
Temanku Arini menceritakan secara detil kepada Pak Marzuki perihal orang yang telah dengan sengaja merusak lem mobil yang dikendarai oleh kedua orang tua Pak Marzuki. Selama mendengar cerita tersebut, Pak Marzuki tak henti-hentinya meneteskan air mata. Wajahnya yang bertekstur tegas mendadak menjadi melankolis saat itu. Kami yang melihat betapa sedihnya Pak Marzuki saat itu pun turut terharu.
"Anak-Anak, terima kasih atas informasi yang sudah kalian sampaikan kepada saya. Maukah kalian membantu saya untuk melaporkan hal ini ke kantor polisi?" ujar Pak Marzuki sambil mengelap air mata di wajahnya dengan menggunakan bagian bawah bajunya.
"Kami semua akan membantu Pak Marzuki dengan senang hati," jawabku.
"Terima kasih banyak, ya?" ujar Pak Marzuki lagi.
"Saya mau menutup warung ini dulu dan meletakkan rombongnya di rumah," ujar Pak Marzuki.
"Oke. Biarkan kami membantu, Pak," jawab Bondan.
"Waduh, kok malah ngerepotin kalian?" ujar Pak Marzuki.
"Oh, tidak, kok," jawab Bondan.
Kami bertiga pun membantu Pak Marzuki beres-beres dagangannya.
"Gimana dengan sisa mienya, Pak?" Aku bertanya.
"Tidak apa-apa, kok. Mienya tahan sampai besok," jawab Pak Marzuki.
"Pak, mohon maaf saya tidak bisa ikut mendorong gerobaknya sampai ke rumah bapak soalnya aku ada kepentingan. Nanti, aku langsung menunggu di halte saja," ujarku karena aku ingat harus mengabari Indah supaya dia pulang duluan saja karena takutnya nanti Pak Marzuki curiga dengan tangannya yang diperban.
"Kamu mau ke mana, Im?" tanya Bondan tak paham.
"Imran mau fotokopi tugasnya, Ndan," jawab Arini membantuku menjawab pertanyaan Bondan.
"Oooo ..." Akhirnya Bondan paham dengan maksudku.
"Baiklah, Nak," jawab Pak Marzuki.
Aku pun meninggalkan mereka bertiga yang bersiap mendorong gerobak mie ayam itu ke gubuk Pak Marzuki, sedangkan aku sendiri langsung berjalan kaki menuju ke tempat Indah.
"Loh, Im. Kok, balik sendirian? Kemana Arini dan Bondan?" tanya Indah setelah aku mendatanginya.
"Mereka berdua mengantar Pak Marzuki ke gubuknya, Ndah," jawabku.
"Kenapa kamu tidak ikut mereka, Im?" tanya Indah.
"Tidak, Ndah. Aku teringat sama kamu dan luka di tanganmu itu. Aku tidak mau nanti Pak Marzuki melihat luka itu dan memiliki kecurigaan terhadap kita semua," terangku.
"Maksud kamu, aku tidak usah ikut kalian ke kantor polisi?" tanya Indah.
Mata Indah menatap kecewa ke arah mataku. Aku membalasnya dengan tatapan yang teduh.
"Maaf, Ndah. Ini demi keberlangsungan investigasi kita," jawabku lembut.
"Ah, harusnya aku tidak ceroboh tadi," gerutu Indah.
__ADS_1
"Tidak, Ndah. Kamu sudah banyak menyumbang untuk kemajuan investigasi kita. Kamu tidak perlu merasa menyesal seperti itu. Tidak ada pekerjaan yang tanpa risiko," pesanku pada Indah.
"Baiklah, aku pulang sekarang. Tapi, jaga diri kalian baik-baik, ya! Tetaplah berhati-hati karena kita tidak tahu mana kawan dan mana lawan. Bisa jadi penjahat sebenarnya ada di sekitar kita sendiri," ujar Indah sambil melangkah agak mendekat ke pinggir jalan agar keberadaannya diketahui oleh sopir Angkot yang mungkin kebetulan melintas.
"Terima kasih banyak, Ndah. Kamu istirahat di rumah, ya! Jangan lupa perbannya diganti dan obat dari apotek tadi diteteskan secara teratur agar lukamu cepat sembuh," ujarku.
"Oke, Im. Assalamualaikum ...," Indah mengucap salam tepat saat sebuah Angkot mengerem dan berhenti tepat di sebelah Indah.
"Waalaikumsalam ...," jawabku.
Indah pun masuk ke dalam Angkot dan meninggalkan aku sendirian di halte itu. Tibalah saatnya bagiku untuk menunggu kedatangan.kedua temanku yang sedang membantu Pak Marzuki.
Kurang lebih aku menunggu sekitar setengah jam. Akhirnya, kedua temanku bersama Pak Marzuki pun datang.
"Maaf lama, Im. Tadi masih menunggu Pak Kumis menambatkan gerobak mie ayamnya di pohon dan menunggu Pak Kumis beres-beres barangnya lagi di rumahnya," ujar Arini padahal aku tidak meminta penjelasannya.
"Iya, Im. Sepertinya ada orang yang menggeledah gubuk yang saya bangun," ujar Pak Marzuki tiba-tiba.
"Oh ya? Dari mana Bapak tahu kalau ada orang yang menggeledah rumah Bapak?" tanyaku berpura-pura.
"Ada barangku yang hilang, Im," jawabnya
"Benda apa yang hilang, Pak?" tanyaku kembali berpura-pura.
"Ada pokoknya. Sepertinya orang yang menggeledah gubukku bukan orang sembarangan. Dia tidak berniat mencuri barang-barang berharga yang saya miliki. Seperti orang tersebut sedang mencari informasi yang saya miliki," jawab Pak Marzuki.
"Semoga barang Bapak yang hilang segera ditemukan," ujarku.
"Aku pastikan orang tersebut tidak akan aku biarkan karena telah mengusik ketenangan saya," gumam Pak Marzuki.
Pada saat itu keringat dingin tiba-tiba mengucur di tengkukku.
"Ayo, Angkotnya sudah datang!" teriak Pak Marzuki.
Kami pun masuk satu persatu ke dalam Angkot yang baru datang. Letak kantor Polres tidak begitu jauh dari tempat ini. Tapi kalau harus ditempuh dengan berjalan kaki, kaki kami bisa gempor nantinya.
"Polres, Pak!" teriak Pak Marzuki bermaksud memberitahu sopir tentang tujuan yang akan kami datangi.
"Baik, Pak!" jawab sopir dengan penuh semangat.
Perjalanan kami hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai di Polres. Di pintu masuk Polres kami disambut dengan baik oleh petugas. Saat Pak Marzuki mengisi buku tamu, tiba-tiba aku melihat orang yang ku kenal muncul di tempat itu.
"Pak Prapto??" sapaku.
"Imran!!" sapa orang itu.
"Ya Allah ... Ngapain kamu di sini, Im?" tqnya Pak Prapto.
"Ini, Pak. Kami mengantar bapak ini untuk melaporkan sebuah kasus," jawabku jujur.
__ADS_1
"Oalah ... hebat kamu, Im. Kamu sudah beberapa kali membantu tugas kepolisian," puji Pak Prapto.
"Biasa saja, Pak. Bukankah sebagai warga negara yang baik, kita memang harus membantu polisi untuk menjaga keamanan di negeri tercinta ini?" ucapku.
"Wah, mantap santrinya Mbah Nur ini!" puji Pak Prapto lagi.
"Wah, Pak Prapto ini ada-ada saja," jawabku.
Setelah berbincang-bincang sambil menunggu Pak Marzuki mengisi buku tamu, kami pun dipersilakan untuk duduk di sebuah sofa. Pak Prapto menanyakan banyak hal tentang dusunku dan warganya. Tak lupa ia juga menitip salam untuk Mbah Nur dan kedua orang tuaku.
"Gimana kabar Parto, Im?" tanya Pak Prapto.
"Alhamdulillah ... baik, Pak," jawabku.
"Apa kesibukan anak itu sekarang, Im?" tanya Pak Prapto lagi.
"Dia sudah jadi petani sukses, Pak. Dia sibuk ikut pelatihan-pelatihan," jawabku.
"Syukurlah kalau begitu. Oh ya, kamu sekolah di mana sekarang?" tanya Pak Prapto.
"Saya sekolah di SMAN 14, pak!" jawabku tegas.
"Oh ya? Kebetulan dong!" sahut Pak Prapto.
"Kebetulan kenapa, Pak?" tanyaku penasaran.
"Hm ... Ntar saja deh saya ingin ngobrol panjang lebar denganmu, tapi tidak sekarang tentunya. Karena banyak hal yang mau saya omongkan dengan kamu," jawab Pak Prapto.
Aku jadi kepikiran dengan ucapan Pak Prapto.
"Kira-Kira apa yang akan dibicarakan oleh Pak Prapto, ya?" tanyaku pada diri sendiri.
BERSAMBUNG
Hm ... sudah kangen dengan Imran dkk, kan?
Buktikan kangen kalian dengan memberi like, vite, dan komentar untuk bab ini!
Sebuah pantun bukti cinta Bang Junan untuk para Sobat Junan di manapun Anda berada.
Yamet kudashi ... yamet kudashi
Sobat Junan emang paling seksi
Ara-Ara kimochi
Sobat Junan emang baik hati
(Dilarang membacanya sambil nyanyi apalagi bayangin emak-emak yang super lucu)
__ADS_1