SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 46 ALIBI


__ADS_3

Kami berdua menghela napas panjang begitu mengetahui ternyata Satpam di depan kami bukanlah hantu Satpam yang kami temui di lantai atas, melainkan Satpam asli yang tadi meminjam uang kepada Bu Iis. Sewaktu dikejar oleh hantu Satpam tadi, suasana terasa hening sekali. Sedangkan saat ini suara hiruk pikuk siswa di dalam kelas benar-benar ramai. Perasaan takut yang tadi kami rasakan mendadak sirna seketika.


Bu Iis langsung bersuara dengan keras begitu mengetahui wajah orang yang berada di depan kami.


"Ealah, kamu, Pak. Bikin kaget orang saja," ujar Bu Iis dengan nada kesal.


"Dari mana kalian berdua? Kok sampai ngos-ngosan begini?" Pak Satpam sekolah balik bertanya.


"Sudah, nggak usah banyak tanya. Saya baru saja selesai menyelesaikan pekerjaan yang diminta oleh Pak Kepala Sekolah," jawab Bu Iis ketus.


"Terus, anak ini ngapain? Bukankah harusnya ia masuk ke kelas?" Pak Satpam bertanya lagi.


"Anak ini tadi sengaja saya minta untuk membantu saya, Pak Narso," jawab Bu Iis masih dengan nada ketus.


"Pekerjaan apa, sih?" Pak Satpam yang ternyata bernama Narso itu kembali mengajukan pertanyaan kepada Bu Iis.


"Sudahlah, kamu tidak usah ikut campur urusan saya," ucap Bu Iis kesal.


"Kamu kok galak begitu sih, Is ... Eh, Bu Iis?" Pak Satpam menyahut dengan nada sedikit menggoda.


"Pak Narso yang saya hormati. Jaga cara bicara Bapak di depan siswa kita, ya?" Bu Iis berkata dengan nada sedikit ditekan.


"Iya. Maaf, Bu Iis. Barusan saya khilaf. Tapo, Bu Iis tidak kenapa-kenapa, kan? Saya lihat tadi Bu Iis kepeleset. Apa tidak ada yang terluka? Biar saya ambilkan obat merah kalau memang ada yang luka. Entah Bu Iis atau Mas ... Siapa namamu, Mas?" Pak Narso tiba-tiba menoleh ke arahku.


"Imran, Pak," jawabku sopan.


"Iya. Ada yang luka, Mas Imran?" tanya Pak Narso.


"Mboten, Pak. Alhamdulillah, tadi kita cuma tergelincir sedikit saja," jawabku kalem.


"Kamu nggak apa-apa juga kan, Bu Iis?" tanya Pak Narso dengan nada sedikit mendayu khas seperti seorang laki-laki merayu pada perempuan yang sedang merajuk.


"Saya tidak apa-apa. Oh, ya ... Pak Narso mau bantuin saya, nggak?" ujar Bu Iis tiba-tiba dengan wajah sumringah khas orang yang sedang meratu orang lain untuk membantunya.


"Boleh. Emangnya Bu Iis butuh bantuan apa?" Pak Narso menyambut baik permintaan Bu Iis.


"Saya ada dua permintaan pada Pak Narso," ujar Bu Iis.

__ADS_1


"Apa saja, Bu Iis?" tanya Pak Narso.


"Yang pertama saya minta Pak Narso nungguin saya di sini. Saya mau ganti baju di kamar mandi. Pak Narso tolong jaga saya. Tapi, nggak boleh deket-deket jaganya supaya tidak menimbulkan fitnah. Tapi, jangan sampai jauh-jauh juga," tukas Bu Iis.


"Tumben, Bu Iis minta dijagain?" tanya Pak Narso.


"Sudah. Pak Narso nggak perlu banyak bertanya. Atau Pak Narso mau saya omelin lagi?" cetus Bu Iis.


"Oke ... oke ... tugas pertama siap saya laksanakan. Terus, apa tugas yang kedua?" tanya Pak Narso lagi.


"Hm ... Pak Narso mau saya tetap bertugas di perpustakaan ini atau saya kembali ke bagian tata usaha?" Bu Iis bertanya.


"Apa maksud Bu Iis bertanya demikian?" Pak Narso balik bertanya.


"Begini, Pak. Kalau saya tetap ditugaskan di perpustakaan, otomatis saya tetap mendapatkan uang transport untuk pembelian buku dan sebagainya. Otomatis saya masih bisa sering-sering meminjami Pak Narso uang. Tapi, kalau saya kembali ditugaskan sebagai tenaga tata usaha, mohon maaf kalau saya tidak bisa memberikan pinjaman uang lagi kepada Pak Narso. Itu maksud saya," jawab Bu Iis dengan lugas.


"Oh, tentunya saya lebih senang kalau Bu Iis tetap bertugas di bagian perpustakaan, dong," jawab Pak Narso secara spontan.


"Nah, kalau begitu Pak Narso harus siap-siap membantu saya, dong?" ujar Bu Iis.


"Membantu apa, Bu?" Pak Narso makin penasaran.


"Hm ... Gimana, ya? Bu Iis tahu sendiri, kan? Saya harus sering berjaga di depan. Takutnya ada tamu dari dinas atau dari wali murid," ujar Pak Narso.


"Masa sih, di sela-sela itu Pak Narso tidak bisa datang ke perpustakaan? Nanti saya buatkan kopi deh kalau ke sini," ujar Bu Iis.


"Hm ... Oke lah kalau begitu," jawab Pak Narso kalem.


"Giliran ada kopi malah semangat," cetus Bu Iis.


"Namanya juga laki-laki, Bu Iis. Hobinya pasti merokok sambil ngopi," ujar Pak Narso.


"Hus! Ada Imran tuh!" potong Bu Iis.


"Eh, iya. Maaf, lupa," jawab Pak Narso spontan.


Aku hanya mendengarkan pembicaraan mereka berdua tanpa berani menyahut karena merasa tidak pantas menyela pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Im, mana kuncinya? Silakan kamu balik ke kelas. Terima kasih banyak, ya?" ujar Bu Iis kemudian.


"Sama-Sama, Bu. Ini kuncinya. Saya mau ke kelas dulu, Pak ... Bu ... assalamualaikum," ucapku.


"Waalaikumsalam ...," jawab mereka berdua.


"Tak tinggal dulu, Pak. Awas! Tungguin di situ!" ucap Bu Iis sambil berjalan ke dalam ruang perpustakaan. Mungkin untuk mengambil baju ganti.


"Iya ... Iya ... Di sini kok kayak bau pesing, ya, Bu?" ujar Pak Narso tiba-tiba.


Aku kaget dan sekaligus geli dengan ucapan Pak Narso. Aku jadi teringat dengan Bu Iis yang saking takutnya sampai ngompol di roknya.


"Pak Narso ini kayak nggak tahu saja. Di sini itu banyak tikus curutnya. Pasti ada tikus yang habis kencing di sekitar sini," jawab Bu Iis berbohong.


Aku semakin geli saja mendengar jawaban Bu Iis. Hanya aku dan Bu Iis yang tahu akan hal itu. Bukankah guru juga manusia? Wajar saja kalau Bu Iis sampai kencing di roknya. Namanya juga takut.


"Tapi, pesingnya beda ini, Bu? Masa kencing tikus kayak gini?" pertanyaan yang sayup-sayup kudengar ketika berjalan menuju kelasku.


"Tenang, Pak. Habis ini saya pel lantainya. Tapi, ingat! Sampean jangan ke mana-mana!" ujar Bu Iis yang terdengar sayup-sayup.


Pada saat aku masuk ke dalam kelas, kakak pembina OSIS sempat menanyaiku, tapi aku menjawab bahwa aku baru selesai membantu Bu Iis sambil menunjukkan dokumen tebal yang aku bawa. Mereka pun tidak memberiku hukuman. Aku mengambil tempat duduk di sebelah Bondan dan mengikuti materi dari kakak pembina OSIS.


"Im, gimana?" bisik Bondan.


"Beres, Ndan," jawabku sambil menunjukkan dokumen penting yang sedang kubawa. Untunglah, Bu Iis tidak mencurigaiku karena ia tadi terlalu sibuk untuk membuat alibi kepada Pak Narso.


Sebenarnya hasil kerjaku hari ini bukan hanya dokumen itu, tapi ada satu benda lain yang jauh lebih berharga dari dokumen itu.


BERSAMBUNG


Benda apa, ya, kira-kira yang diperoleh oleh Imran?


Pasti penasaran, nih!


Mau tahu?


Silakan berikan like, komen, dan vote kalian pada bab ini.

__ADS_1


Atau ada yang bisa nebak?


JUNAN LOVERS pasti bisa nebak, benda apa yang diperoleh oleh Imran.


__ADS_2