
Aku mengatur napas agar tidak pingsan demi melihat pemandangan mengerikan di depan kami saat ini. Aku sebenarnya sudah pernah melihat tampilan wajah hantu Satpam ini sebelumnya, tapi kali ini terasa lebih menyeramkan karena aku melihatnya di tempat yang tidak pernah tersentuh manusia selama bertahun-tahun ini. Keberadaan Bu Iis di sebelahku tidaklah menambah keberanian bagiku untuk menghadapi hantu Satpam ini. Justeru itu menambah beban tersendiri bagiku karena aku bisa saja lolos dari hantu Satpam ini, tapi bagaimana dengan Bu Iis yang super penakut ini?
ARRRRGH ...
Suara ******* hantu Satpam ini semakin keras saja terdengar membuat Bu Iis makin ketakutan. Aku masih terus memantau pergerakan arwah penasaran tersebut melalui lubang yang kubuat sendiri. Hantu Satpam itu berjalan dengan kaki diseret mengelilingi ruangan kecil di dekat rak nomor tiga. Setelah selesai mengitari ruangan tersebut, kali ini hantu Satpam itu sedang berbelok menuju rak nomor dua. Aku yang saat ini berada di antara di antara rak nomor satu dan nomor dua menjadi semakin ketakutan tatkala hantu Satpam itu berjalan masuk menuju ruang di antara rak nomor dua dan nomor tiga. Hantu itu tidak hanya berjalan sambil menatap lurus ke depan, melainkan ia menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah sedang mencari korbannya. Wajahnya terlihat kebiru-biruan di antara penyinaran yang tidak maksimal di ruangan ini.
Aku mengamati sosok mengerikan dengan baju lusuh itu sambil terus berpikir keras, bagaimana caranya agar aku dan Bu Iis bisa meloloskan diri dari hantu Satpam tersebut. Makhluk tak kasat mata tersebut terus saja bergerak masuk dari ujung rak sebelah selatan menuju ke arah dinding. Lama aku menimbang dan berpikir untuk mencari cara agar bisa selamat dari arwah tersebut. Aku sampai tidak menyadari bahwa hantu Satpam itu kini sudah berada tepat di depanku dengan hanya berjarak sebuah rak yang bagian tengahnya bolong karena ada dokumen yang sengaja kuambil tadi.
Hep ...
Untunglah aku cepat merunduk sebelum pandangan mata hantu Satpam itu menatap ke arah bolongan itu dan bertumbuk dengan wajahku. Pada saat itu waktu terasa lama sekali karena aku menunggu hantu Satpam itu kembali berjalan semakin mendekati dinding, tapi setelah ditunggu-tunggu, tak juga terdengar langkah kaki diseret. Aku sampai berpikir bahwa hantu Satpam itu sudah mengetahui posisi kami berdua. Jantungku pun semakin berdetak dengan cepat dan keringatku pun membanjir.
__ADS_1
Sreeeet ...
Alhamdulillah ... setelah ditunggu-tunggu akhirnya hantu Satpam itu pun kembali berjalan menuju arah dinding. Terlintas di pikiranku bahwa setelah hantu itu memeriksa lorong di antara rak nomor dua dan nomor tiga, maka setelah itu ia lakukan, pasti ia akan bergerak mencari korbannya di antara rak nomor satu dan nomor dua. Dan itu adalah posisi kami berada saat ini.
Menyadari hal itu, aku pun segera mengambil keputusan untuk bergerak agar bisa lolos dari bahaya yang akan mengancam kami berdua. Kali ini aku bergerak ke arah luar, berlawanan dengan arah pergerakan hantu Satpam itu. Jadi, hantu Satpam itu bergerak ke arah dinding, sedangkan aku bergerak ke arah luar. Tentunya, dalam pergerakannya, aku harus melakukannya dengan sangat hati-hati dan mengupayakan untuk tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Bu Iis sempat bereaksi ketika aku mulai berjalan. Saat itu ia tidak berani berbicara, hanya menggunakan bahasa isyarat. Aku menjawabnya dengan bahasa isyarat juga. Dan Bu Iis pun paham dengan maksudku. Kami pun bergerak bersama menuju ke arah luar. Suara langkah diseret yang semula terdengar keras, perlahan semakin melemah sebagai tanda bahwa antara kami berdua dan sosok hantu Satpam itu bergerak saling menjauhi.
Pada saat itu, kami bergerak berdua tidak dalam tempo yang cepat mengingat kami harus berhati-hati agar pergerakan kami berdua tidak menimbulkan suara yang dapat didengar oleh hantu Satpam tersebut. Alhasil, kami berdua butuh waktu yang cukup lama untuk bergerak keluar dari lorong di antara rak nomer satu dan dua ini. Berada dalam posisi seperti itu, tak ayal membuat jantung kami semakin berdetak tidak karuan. Keringat dingin benar-benar membanjiri tubuh kami, dan juga tarikan napas kami menjadi semakin berat saja.
Kami berdua masih tetap bergerak secara lambat untuk dapat mencapai ujung rak. Sedangkan di samping kami, saat ini hantu Satpam sedang bergerak ke luar dari lorong sambil mendesah begitu mengerikan.
Pegangan Bu Iis di lengan kiriku semakin kuat saja sebagai tanda bahwa beliau berada pada puncak ketakutannya. Suara ******* pria berwajah pucat itu semakin keras saja terdengar di telinga kami berdua membuat bulu kuduk kami benar-benar berdiri saat itu. Tangan kiriku sudah berhasil mencapai ujung rak, diikuti oleh tubuhku yang beringsut mendekati tangan kiriku. Aku menoleh ke arah kanan, di sana hantu Satpam itu sudah hampir mencapai ujung rak juga. Aku dan Bu Iis bergegas untuk mencapai ujung rak dan berputar ke samping menuju ruang kosong di antara rak nomor satu dan pintu keluar. Bu Iis berhasil bergukir ke samping tepat saat hantu Satpam itu akan berbelok menuju ke arah kami.
__ADS_1
ARRGGGGH ...
Suara ******* hantu Satpam itu terdengar begitu keras karena saat ini posisi kami sudah sangat dekat. Saat itu kami berdua tidak berani bergerak terlebih dahulu karena kami sibuk menutup suara napas kami yang ngos-ngosan akibat menahan rasa takut. Kami hanya menunggu dan menunggu saat di mana hantu Satpam itu kembali berjalan menuju ke arah dinding agar kami bisa segera ke luar dari ruangan ini. Saat itu perasaan kami benar-benar dag-dig-dug karena suara ******* itu tiba-tiba tidak kami dengar lagi. Kami bingung, kenapa suara ******* itu tiba-tiba menghilang? Sedangkan untuk kengintip ke arah sebelah tentunya kami tidak berani.
Bu Iis yang kali ini berada paling dekat posisinya dengan hantu Satpam itu terlihat kebingungan dan panik. Raut wajahnya menunjukkan rasa takut yang amat sangat. Kami berdua saat itu berdiri sambil bersandar pada rak nomor satu. Bu Iis kali ini berpegangan pada tangan kananku. Kami menduga hantu Satpam saat ini sedang berada di belakang Bu Iis dalam jarak beberapa meter, tapi keduanya dipisahkan oleh rak yang berisi penuh dengan dokumen. Bu Iis menoleh ke arahku dan menunjukkan raut wajah yang sangat ketakutan. Aku menoleh ke arah Bu Iis, tapi pandanganku tidak tertuju pada wajah Bu Iis, melainkan ke arah lantai di bawah kaki Bu Iis.
"Astagfirullah ...,"
BERSAMBUNG
Hai, Kak. Terima kasih sudah mengikuti novel SEKOLAH HANTU dengan setia. Hm ... Aku mau ngasih julukan ke kalian mulai hari ini yaitu JUNAN LOVERS. Gimana? Keren kan? Tulis di komentar kalau Kakak punya nama lain yang lebih unik. Sertakan juga alasannya.
__ADS_1
Sampai jumpa di episode mendatang, ya, JUNAN LOVERS!!!!