
Tiba-Tiba aku mendengar suara teriakan keras dari arah belakangku.
"Hei ... Turun! Tidak boleh ada yang naik ke atas!" teriakan itu sangat keras keluar dari mulut seorang wanita.
Aku menoleh ke belakang. Ternyata yang sedang berteriak adalah Bu Nonik. Matanya melotot tajam ke arahku. Aku pun segera turun kembali ke tempatku semula.
"Maaf, Bu. Saya ...," ucapku dengan suara lirih.
"Kamu mau ngapain di atas? Apa kamu tidak tahu bahwa tak seorang pun boleh naik ke atas. Kamu bisa baca larangan itu, nggak?" teriak Bu Nonik sambil menunjuk ke sebuah papan yang berada di samping tangga. Ternyata, aku baru tahu sekarang keberadaan papan larangan itu.
"Ke-Kenapa nggak boleh ada yang ke atas, Bu?" Aku spontan bertanya.
"Kamu lancang, ya? Namanya nggak boleh, yw, nggak boleh. Nggak usah banyak bertanya. Lagipula ini kan masih belum jam istirahat, kenapa kamu sudah keluyuran?" ujar Bu Nonik masih dengan berteriak.
"M-m-maaf, Bu. Tadi saya ijin ke belakang untuk buang air kecil," jawabku terbata-bata.
"Ya sudah. Kalau sudah selesai buang air kecil kenapa kamu masih keluyuran? Cepat balik ke kelas kamu atau kamu mau dihukum?" teriak Bu Nonik lagi membuatku keder.
"Enggak, Bu. Saya mohon maaf. Saya mau kembali ke kelas sekarang," jawabku dengan menunduk untuk meredakan emosi guru BP-ku itu.
"Ya sudah. Buruan masuk ke kelas sebelum saya berubah pikiran," ujar Bu Nonik dengan nada mulai rendah.
"Terima kasih banyak, Bu," jawabku sambil berjalan dengan tergesa-gesa menyusuri koridor dan masuk ke dalam kelas. Ketika aku berjalan meninggalkan Bu Nonik, aku menoleh sekilas ke arah guru BP-ku itu. Bu Nonik nampak melihat ke atas tangga dan segera menuju ke dalam perpustakaan seperti sedang ketakutan.
Pada saat jam istirahat, aku bertemu dengan Bondan di kantin. Kami sama-sama memesan bakso. Kebetulan stand bakso ini letaknya di pojok dan letak kantin berada di pojok sebelah timur sekolah, tepat di balik laboratorium IPA.
Aku dan Bondan menikmati bakso sambil duduk saling berhadapan.
"Ndan tadi aku kena marah Bu Nonik lagi," Aku mengawali cerita.
"Emangnya kenapa, kok, Bu Nonik sampai marahin kamu lagi, Im?" tanya Bondan
"Tadi, pas aku ke kamar mandi aku sekilas melihat Satpam itu naik ke atas tangga di sebelah ruangan Perpus itu. Karena penasaran aku bermaksud mengikutinya dengan naik ke atas tangga itu juga," jawabku.
"Tangga yang ada tulisan larangan untuk dinaiki itu?" tanya Bondan.
"Iya, aku tidak tahu kalau ada larangan untuk menaikinya makanya aku naik," jawabku.
__ADS_1
"Tulisannya besar banget kok, Im, masa kamu nggak kelihatan?" tanya Bondan.
"Aku beneran baru tahu tadi tulisan larangan tersebut setelah diberitahu oleh Bu Nonik," jawabku.
"Terus gimana? Apa kamu sampai dihukum oleh beliau?" Bondan bertanya lagi.
"Syukurlah tidak sampai dihukum, Ndan. Tapi, aku merasa ada yang janggal dengan ruangan di atas Perpus itu," ujarku.
"Janggal bagaimana maksudmu, Im?" tanya temanku itu.
"Kalau memang tangga itu tidak boleh dinaiki, kenapa Satpam itu tetap naik ke atas?" protesku.
"Yw, mungkin itu pengecualian bagi Satpam yang bertugas menjaga keamanan di sekolah ini," jawab Bondan.
"Tidak hanya itu, Ndan. Sebelum Bu Nonik meninggalkan kaki tangga, ia sempat menoleh ke atas dan melakukan ekspresi seperti ketakutan begitu," ucapku.
"Oh ya?" pekik Bondan tidak percaya
"Iya, Ndan. Aku yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh guru-guru terhadap para siswa," ujarku.
"Maksudmu, ruangan di atas perpustakaan itu menyimpan suatu misteri?" tanya Bondan.
"Terus, apa yang harus kita lakukan, Im?" tanya Bondan.
"Bagaimana kalau kita diam-diam menyelinap ke ruangan itu?" bisikku perlahan kepada Bondan.
"Gila kamu, Im!" suara yang keluar dari mulut Bondan begitu mendengar ideku.
TEEEEEET TEEEEEET TEEEEEEET
Akhirnya bel pun berbunyi sebagai pertanda bahwa semua siswa harus kembali ke kelasnya masing-masing untuk melanjutkan agenda MOS. Dalam waktu beberapa menit saja, kantin yang semula ramai dikunjungi pembeli mendadak menjadi sepi karena ditinggalkan oleh para siswa menuju ke kelasnya masing-masing. Hanya menyisakan beberapa pedagang yang berada di kantin dan kami berdua saja. Kami berdua pun segera menyusul teman-teman yang lain untuk kembali ke dalam kelas. Baru saja kami berdua melangkah meninggalkan kantin, tiba-tiba ada suara seseorang memanggil kami dari belakang.
"Hei ...," panggil anak perempuan itu.
Aku dan temanku menoleh ke arah sumber suara.
"Siapa, ya?" pekikku dengan mata memicing.
__ADS_1
"Kamu memanggil kami berdua?" tanya Bondan pada anak perempuan itu.
Anak cewek berjilbab itu pun datang menghampiri kami berdua yang sedang kebingungan.
"Kenalkan nama saya Indah," ujar anak perempuan mungil itu sambil mengulurkan tangannya kepadaku.
"Saya Imran," jawabku sambil membalas jabatan tangannya.
Setelah berjabatan tangan denganku, anak perempuan itu pun mengajak Bondan berjabat tangan.
"Indah," ujar gadis itu.
"Bondan," balas Bondan.
Kami berdua masih kebingungan dan bertanya-tanya mengapa tiba-tiba Indah memanggil kami dan mengajak berkenalan.
"Ada apa ya, Mbak ... eh Ndah?" tanyaku lagi semakin penasaran.
"Kalian berdua pasti bingung, kan, kenapa tiba-tiba aku samperin?" tanya Indah dengan tenangnya.
Indah ini anaknya mungil dan kulitnya cerah. Dari gaya bicaranya ia terlihat sangat tenang dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi.
"Iya, kami berdua bingung. Ada apa sebenanrya?" tanyaku lagi.
"Begini. Biar aku jawab sambil jalan saja, ya, biar kita tidak terlambat masuk ke dalam kelas," ujar Indah sambil mengambil tempat di antara aku dan Bondan. Kami pun berjalan beriringan menuju ke kelas, tapi kami sengaja memberi sedikit jarak karena menghormati jilbab yang dipakai oleh Indah.
"Begini, Im. Aku tadi berada di dalam kamar mandi sewaktu kamu dimarahi oleh Bu Nonik. Aku sempat menguping apa yang kamu perbincangkan dengan Bu Nonik," tutur Indah.
"Oh, ya?" Aku terkejut mendengar pengakuan gadis tersebut.
"Aku sengaja tidak keluar kamar mandi karena takut kena marah juga oleh Bu Nonik. Kamu naik ke atas karena mengejar seseorang kan, Im?" tanya Indah tiba-tiba.
"I-i-iya. Dari mana kamu tahu?" Aku balik bertanya.
"Karena aku juga mendengar suara langkah kaki menuju ke atas loteng sebelum kamu naik. Bahkan, beberapa menit sebelumnya, aku mendengar suara langkah kaki yang sama sedang mondar-mandir di sekitar kamar mandi. Tapi, pas aku intip ke luar, ternyata tidak ada siapa-siapa di sana," jawab Indah dengan mata penuh kebingungan.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Santap sahur pake telor ceplok
Bonus update biar untuk pembaca yang elok