SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 69 : PENJELAJAHAN


__ADS_3

Setelah makan mie goreng bersama dan salat, semua siswa menuju diminta berkumpul di lapangan untuk persiapan acara penjelajahan. Khusus kegiatan penjelajahan ini, setiap siswa wajib mengikuti tanpa terkecuali. Selama kegiatan penjelajahan ini berlangsung, tenda kami dijaga oleh kakak-kakak OSIS untuk menghindari kejahatan pencurian dan sebagainya.


Kak Sandy berdiri di depan para siswa untuk menyampaikan tata tertib kegiatan penjelajahan. Ia juga mengingatkan barang apa saja yang harus dibawa dan tidak boleh dibawa oleh para siswa selama mengikuti kegiatan ini. Selain itu, kakak kelas kami itu juga menyampaikan rute yang akan kami lalui. Setelah semua informasi disampaikan kepada para siswa, maka satu persatu kelompok pun berangkat melakukan penjelajahan. Kelompokku berangkat paling awal meninggalkan lapangan, menuju pintu gerbang, dan keluar dari area sekolah menuju ke pos pertama yang berada di sebelah timur sekolahnya Arini. Di pintu gerbang, Satpam sekolah kami memandangi kami yang lewat dari posnya. Butuh sekitar sepuluh menit bagi kami untuk berjalan di pinggir jalan raya, masuk ke gang di timurnya sekolah Arini, dan berjalan sepanjang gang itu hingga sampai di ujung gang buntu itu.


"Mana nih pos pertamanya? Kok nggak kelihatan?" tanya salah satu temanku.


"Tadi kata Kak Sandy, pos pertamanya ada di ujung gang buntu," jawab temanku yang lain.


"Sekarang kita sudah sampai di ujung gang buntu. Tapi, kita tidak menemukan tanda-tanda adanya pos pertama itu," balas ketua kelompok.


"Coba kita berpencar untuk memeriksa keadaan di sekitar sini!" perintah ketua kelompok.


Kami pun berpencar di sekitar tempat itu. Tapi setelah memeriksa keadaan sekitar selama beberapa menit, kami tidak menemukan petunjuk apa-apa.


"Apa kita tidak salah jalan?" kata temanku.


"Aku rasa enggak lah. Kita sudah memilih jalan sesuai petunjuk Kak Sandy," jawab yang lain.


"Tapi, kenapa sampai sekarang kita tidak kunjung menemukan pos pertama?" tanya temanku itu.


"Iya juga sih. Jangan sampai ada kakak OSIS yang menyusul kita ke sini karena hal itu pertanda nilai kita akan dikurangi," ujar salah temanku yang lain.


"Im, kamu mulai tadi diam saja. Apa kamu ada ide?" tanya ketua kelompok.


"Hm ... aku sejak tadi mikir. Mungkinkah kita belum sampai di ujung gang?" ujarku.


"Maksud kamu apa, Im? Kita sekarang jelas-jelas sudah sampai di ujung gang, kan?" ujar ketua kelompok.


"Hm ... menurutku tidak. Karena kita masih bisa masuk ke sana, kan?" jawabku.


Semua anak-anak menoleh ke arah yang aku tunjuk.


"Gila kamu, Im? Itu kan kuburan. Masa iya kita mau ke sana?" ujar salah satu teman yang lain.

__ADS_1


"Coba kita pikir. Namanya ujung gang pastinya sudah tidak akses lagi ke mana-mana selaim jalan kembali. Tapi, di tempat kita berdiri sekarang ini masih ada akses jalan untuk berjalan lurus, yaitu masuk ke kuburan itu," jawabku dengan tegas.


Teman-Temanku semua mendadak merapatkan diri satu dengan lainnya.


"Imran ini ada-ada saja," gerutu mereka.


Ketua kelompok nampak menimbang-nimbang ucapanku. Kemudian ia pun berkata.


"Sepertinya, ucapan Imran itu ada benarnya juga. Di sekitar sini masih ada jalan masuk ke kuburan itu. Bisa jadi pos pertama ada di dalam kuburan itu," ujar ketua kelompok.


"Lebih baik kita menunggu kakak OSIS datang saja. Aku takut kalau harus masuk ke dalam kuburan itu," gerutu salah satu teman.


"Jangan konyol kamu! Kamu mau nama kelompok kita nanti diumumkan di tengah lapangan bahwa kita gagal di pos pertama gara-gara takut masuk ke kuburan. Sedangkan kelompok yang cewek saja tadi tidak ada yang kembali, kan?" teriak salah satu teman yang lain.


Teman yang dibentak itu pun terdiam.


"Tenang ... tenang ... kita nggak usah bertengkar! Bukankah kita ini akan masuk ke sana secara bareng-bareng jadi kita nggak perlu takut. Lagipula ngapain kita harus takut? Lah wong kita semua juga akan mati, kan? Mereka yang sudah meninggal itu juga nggak mungkin lah untuk mengganggu kita Mereka sibuk mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri selama hidup. Iya kan, Ndan?" ujar ketua kelompok berusaha menenangkan situasi.


"Iya, benar!" jawab Bondan spontan.


"Imran! Kamu di depan!" ujar ketua kelompok.


"Siap!" jawabku.


"Bondan, kamu di belakang! Kalau ada yang berusaha kabur, kamu sikat saja!" ujar ketua kelompok lagi.


"Siap, Bos!" jawab Bondan.


Kami pun bersiap-siap memasuki area pemakaman tersebut. Jujur, aku masih ingat dengan orasi singkat ketua kelompokku barusan yang berhasil mempengaruhi psikologis teman-temanku. Dalam hati aku berpikir, "emang iya sih, mereka yang sudah dikubur di sini tidak akan mengganggu kami yang masih hidup, tapi jin usil bisa saja melakukannya. Tapi, aku tidak mau mengatakan itu di depan teman-temanku yang sudah mendadak berani itu. Bisa-Bisa buyar kelompokku."


Kami masuk ke dalam area pemakaman secara beriringan. Aku dan ketua kelompok berada di barisan paling depan. Sejak masuk ke area pemakaman ini, hidung kami sudah dimanjakan dengan aroma bunga kamboja yang begitu menyengat. Kami terus berjalan menyusuri jalan setapak di tengah-tengah are pemakaman itu. Di sebelah kiri dan kanan berjejer makam-makam yang sebagian besar sudah tua. Hanya beberapa yang kelihatan masih baru. Secara psikologis, kami semua merasa lebih ngeri ketika melewati makam yang masih baru. Hal itu dapat kuketahui dari suara langkah kami yang agak cepat ketika ada makam baru di sebelah kami. Aroma bunga tujuh rupa pun mengusik indera penciuman ketika kami melewati makam yang masih baru.


Tidak terasa kami sudah masuk cukup jauh ke dalam makam ini, tapi kami belum juga menemukan ujung dari jalan setapak yang sedang kami lewati. Ada sedikit kekhawatiran dalam pikiranku takutnya memang pos pertama tidak ada di dalam pemakaman ini. Kalau memang itu yang terjadi tentunya teman-teman bisa saja marah atau kesal kepadaku karena sudah memberi pengalaman buruk tersesat di tengah-tengah kuburan.

__ADS_1


Baru saja aku berpikir untuk menyerah, tiba-tiba aku melihat sekelebat bayangan sekitar sepuluh meter di depan kami. Aku menghentikan langkahku diikuti oleh teman-temanku.


"Ada apa, Im, kok berhenti?" tanya ketua kelompok.


"Di depan kita ada orang yang sedang duduk-duduk!" bisikku.


"Mana?" tanya ketua kelompok.


"Itu di ujung lorong," jawabku.


Ketua kelompok memicingkan matanya agar bisa melihat sosok yang kumaksudkan.


"Iya, Im. Ayo kita maju!" ujar ketua kelompok.


"Kamu yakin?" tanyaku.


"Tidak juga sih, tapi kita tidak punya banyak pilihan, Im! Ayo sudah, kita maju saja. Risiko kita hadapi bersama!" ujar ketua kelompok.


Setelah menarik napas panjang, aku pun melangkah secara perlahan bersama ketua kelompok dan diikuti oleh teman-teman yang lain. Sosok hitam itu sudah berada pada jarak lima meter di hadapan kami. Ia sama sekali tidak bereaksi dengan kehadiran kami. Kemudian, aku mendengar suara dari arah sosok hitam itu.


"TUMBAL PATI ..."


BERSAMBUNG


Apa yang akan terjadi dengan Imran dan teman-temannya? Apakah mereka sedang tersesat? Siapakah sosok hitam itu?


Tunggu kelanjutannya di episode selanjutnya ...


Jangan lupa untuk rajin like, vote, dan komentar.


Sudah baca CHAT STORY berjudul CIRCLE OF LOVE belum? ada horornya juga loh!


__ADS_1


Tertarik dengan novel cetak KAMPUNG HANTU? wa saja ke nomerku 085236533388


__ADS_2