SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 84 : DINDA DAN RONI


__ADS_3

Saat ini giliran Dinda dan Roni yang harus berenang dengan saling menggendong dari satu ujung kolam ke ujung kolam yang lain. Kami berempat yang menyaksikan hal itu merasa tidak tega karena merasa mereka berdua akan gagal melalui tantangan ini. Tidak hanya kami berempat yang cemas, Dinda dan Roni pun terlihat sangat cemas dan tidak percaya diri untuk melalui ini.


"Persiapan!" teriak algojo Nyi Sukma.


Dinda dan Roni pun turun ke air secara perlahan.


"Ron, aku takut ...," gumam Dinda.


"Naiklah ke punggungku, Din. Kita harus berjuang dulu demi orang-orang yang kita sayangi," ucap Roni.


Dinda pun naik ke punggung Roni. Tepat saat algojo memberi tanda, Roni berenang dengan membawa Dinda di punggungnya. Awalnya hal itu sangat mudah bagi Roni yang berperawakan besar untuk menggendong Dinda yang berperawakan kecil. Namun, ketika berdua sudah sampai di tengah-tengah kolam, Roni nampak merasa ketakutan dan selama beberapa detik ia hanya berennag di tempat bahkan mereka berdua hampir saja tenggelam.


"Ron!!!!!" teriakku menyadarkan temanku itu.


Kemudian Roni kembali membawa Dinda ke punggungnya dan setelah berdoa ia pun melanjutkan berenang menuju sisi yang lain hingga kedua tangannya berhasil menyentuh ujung kolam yang lain.


"Kamu kenapa tadi, Ron?" tanyaku ketika mereka berdua sudah sampai di ujung.


"Tadi aku seperti melihat tsunami di depanku, Im," jawabnya masih dengan gigi gemeretak.


"Syukurlah kamu bisa mengatasi hal itu, Ron. Sebenarnya tadi kami berempat juga mengalami hal yang sama. Sepertinya Nyi Sukma sengaja menyihir pandangan kita agar kita gagal dalam tantangan ini dan menjadi pesuruhnya sama dengan algojo-algojo itu," jawabku.


"Terus bagaimana, Im? Berenang biasa saja aku tidak mungkin bisa membawa Roni di punggungku apalagi kalau harus menghadapi sihir Nyi Sukma?" tanya Dinda dengan ketakutan.


"Tenangkan dirimu, Dinda. Jangan takut! Yakinlah bahwa kamu bisa melakukan hal ini. Nyi Sukma juga pasti akan berusaha menggagalkan usaha kalian. Tapi, jangan takut. Hadapi dengan berdoa kepada Allah SWT. Kalian pasti bisa! Ingat, kamu tidak harus menggendong Roni di darat. Di atas air tentunya badan besar Roni ini memiliki volume yang lebih besar sehingga akan menghasilkan gaya angkat ke atas yang juga besar. Tinggal pandai-pandainya Roni untuk mengatur posisi tubuhnya agar tidak terlalu memberatkan Dinda. Kamu paham kan, Ron?" bisikku pada Roni.

__ADS_1


"Iya saya paham, Im," jawab Roni.


"Tapi, bukankah Roni juga memiliki gaya berat yang cukup besar juga, Im? Apa hal itu tidak berpengaruh?" tanya Dinda ragu.


"Tentu berpengaruh, Din. Tapi, saya yakin Roni bisa mengatur posisi tubuh dan mengatur napasnya agar ia bisa cukup mengapun dan tidak terlalu memberatkanmu. Dan salah satu kuncinya adalah kalian harus terus bergerak jangan berhenti. Selain menghemat tenaga juga hal itu berguna untuk mengurangi beban yang dirasakan Dinda. Oke?" bisikku pada Dinda.


"Baiklah, terima kasih, Im, atas arahanmu. Doakan kami sukses, ya?" ucap Dinda.


"Aamiiin ...," jawabku sambil berjalan mundur meninggalkan mereka berdua.


Saat yang dinanti-nantikan pun tiba. Petugas pengawas kembali memberi tanda kepada Roni dan Dinda untuk segera melakukan putaran terakhir yaitu menyeberangi kolam dari satu sisi ke sisi yang lain. Kali ini Dindalah yang harus menggendong Roni. Petugas pengawas nampak tersenyum sinis ke arah mereka berdua. Mungkin dia sudah sangat yakin kalau mereka berdua akan gagal menghadapi tantangan ini. Aku kesal dengan tingkah mereka yang tidak manusiawi tersebut. Mungkin mereka sudah dicekoki oleh Nyi Sukma sehingga tidak memiliki rasa kemanusiaan sama sekali.


"Bismillahirrohmanirrohiiim ...," teriak Dinda sambil mulai berenang ke tengah kolam dengan membawa Roni di punggungnya.


"Kereeeen!!!" pekik kami berempat saat melihat Dinda dan Roni berhasil melaju hampir ke tengah kolam tanpa kesulitan sama sekali. Mereka berdua benar-benar mengikuti instruksi yang aku berikan. Nampak di atas kolam, Roni sengaja melebarkan tubuhnya agar mengurangi beban di punggung Dinda dan juga dapat menghasilkan gaya apung yang besar. Roni tidak banyak bergerak dan mengatur napasnya dengan baik agar tidak terlalu memberi beban kepada Dinda yang ukuran tubuhnya jauh lebih kecil. Kuperhatikan algojo itu nampak terperangah dengan pemandangan yang ada di depannya. Ia seperti tidak percaya kalau Dinda bisa berenang sambil menggendong Roni yang berbadan tambun. Berbeda dengan algojo-algojo itu, kami berempat justeru senang melihat adegan hebat di hadapan kami. Benar-benar sebuah keajaiban.


"Ada apa, Dinda?" teriakku refleks.


Tidak ada sahutan dari Dinda maupun Roni. Mereka kebingungan dan kehilangan formasi.


"Tidaaaaaaaaaaak!!!!" tiba-tiba terdengar teriakan keras oleh Dinda.


Sontak kami berempat bingung dan mencemaskan keadaan mereka.


"Berdoa, Dinda!!" teriakku dengan keras.

__ADS_1


Setelah mendengar teriakanku, suara kecipak-kecipak air kolam akibat kepanikan Dinda pun menghilang. Ia mulai menemukan keseimbangannya kembali. Namun sayang, Sepertinya tenaganya sudah tidak sekuat tadi. Mungkin akibat dari terlalu lamanya mereka berada di kolam renang. Salam keadaan di ujungbtanduk seperti itu, tiba-tiba aku melihat Roni melepas celananya menyisakan ****** ***** saja yang ia pakai.


"Hai, apa yang kamu lakukan, Ron?" teriakku agak marah kepadanya.


Ketiga temanku juga ikut berdiri dan bersiap untuk menghujat teman baruku itu. Namun, di luar dugaan kami, Roni tiba-tiba mengikat kedua ujung bagian bawah celananya, kemudian ia mengalungkan celananya itu ke leher Dinda.


"Dinda, masukkan udara ke dalam celana ini!" teriak Roni sambil memberi contoh gerakan sederhana kepada Dinda. Dinda pun melakukan apa yang diperintahkan oleg Roni. Benar saja, setelah beberapa kali Dinda menangkup udara ke dalam celana itu, akhirnya celana yang sudah diikat ujungnya itu pun menggembung dan berfungsi sebagai pelampung darurat bagi mereka berdua. Kami berempat takjub dengan hal yang dilakukan oleh mereka berdua. Para algojo itu pun terperangah dengan usaha mereka berdua yang di luar dugaan mereka. Dinda dan Roni pun kembali berenang sambil berdoa ke sisi yang lain.


"Alhamdulillah ...," pekik mereka berdua begitu sampai di pinggir kolam.


Kami berempat menyambut mereka di pinggir kolam dan membantu menarik tubuh mereka berdua ke atas kolam.


"Kalian berdua benar-benar hebat!" pekik Ikbal.


"Kamu masih bisa bertemu dengan adikmu, Dinda," pekikku.


"Terima kasih atas doa dan dukungan kalian semua," pekik Roni.


"Alhamdulillah, kita semua masih diberi kekuatan untuk melalui tantangan ini," pekik Andre.


"Sudahan dulu acara melow-melownya. Masa kalian nggak sadar, Roni hanya pakai CD saja. Cepat pakai celanamu kembali, Ron!" tegur Faisal.


"Ups! Mana celanaku, Dinda!" pekik Roni sambil refleks menutupi area pribadinya dengan perasaan malu.


Kami pun tertawa melihat tingkah lucu temanku itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2