SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
episode VII


__ADS_3

Kami berkumpul kembali diruang tamu,sedangkan nenek memberesi semua peralatannya.


Lalu nenek mebuatkan teh untuk kami.


Kami kembali berbincang.


Bagaimana caranya agar untuk melaporkan perbuatan pak pasaribu.


Kami tidak punya bukti kuat untuk dilaporkan.


Setelah lama berembuk,nenek memutuskan untuk membicarakan kepada kepala sekolah selaku ayah radit.


Aku dan lidia disuruh untuk tidak ikut terlibat lagi.


Lalu apa yang akan kami lakukan.


Apa ini ending dari kisah ini?


Kami berhenti lalu masalah nya teratasi?


Tentu tidak.


Meskipun sudah dilarang untuk ikut campur aku dan lidia akan tetap berusaha melakukan investigasi kami.


Tentu saja tampa pengetahuan orang lain.


Selepas dari rumah itu aku dan lidia berpisah dan pulang kerumah kami masing masing.


Kulepas pakainku lalu kusantap makan siangku walau waktu sudah sore.


Hembusan kipas angin ditambah cuaca panas diluar membuatku tidak kuat menahan kantuk.


Aku menikmati suasana dan hembusan angin.


Dan aku mulai terlelap.


****


“ aku akan membunuhmu”


Seseorang berteriak kencang ditelingaku yang membuatku terbangun dari tidurku.


Tidak ada siapa siapa.


“Apa aku bermimpi”pikirku dalam hati.


Namun suara itu sangat jelas


Dan aku seperti pernah mendengar suara itu sebelumnya.


Itu adalah suara pak pasaribu.


Dia pernah membentakku dan mengancamku dengan kata kata itu.


Aku melanggar perjanjian kami.


Untuk tidak membocorkan rahasia itu.


Aku sangat ketakutan.


Nafas ku naik turun.


Dan jantungku berdegup sangat kencang.


“duggg ...dugggg”suara pintu


Pintu kamarku digedor-gedor dari luar.


Aku sangat ketakutan.


Aku tidak berani membuka pintu kamarku.


Aku mencari benda apa saja yang bisa kujadikan pertahanku.


Tongkat bisbol kayu satu satunya alat yang dapat kuandalkan.


Aku bersiap mengayunkan tongkatku saat pintu itu akan terbuka.


“duggg dugggg”suara pintu kembali digedor namun kali ini lebih kuat.


Pintu kamarku masih kokoh bertahan,namun engsel pintunya mulai kendor.


Suasan tiba tiba hening.


Pintu tidak lagi digedor gedor.


Tidak ada celah buatku melihat kebagian luar kamarku.


Aku terdiam dan duduk ditempat tidurku.


Aku tetap memegang tongkatku dengan erat.


Cukup lama aku terdiam dan gangguan itu tidak muncul lagi.


Kuberanikan diri untuk membuka pintu.


Perlahan lahan kulangkahkan kakiku menuju pintu.


Tangan kanan ku siap untuk memukul siapa saja yang ada diluar pintu kamarku.


Kubuka kamarku dan ....


Tidak ada siapa siapa.


Kunyalakan semua lampu meski hari masih terang.


Kuperiksa setiap suduh dan setiap celah yang memungkinkan seseorang masuk kerumah.


Semua tampak biasa dan aman.


Lalu siapa yang menggedor pintu kamar tadi.


Tittt tittt


Hp ku berdering.


Itu telepon dari sarah.


Ternyata dia sudah sadar.


“halo ben,lagi ngapain kau?”sapa sarah melalui hp.


“Ga ngapa ngapai ,Cuma lagi berjaga jaga ajh”jawabku.


“Ben ketemu yuk ditempat biasa,kutunggu sekarang!”pinta sarah


Tuttt...tuttt...tuttt


Sarah mematikan panggilannya.


Sangat janggal rasanya,sarah meminta ketemu.Bukankah dia masih pingsan.


Lagipula sebelumnya dia tidak pernah mengajak ku kemana mana,malah sebaliknya aku lah yang selalu mengajaknya keberbagai tempat.


“Ada yang tidak beres” pikirku


Aku menyiapkan beberapa alat untuk perlindungan diri.


Lalu aku bergegas menuju tempat itu.


Aku berjalan setengah berlari karena tidak mau membuatnya menunggu.


Tiba disana,aku tidak menemukan sarah.


Aku hanya melihat teman teman lamaku yang berada tidak jauh dari sana.


Aku memutuskan untuk menghubungi sarah.


Namun tidak diangkat.

__ADS_1


Aku menghubunginya lagi dan lagi.


“halo,siapa ini?”jawab nenek sarah


“Ini benni temen sarah yang tadi,sarahnya mana nek?”tanyaku


“Sarah masih istirahat,hpnya bunyi bunyi makanya saya angkat”jawab nenek.


Pletuk.


Kepalaku dipukul dari belakang hingga aku tidak sadarkan diri.


Tubuh ku sangat lemas.


Aku tidak dapat melihat apa apa.


Ternyata mataku ditutup kain.


Tanganku terikat dan aku duduk dikursi yang sangat sempit.


Aku tidak dapat bergerak.


Aku mencoba teriak namun mulutku disulut dengan kain.


“Udah kubilang jngan macam macam samaku”suara itu terdengar jelas.


Meronta ronta berusaha melepaskan diriku.


Penutup mataku dibuka dan aku melihat dihadapanku seorang yang tua yang tidak lain adalah pak pasaribu.


Dihadapanku juga terlihat banyak dupa dan bunga warna warni.


Baunya sangat menyengat. Hingga aku tidak bisa bernafas dengan baik.


“kau udah siap mati?”bentaknya yang membuatku sangat takut.


Aku menangis sejadi jadinya.


Aku meronta ronta,namun semakin aku bergerak tubuhku semakin dihimpit.


Aku sangat kesakitan.


Lalu dia mengambil sebuah pisau yang berkarat.


Dia mulai mencelupkannya kedalam air penuh bunga berwarna merah.


Aku sangat ketakutan.


Aku berdoa dalam hati meminta pertolongan Tuhan.


Tidak ada lagi kata yang bisa kuungkapkan untuk mengungkapkan keteganganku.


Bahkan celanaku sudah basah karena keringat dan kencingku.


Dia mulai melakukan ritualnya.


Membakar dupa memantrai sebuah wadah yang berisikan pisau berkarat tadi.


Dia mengangkat wadah itu dan mulai mengelilingiku.


Dia menatap mataku dengan bengis.


Dia menyiramiku dengan air lalu mulai menggesekkan pisau itu ketubuhku,menyusuri leherku dan wajahku.


Aku tidak dapat berpikir jernih.


Aku pasrah dan menyerahkan nya dalam doaku.


Aku menutup mataku.


Pisau itu tidak lagi kurasakan.


Ketakutanku masih dapat kurasakan.


Darah ku terasa panas dan keringatku bercucuran dengan deras.


“Ahhhhh.....ahhhhh...”pak pasaribu berteriak kencang.


Aku meronta ronta dan kembali menangis.


Aku kembali menutup mataku.


“Brakkkk”Pak pasaribu roboh.


Darah mulai menyelimuti seluruh lantai.


Ada apa ini


Dia mengakhiri hidupnya


Tapi bukan,aku mendengarkan langkah kaki orang yang datang.


Dia mulai membuka ikatanku.


“Kau gpp?”tanya suara itu.


Aku tidak dapat melihatnya dengan jelas.


Lampu menutupi wajahnya.


Dia mencoba memapahku keluar dari ruangan itu.


Aku melihat tangan nya penuh darah.


Aku terperangkak.


“kenapa kau bunuh dia?”tanyaku tegas


“Kau lebih suka mati?


Pertanyaan apa itu?


Kau bahkan ga bilang makasih?”jawabnya dengan marah.


Aku melihat wajahnya dengan jelas.


Dia adalah kepala sekolah.


“Kenapa bapak bisa kesini?”tanyaku menghiraukan pertanyaannya.


Dia tidak menjawab pertanyaanku.


Dia terunduk dan keluar ruangan itu.


Aku keluar dan melihat sudah ada nenek sarah dan beberapa orang disana.


“Kau gpp kan,


Apa kau luka?


Kenapa kau bisa sampai disini”tanya nenek dengan panik.


Aku hanya terpaku membisu.


Beberapa orang lelaki mulai memasuki ruangan itu dan membawa mayat pak pasaribu keluar.


Ternyata diluar sudah ramai mobil polisi.


Nenek sudah menceritakan semua kepada bapak kepala sekolah.


Mereka berniat untuk segera menahan pak pasaribu,namun kejadian nya malah sedikit berbeda.


Pak pasaribu tewas dan sekarang bapak kepala sekolah harus mendekam disel tahanan.


Nenek mengantarku pulang.


Diperjalanan aku berbincang singkat dengannya.


“Kamar mandi sekolah telah dibongkar untuk mengambil jasad radit.

__ADS_1


Radit ditanam dibawah sepiteng penuh dengan kotoran.


Jasadnya tersisa tulang belulang”jelas nenek


Nenek juga menceritakan mengapa dan bagaimana radit sampai tewas dan di kuburkan disana.


Dulu saat pembaharuan bangunan sekolah.


Kepala sekolah dulu hanya seorang guru honorer.Kondisi ekonominya cukup buruk saat itu.


Dia terpaksa ikut menjadi tukang dalam pembangunan itu.


Dia mengambil bagian sebagai buruh kasar dan mengantar antar semen jadi ke tukang lainnya.


Radit anaknya turut membantu dia.


Meski Cuma mengantar batu bata radit sudah cukup membantu.


Tentu saja dia juga mendapat upah walau sekedar uang jajan.


Disisi lain pak pasaribu merupakan seorang pemuda pemabuk.


Dia berusaha ikut dalam proyek itu.


Namun pihak sekolah tidak mengijinkan karena sudah tau ulahnya.


Pak pasaribu muda sangat marah karena tidak ada lagi yang ia dapat kerjakan.


Dia mendatangi lokasi pembangunan itu saat makan siang.


Para buruh sedang beristirahat ditempat teduh dan menyantap makan siang mereka.


Dia mulai menyusuri tempat itu.


Lalu disaat dia di dekat kamar mandi yang sedang dibangun.


Dia melihat radit.


Radit adalah keponakannya karena pak pasaribu dengan bapak kepala sekolah masih saudara.


Radit tampak biasa melihat pamannya.


Dia tidak tampak curiga karena tidak tau maksud pamannya itu.


Pamannya atau pak pasaribu dalam keadaan mabuk memaki maki dan memburuk burukkan ayah radit dihadapannya.


Radit tampak kebingungan dan mulai menangis.


Pak pasaribu setengah sadar panik dan takut ketahuan.


Dia mendekap mulut radit.


Namun layaknya orang kesetanan atau dalam pengaruh alkohol dia menarik radit kedalam dan mengikat leher radit dengan tali bangunan.


Dia melilitkan tali sebanyak banyak nya sehingga cukup untuk membuat radit tidak dapat bernafas lagi.


Namun radit meronta ronta hingga menggit tangan pak pasaribu.


Lalu pak pasaribu emosi dan kemudian menggantung radit hingga lidahnya keluar dan akhirnya radit tewas.


Tidak hanya itu dia juga memukuli tubuh radit  yang tergantung hingga tercabik cabik dan mengeluarkan banyak darah.


Pak pasaribu panik dan menurunkan radit.


Dan mulai menangis seakan menyesal.


Para pekerja belum selesai dengan makan siang dan istirahat mereka.


Mereka tidak sadar kalau radit telah tewas.


Ayah radit sadar kalau radit tidak terlihat sedari tadi.


Dia mulai memanggil radit.


Tidak ada tanda tanda keberadaan radit.


Dia mulai berteriak memanggil radit.


Pak pasaribu mendengar teriakan itu.


Dia panik dan berlari kencang menjauhi area itu.


Namun langkahnya terasa berat.


Dia terus berjalan menuju hutan.


Dia mulai sadar.


Dia membawa jasad radit.


Dia melepaskan jasad radit dan mulai berteriak seperti orang tidak waras.


Namun dia kembali pulang kerumah seakan akan tidak merasa bersalah.


Lalu akhirnya dia diterima bekerja untuk menggantikan ayah radit.


Ayah radit berhenti bekerja untuk mencari keberadaan radit.


Saat itu dia menggali lobang untuk sepiteng kamar mandi.


Dia menggali lobang yang lebih dalam


Dia berniat memnguburkan jasad radit disana.


Ayah radit tampak berduka.


Hingga 1 bulan dia tidak menemukan jasad radit.


Setiap hari dia membawa bunga bunga untuk mengenang radit .


Dia sadar bahwa kamar mandi itu tempat berpijak terakhir radit.


*****


Cukup lama kami berbincang dalam perjalanan yang lumayan jauh.


Terlebih kami menempuhnya dengan berjalan kaki.


Hingga aku dan nenek harus terpisah dipersimpangan jalan.


Aku pergi dan menitip salam buat sarah.


Dia hanya tertawa.


Nenek sebenarnya belum tau hubunganku dengan sarah.


Aku kembali kerumah sendirian


Aku sangat bersyukur masih bisa hidup hingga saat ini.


Aku kembali kerumah dengan perasaan yang amat lega.


Aku mandi lalu beranjak ketempat tidurku.


***


Tettt tettt


Alarm ku berbunyi.


Kulangkahkan tubuhku dan bersiap menuju sekolah.


Sarah sudah menungguku disimpang jalan.


Aku menggandeng tangannya dan berjalan bersama.


Dia tampak senyum dan menikmati nya saja.


Kini sekolah sudah bersih dan tidak ada gangguan lagi.

__ADS_1


The end.


__ADS_2