teman-temanmu," jawab Nyi Hanum sambil melempar senyumannya yang sangat manis.
"I-i-ya, Nyi. Saya ikut sampean. Tapi, beneran ya, saya diantar pulang? Soalnya saya tidak tahu daerah sini," jawabku berusaha sopan meskipun sebenarnya aku curiga Nyi Hanum ini bukanlah manusia biasa sepertiku.
"Ehem ... naiklah!," sahut Nyi Hanum sambil memperhatikanku mendekat ke arah pedatinya.
Akhirnya aku bisa mengamati pedati tersebut dari jarak dekat. Di bagian belakang pedati tersebut terdapat sebuah payon dengan hiasan renda berwarna emas dan terdapat butir-butir seperti mutiara di pinggirannya dan juga di beberapa bagian yang lain menambah kemewahan pedati tersebut.
"Kamu mau ke mana, Cah Bagus? Naik lewat depan saja dan duduk bersamaku di sini!" ajak Nyi Hanum dengan suara lembut.
"Saya naik di belakang saja, Nyi Hanum. Saya terbiasa naik di belakang, Nyi," jawabku sopan.
"Apa saya kurang cantik, Cah Bagus? Sampai kamu tidak mau duduk di samping saya. Kemarilah, nanti saya ajari cara mengendalikan kudanya!" tutur Nyi Hanum sambil menoleh ke arahku.
"Ti-tidak, Nyi. Nyi Hanum cantik, kok. Bahkan sangat cantik. Saya takut sama kudanya, Nyi," jawabku jujur.
Aku memang tidak pernah mau duduk di bagian depan kalau naik pedati. Dulu, waktu naik pedati bersama bapakku, saisnya pernah menawarkanku untuk duduk di depan. Pada saat itu aku bersedia karena penasaran. Tapi, ternyata duduk di depan aku melihat pemandangan yang tidak enak, yaitu aku melihat kudanya buang air besar dan jatuh ke wadah yang ditaruh di ************ kuda tersebut. Waktu itu saya merasa jijik karena wadahnya itu kurang terawat. Sejak saat itu aku tidak mau naik di depan kalau diajak bapakku naik pedati. Selain pemandangannya yang kurang elok, baunya juga lumayan menusuk hidung. Meskipun pedati milik Nyi Hanum ini terlihat bersih dan beraroma wangi, tak mampu menghilangkan trauma masa kecilku itu.
"Cemen banget kamu, Im. Masa sama bau kotoran kuda saja jijik?" ejek Parto waktu aku cerita padanya.
__ADS_1
"Mungkin bukan karena bau kotoran kudanya semata, To, yang membuat aku trauma? Wadah kotorannya yang jarang dicuci bersih itu yang membuat aku nggak tahan. Buktinya, kalau bantuin kamu membersihkan kandang kambingmu aku kuat, kan? Soalnya kandang kambingmu rutin dibersihkan," protesku waktu itu.
"Kuda saya ini tidak sembarang buang kotoran loh, Cah Bagus! Jadi kamu nggak perlu takut dengan baunya," cetus Nyi Hanum seperti mengerti apa yang aku pikirkan.
"Tidak, Nyi. Saya di belakang saja," jawabku sopan.
"Tak saya sangka. Ternyata kamu keras kepala juga, Cah Bagus. Tapi saya suka itu. Saya jadi ingat sama ...," ujar Nyi Hanum kemudian.
"Sama siapa, Nyi?" tanyaku penasaran.
"Ah, sudahlah. Kamu tidak akan mengenalnya. Akmu sudah siap, Cah Bagus?" ujar Nyi Hanum sambil mengangkat tangannya yang ramping.
"Siap, Nyi," jawabku sopan.
"Pegangan yang kuat, Cah Bagus! Hiaaaaaa!" teriak Nyi Hanum sambil menarik tali di tangannya.
Tubuhku tersentak ke belakang pada saat pedati itu tiba-tiba berjalan. Aku secara refleks memegang kursi yang terbuat dari logam di bawah payon tersebut. Ada sesuatu yang aneh yang kurasakan saat memegang kursi tersebut.
BERSAMBUNG
Kira-Kira siapa ya Nyi Hanum itu?
Pasti Sobat Junan penasaran, kan?
Dia baik apa jahat ya?
Apa yang akan dilakukan Nyi Hanum terhadap Imran? Apa benar Nyi Hanum akan membantu Imran keluar dari tempat itu?
Berikan vote, like, dan komentar terbaikmu agar aku bisa semangat untuk crazy up.....
__ADS_1
Minat novel cetak KAMPUNG HANTU? wa 085236533388 langsung