
Kami menoleh ke belakang. Di belakang kami sedang berdiri seorang laki-laki dengan perawakan tegap dan wajahnya dipenuhi cambang.
"Selamat pagi, Dik," ujar pria berperawakan tinggi tersebut.
"Selamat pagi," jawab kami kompak.
"Hm ... boleh nanya, ruang guru di sebelah mana, ya?" tanya pria tersebut.
"Di sebelah sana, Om ... eh, Pak!" jawab Indah.
"Kok Om sih, Ndah?" tegur kami pada teman kami itu.
"Maaf, soalnya bingung mau manggil apa? Mau dipanggil 'Pak' kemudaan, mau dipanggil 'Om' kayak nggak pantes," jawab Indah sekenanya.
"Terima kasih, Dik. Saya langsung ke sana saja," jawab pria ganteng itu dengan senyumannya yang ramah.
Kami bertiga pun melanjutkan perbincangan.
"Sadar, Ndah! Pandanganmu itu mbok ya dijaga?" tegur Bondan.
"Maaf, Ndan. Aku khilaf ... he he he ...," jawab Indah sambil menyungging senyum.
"Khilaf-Khilaf. Dasar kamu ini, jangan-jangan kamu ini naksir ya sama orang itu?" tanya Bondan meledek Indah.
"Ya enggak lah, Ndan. Aneh-Aneh saja kamu ini," protes Indah.
"Tapi, matamu itu nggak bisa bohong, Ndah. Kayak terkagum-kagum begitu," jawab Bondan.
"Sudah! Sudah! Ayo, buruan kita masuk kelas saja. Sudah bel. Ntar kita keburu dihukum sama kakak-kakak OSIS," potongku.
"Oke deh! Ngomong-Ngomong hari ini apa kegiatannya?" tanya Bondan.
"Banyak, Ndan. Tapi, salah satunya adalah pengumuman tentang Persami," jawab Indah.
"Persami? Kita kan, belum latihan Pramuka sama sekali?" tanya Bondan.
"Bondaaaan ... Bondaaan ... Kamu ini masa nggak tahu, sih? Sekolah kita ini pemegang juara umum Jambore tingkat Kabupaten setiap tahunnya. Di sini tuh Pramuka sifatnya wajib. Kasarannya, Pramuka itu lebih wajib dari pelajaran biasa," jawab Indah.
"Segitunya, Ndah? Bukankah di aturannya pelajaran tetap nomer satu?" protes Bondan.
__ADS_1
"Aturannya sih emang begitu. Tapi, dalam kenyataannya keaktifan siswa di sekolah ini mengikuti kegiatan kepramukaan menjadi nilai tersendiri di hati guru. Kalau ada kekurangan di pelajaran, tapi Pramukanya bagus, nilainya bisa saja ditambah. Dengan berbagai alasan dan ***** bengek yang kita nggak akan mungkin paham," jawab Indah.
"Oooo gitu ya, Ndah?" Bondan mengangguk-angguk.
"Iya, benar, Ndan. Sekolah kita ini selalu bersaing dengan SMA Pejuang setiap tahunnya dalam even Jambore tingkat Kabupaten," tambahku.
"Siap, Bos!" jawab Bondan mengerti.
Setelah itu kami pun masuk ke kelas masing-masing.
Benar seperti yang diucapkan oleh Indah. Di dalam kelas, kakak-kakak OSIS menyampaikan tentang kegiatan Persami. Di kelas, kami dijelaskan perlengkapan yang harus kami bawa untuk mengikuti kegiatan tersebut. Kami juga dibagi ke dalam kelompok-kelompok. Di kelasku, siswa laki-laki dibagi menjadi dua kelompok, dan begitu pula dengan siswa perempuannya. Untunglah, aku sekelompok dengan Bondan.
Kegiatan Persami akan dilaksanakan Sabtu depan. Start hari Sabtu pukul 7 Pagi dan finishnya hari Minggu pukul sembilan pagi. Kakak-Kakak OSIS juga menyampaikan beberapa aturan umum tentang kegiatan Persami tersebut.
Pada jam istirahat, aku, Bondan, dan Indah kembali berkumpul di kantin untuk membicarakan perkembangan investigasi yang kami lakukan.
"Teman-Teman, ada satu hal lagi yang belum aku sampaikan kepada kalian tentang investigasi kita," ucapku.
"Apa, Im? Bukankah tadi kamu sudah menceritakan perihal gangguan arwah Satpam dan Mbah Jati?" tanya Bondan.
"Ini tentang investigasi kita kemarin di Jalan Mawar," jawabku serius.
"Emangnya ada fakta apa yang kamu temukan, Im? Bukankah kemarin kita tidak menemukan apa-apa di sana?" tanya Indah.
"Iya. Kami kan pulang duluan. Kamu dan Arini masih mampir beli mie ayam di depan masjid. Emangnya kenapa?" tanya Bondan.
"Begini, Ndan ... Rin ... Sewaktu aku dan Arini membeli mie ayam, aku menemukan sebuah benda yang janggal di gerobak penjual mie ayam itu," jawabku.
"Benda aneh apaan, Im?" tanya Bondan penasaran.
"Selama kita memeriksa keseluruhan rumah di jalan mawar, kita tidak menemukan rumah dengan nomer 13, kan?" Aku balik bertanya.
"Iya, Im. Kita sudah bolak-balik mencarinya, tapi nggak ketemu-ketemu. Emang kenapa?" tanya Indah.
"Nah, itu dia, Ndah. Sewaktu aku dan Arini menunggu tukang mie ayam itu menyiapkan pesanan. Tanpa sengaja, aku melihat ke arah tutup laci uang orang tersebut," jawabku.
"Emang kenapa dengan tutup lacinya, Im?" tanya Indah semakin penasaran.
"Ternyata tutup lacinya terbuat dari pelat logam bekas nomer rumah," jawabku.
__ADS_1
"Lantas?" Indah memotong.
"Di pelat itu masih tertulis dengan jelas tulisan 'MAWAR 13'," jawabku.
"Ya Tuhan!!!!" pekik mereka berdua.
"Apakah Pak Kumis-?" ujar Bondan.
"Hus! Jangan suuzon dulu! Ingat beliau itu sudah haji dan mie ayamnya cukup terkenal. Arini saja langganan dengan mie ayam buatan Pak Kumis tersebut. Iya, kan?" ucapku.
"Iya juga, Im. Tapi, ingat! Kita sudah mendapatkan petunjuk 'alun-alun', 'mawar', dan '13'. Dan bukan kebetulan kalau Pak Kumis memiliki ketiga ciri-ciri itu, kan?" ujar Indah.
"Iya, Ndah. Tapi, bukan berarti Pak Kumis telah melakukan kejahatan, kan? Korban kejahatannya saja kita tidak tahu. Iya, kan?" ucapku.
"Iya, Im. Meskipun kita belum menemukan korbannya. Tapi, hantu Satpam itu jelas-jelas ada di sekolah ini, kan?" potong Indah.
"Iya, Ndah. Tapi, kita tidak boleh asal menuduh sebelum menemukan bukti yang kuat," jawabku.
"Lantas, apa yang harus kita lakukan sekarang? Bagaimana kalau korbannya itu disembunyikan di tempat yang tidak bisa dijangkau orang oleh pelakunya?" ujar Indah dengan nada agak kesal.
"Oke, Ndah. Begini saja. Ayo, kita segera melanjutkan investigasi kita ini. Nanti sepulang sekolah, kita harus menyelidiki segala sesuatu yang berhubungan dengan Pak Kumis," potong Bondan berusaha melerai ketegangan antara aku dan Indah.
"Oke, tapi selama kita di sekolah, kita juga harus menyelidiki tentang sejarah Satpam di sekolah ini. Karena, tidak mungkin hantu Satpam itu bergentayangan di sini kalau tidak ada hubungannya dengan sekolah ini," jawab Indah.
"Setuju, Ndah. Sepertinya aku ada ide, Ndah, untuk menyelidiki sejarah Satpam di sekolah ini," jawabku.
"Oh, ya, kamu punya ide apa, Im?" tanya Bondan dan Indah secara bersamaan.
Aku memberikan kode kepada mereka untuk mendekatkan telinganya agar aku bisa berbisik pada mereka berdua.
"Ide yang bagus, Im," jawab mereka berdua.
Aku akan menarik mulutku kembali. Tapi, aku dikejutkan dengan pemandangan tak lajim di balik jendela. Mulutku ternganga seketika.
"Ada apa, Im?" tanya Bondan yang keheranan melihat ekspresi wajahku yang aneh.
Aku tidak dapat menyahut. Tapi, kedua temanku itu sepertinya mengerti dengan keadaanku saat itu. Mereka berdua secara bersama-sama menoleh ke belakang dan memusatkan pandangan ke balik jendela di belakang mereka.
"Ya Tuhan!!" pekik mereka berdua saat melihat sosok Satpam dengan wajah pucat pasi berdiri di balik jendela itu seolah sedang menatap ke arah kami bertiga.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Mana nih, crazy komennya?