
Belajar dari pengalaman sebelumnya, akhirnya Faisal, Roni, dan Andre pun bergerak dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara gesekan yang dapat membuat salah satu bilah kayu terlepas ke jurang. Dengan penuh kehati-hatian akhirnya kami berenam sudah berada di atas bilah kayu masing.
Aku menghela napas panjang begitu melihat pemandangan di bawah jembatan. Di bawah sana terdapat rongga besar yang berasap. Kami tidak tahu seberapa dalam sungai yang ada di bawah kami. Yang jelas suara aliran airnya terdengar bergemuruh di bawah sana.
"Ayo, melangkah lagi, Faisal! Jangan sampai kita kehabisan waktu!" teriak Ikbal yang berada tepat di depanku
"Iya, Dinda. Kita semua harus berhati-hati. Jangan sampai ada bilah kayu yang terlepas lagi di ujung sana!" teriak Faisal.
Faisal pun mulai bergerak satu langkah menuju bilah berikutnya dan diikuti oleh kelima anak yang lain termasuk aku.
Kami semua menarik napas lega begitu gerakan satu langkah ini berhasil kita lakukan tanpa adanya bilah yang terjatuh. Setelah menarik napas, kembali Faisal maju satu langkah dan diikuti oleh kelima anak yang lain. Lagi-lagi kami berhasil melakukannya dengan mulus, hingga akhirnya Faisal sudah sampai pada bilah kayu ke sembilan.
Breeek ...
"Oooo ...," kami semua terkejut.
"Ada apa, Im?" tanya Roni.
"Salah satu tali diputuskan oleh petugasnya!" jawabku sembari menoleh ke arah belakang.
"Ingat, talinya kan diputuskan satu persatu setiap setengah menit," ujar petugas penjaga.
"Oh, tidak. Bisakah kita menyeberang semua dengan selamat?" pekik Dinda ketakutan.
"Tenang, Din. Kita harus menghadapi ini semua dengan penuh kehati-hatian. Kita harus tetap fokus dan tidak panik agar tidak melakukan kesalahan yang kedua," ujar Faisal.
"Sal, apakah kamu dapat menghitung berapa jumlah bilah kayu yang ada di depanmu?" teriakku pada Faisal.
__ADS_1
"Iya, Sal. Coba hitung jumlah bilah kayu yang ada di depan, agar kita bisa memperkirakan berapa lama yang kita butuhkan untuk sampai di seberang!" tambah Ikbal.
"Oke ... saya akn mencoba menghitungnya. Satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan sepuluh sebelas dua belas tiga belas empat belas lima belas enam belas tujuh belas delapan belas sembilan belas dua puluh dua puluh satu dua puluh dua dua puluh tiga dua puluh empat dua puluh lima dua puluh enam dua puluh tujuh dua puluh delapan dua puluh sembilan tiga puluh tiga puluh satu tiga puluh dua tiga puluh tiga tiga puluh empat tiga puluh lima tiga puluh enam tiga puluh tujuh tiga puluh delapan tiga puluh sembilan empat puluh empat puluh satu empat puluh dua empat puluh tiga empat puluh empat empat puluh lima empat puluh enam empat puluh tujuh empat puluh delapan empat puluh sembilan lima puluh lima puluh satu lima puluh dua lima puluh tiga lima puluh empat lima puluh lima lima puluh enam lima puluh tujuh lima puluh delapan lima puluh sembilan enam puluh enam puluh satu enam puluh dua enam puluh tiga ...," Faisal memfokuskan matanya untuk menghitung jumlah bilah kayu yang ada di depannya. Kami sengaja diam agar tidak mengganggu konsentrasi Faisal.
"Kenapa berhenti, Sal?" tanya Ikbal kemudian.
"Aku tidak kelihatan lagi, Bal. Sepertinya masih ada lagi setelah hitungan ke enam puluh tiga," jawab Faisal.
"Loh, gimana ini?" tanya Ikbal.
"Tubuhku kurang tinggi, Bal, untuk dapat menghitung bilah selanjutnya," jawab Faisal.
"Hm ... gimana kalau Roni yang melanjutkan hitungannya? Bukankah tubuh Roni tinggi, dan ia ada tepat di sebelahmu?" Aku menyampaikan ide.
"Iya, benar. Aku setuju dengan idemu, Im. Ayo, Ron, lanjutkan ngitungnya?" ujar Dinda dengan gemetat.
"Oke. Dari posisiku memang terlihat semuanya sampai ke ujung. Aku akan menghitungnya lagi dsri awal," ujar Roni.
"Oke. Sal, kamu tadi ngitungnya sampai di mana?" tanya Roni kepada Faisal.
Faisal tertegun sesaat. Pandangannya lurus ke depan. Kemudian ia menunjuk ke depan sambil diperhatikan oleh Roni.
"Tadi aku ngitungnya sampai bilah kayu yang agak renggang itu," ujar Faisal.
"Yang mana, Sal? Semua bilah kayu kelihatan sama, kok?" protes Roni.
"Itu, Ron. Yang seperti terlihat ada dua garis biru eh hitam," jawab Faisal dengan ngeyel.
__ADS_1
"Dua garis biru, kan artinya hamil, Sal. Masa bilah kayu bisa hamil? Ada-Ada saja kamu," ujar Roni.
"Kamu ini, lagi tegang-tegang begini malah ngajak bercanda, Ron," ujar Faisal.
"Oke. Aku sudah tau bilah kayu yang kamu maksud. Aku akan melanjutkannya sampai ujung. Enam puluh empat enam puluh lima enam puluh enam enam puluh tujuh enam puluh delapan enam puluh sembilan tujuh puluh tujuh puluh satu tujuh puluh dua tujuh puluh tiga tujuh puluh empat tujuh puluh lima. Oke semua bilah kayu yang ada di depan Faisal berjumlah tujuh puluh lima," ujar Roni.
"Tujuh puluh lima dibagi sembilan menghasilkan delapan lebih. Itu artinya akan ada delapan lagi tali yang putus ketika aku sampai di ujung. Delapan ditambah satu yang putus barusan berarti semuanya sembilan. Jadi, ketika aku sampai di seberang, masih ada satu tali yang mengikat jembatan ini. Dan itu tandanya kita akan selamat semuanya dengan bergerak seperti barusan secara konsisten." Faisal membuat hitung-hitungan untuk menganalisanya.
"Horeeeeee ... Ayo, buruan kita bergerak. Kita buktikan pada Nyi Sukma bahwa kita ini sanggup menghadapi semua tantangan yang ia berikan!" teriak Ikbal.
"Tunggu, Sal. Yang kamu hitung barusan itu, kan, dari posisimu. Coba di hitung dari posisiku. Tujuh puluh lima ditambah lima sama dengan delapan puluh. Delapan puluh dibagi sembilan sama dengan delapan koma sembilan. Hampir ke sembilan, itu pun kalau tidak dikurangi dengan waktu kita diam sekarang. Jadi, dengan hitungan setengah menit menempuh sembilan bilah kayu, maka aku dan Ikbal bisa saja tertinggal di belakang," jawabku didengarkan oleh mereka yang lain.
"Ya Allah ... benar hitungannya Imran. Berarti sekarang kita harus bergerak lebih cepat dari tadi agar kita semua bisa menyeberang dengan selamat," ujar Faisal.
"Ayoooo!!!" jawab teman-teman.
Kami pun melangkah ke bilah selanjutnya dengan perasaan tidak menentu. Baru saja melangkah enam bilah, tiba-tiba salah satu tali kembali diputus oleh petugas di belakang.
"Ya Tuhan!!!" pekik kami semua karena terkejut.
Teman-Teman aemua menoleh ke arah aku dan Ikbal. Sepertinya mereka mulai kepikiran dengan nasib aku dan Ikbal selanjutnya setelah mengetahui hasil hitung kecepatan yang sebenanrnya.
"Ayo, buruan, Sal! Kita harus mengejar ketertinggalan ini" teriak Dinda agak panik.
"Iya, Din!" jawab Faisal dengan gemetaran.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Masih mau lagi?
Like dan komentar yang banyak, dong! Jangan cuma diread aja. Ntar bintitan.