SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 83 : BUKAN KOLAM BIASA


__ADS_3

Saat itu kami benar-benar kaget karena strategi yang kita pilih ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Dengan model permainan yang seperti ini tentunya aku dan Dinda yang akan kesulitan karena harus berpasangan dengan Andre dan Roni yang notabene memiliki tubuh yang jauh lebih besar dari kami. Seandainya kami tahu bahwa permainannya akan seperti ini, tentunya kami akan memasangkan Roni dengan Andre agar seimbang. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Apapun itu, kami sudah tidak bisa untuk menghindar. Ibarat kata, nasib kami sudah berada di ujung tanduk. Maju kemungkinan berhasilnya sangat kecil, mundur juga berarti kami kalah.


"Ya Allah, selamatkan kami semuanya," suaraku lirih.


"Im, aku mau pulang. Aku tidak mau tinggal di sini, Im," lirih Dinda.


"Baiklah, saya akan memanggil dua orang untuk melakukan atraksi yang pertama," teriak pengawas yang berada di lokasi tersebut.


"Ya Allah ... kami belum siap untuk mendapatkan kenyataan ini," gumamku lirih.


"Pasangan pertama, Faisal dan Ikbal. Silakan kalian berdua maju sebagai urutan pertama," panggil pengawas itu.


Faisal dan Ikbal pun langsung bangkit berdiri untuk memenuhi panggilan petugas penjaga. Mereka berdua tampak sedang melakukan pemanasan untuk menghindari terjadinya kram. Setelah melakukan pemanasan mereka berdua pun turun ke kolam.


"Oke, silakan kalian berdua bersiap-siap!" perintah petugas penjaga.


Beberapa detik kemudian, petugas penjaga itu pun meniup peluitnya sebagai tanda bahwa salah satu dari temanku harus naik ke punggung temanku yang lain. Aku perhatikan Ikbal naik ke punggung Faisal.


"Satu ... dua ... tiga ...," teriak penjaga sambil meniup peluit yang ia pegang.


Faisal pun mulai berenang dengan membawa Ikbal di punggungnya. Dari caranya berenang Faisal sepertinya sudah sangat mahir. Dengan cekatannya ia membawa Ikbal di punggungnya. Tak sampai lima menit, ia pun berhasil membawa Ikbal sampai di ujung kolam renang yang sebelah sana.


Sesampai di ujung sana giliran Ikbal yang harus membawa Faisal di punggungnya. Setelah itu Ikbal pun berenang berlawanan arah dengan yang dilakukan oleh Faisal sebelumnya. Ikbal ini gerakannya lebih cekatan dari Faisal. Tak butuh waktu lama bagi Ikbal untuk sampai ke tengah kolam. Kami yang melihat atraksi mereka pun ikut senang ketika mengetahui bahwa sebentar lagi mereka berdua akan lolos dari maut. Meskipun kami berempat sebenarnya masih dredeg karena sebentar lagi akan tiba giliran kami untuk bertaruh nyawa.


"Bal ... Kenapa berhenti?" tanya Faisal.

__ADS_1


"Itu, Sal ... di depan kita ada Yoyok. Yoyok melarang kita ke sana," jawab Ikbal.


"Tidak, Bal. Di depan tidak ada siapa-siapa. Ayo, buruan kita ke depan. Sebentar lagi kita akan menyelesaikan tantangan ini," pekik Faisal.


"Tidak, Sal. Apa kamu tidak melihat. Di depan sana ada Yoyok sedang melambaikan tangan melarangku ke sana," protes Ikbal.


"Baaaaaaaal!!!!" Ayo buruan ke depan!" teriak Roni berusaha menyadarkan Ikbal.


"Tidaaaaaaak!!!! Yoyok melarangku, Ron. Tidak mungkin aku ke sana," jawab Ikbal dengan napas terengah.


"Jangan tertipu apapun, Bal! Buruan kamu berenang maju sebelum napasmu habis!" teriak Dinda juga berusaha mennyadarkan Ikbal.


"Tidak, Diiiiin!!! Ada Yoyok di sana. Ia melarangku ke sana!" jawab Ikbal dengan tubuh yang makin melemah karena terlalu lama berenang di tengah kolam.


"Baaaaaal!!! Baca doa Balll!!! Tenangkan pikiranmu!!! teriakku kepada Ikbal.


"Ya Tuhan ... ternyata tidak ada siapa-siapa di sana! Ayo, Sal pegangan yang kuat. Tenagaku sudah hampir habis. Napasku juga sudah mau habis," ucap Ikbal sambil berusaha berenang menuju ke arah depan. Akhirnya dengan sisa-sisa tenaganya yang mulai melemah, Ikbal berhasil berenang ke ujung kolam dengan menggendong Faisal.


"Alhamdulillah!!!" pekik Faisal sambil menarik tubuh Ikbal yang lemas ke atas kolam.


"Syukurlah, kamu cepat sadar, Bal. Kalau tidak, kita berdua pasti sudah mati akibat gagal di tantangan ini," ucap Faisal sambil memijati punggung Ikbal.


"Terima kasih teman-teman. Berkat bantuan kaliam semua akhirnya kami berdua bisa lolos dari tantangan ini," sahut Ikbal setelahnya.


"Iya, Bal. Sama-Sama. Doakan kami juga, ya, agar kami dapat segera menyelesaikan tantangan kedua ini dengan selamat," jawabku.

__ADS_1


"Aamiiiin ...," jawab semua teman-temanku itu.


"Sekarang giliran pasangan kedua. Silakan Imran dan Andre menuju ke posisinya masing-masing. Semoga kalian berdua juga bisa lolos seperti pasangan sebelumnya," ucap penjaga.


Mendengar perintah penjaga itu, aku dan Andre pun segera melakukan pemanasan di atas kolam renang agar tidak mengalami kram ketika bersentuhan dengan dinginnya kolam itu. Setelah peluit dibunyikan oleh penjaga, kami berdua pun turun ke air.


"Ayo, Im, naik ke punggungku dan berpeganganlah dengan kuat supaya tidak terjatuh saat kugendong!" ucap Andre yang tubuhnya padat berisi itu.


"Baiklah, Ndre," jawabku sembari langsung naik ke punggung temanku itu.


Setelah peluit ditiup, Andre pun segera berenang dengan kecepatan tinggi ke sisi kolam renang yang lain. Tak sampai hitungan menit, Andre sudah berhasil menggendongku menuju ke ujung kolam.


"Sekarang giliran kamu menggendongku, Im," ujar Andre sembari naik ke punggungku.


"Ya Tuhan ternyata tubuh Andre ini benar-benar berat sekali," keluhku di dalam hati.


Aku sempat kebingungan juga apakah aku mampu menggendong Andre ke ujung kolam renang. Saat aku berpikir seperti itu, tiba-tiba kolam renang di depanku terlihat memiliki arus yang sangat deras dan ada jurang di depan. Menyadari hal itu adalah tipuan dari Nyi Sukma, aku pun membaca doa-doa untuk mengembalikan kondisi yang seharusnya. Benar saja, kolam yang semula terlihat menyeramkan kini terlihat normal kembali. Sayangnya tubuh Andre tetap saja terasa berat di punggungku.


"Bismillahirrohmanirrohiiim ...," pekikku sembari memberikan tolakan sekuat mungkin ke dinding kolam. Tubuh berdua kami pun meluncur hingga ke tengah kolam. Setelah itu aku pun berenang sekuat tenaga sambil membawa Andre di punggungku. Tubuh kami timbul tenggelam di dalam kolam renang karena aku harus menahan beban yang sangat berat di punggungku. Di pinggir kolam, keempat temanku memberikan dukungan kepada kami agar bisa sampai di pinggir kolam dengan selamat. Akhirnya berkat dorongan semangat teman-teman dan pertolongan Allah SWT, akhirnya aku pun berhasil membawa Andre sampai ke pinggir kolam, meskipun mulutku harus meminum air kolam tanpa sengaja karena beberapa kali hampir tenggelam. Ada keanehan ketika aku tanpa sengaja meminum air kolam ini. Air itu seakan mencekik di leher dan air itu pun kembali keluar dari kerongkonganku saat aku muntah di pinggir kolam.


"Selamat ya, Im ... Ndre ... Akhirnya kalian lolos," ucap Dinda dan Roni.


Aku cemas begitu melihat wajah mereka berdua yang seperti ketakutan. Perbandingan tubuh mereka berdua memang sangat jauh. Aku saja yang menggendong Andre mengalami kesulitan apalagi Dinda.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Jangan lupa membaca NOVEL MARANTI. Saat ini novel berjudul MARANTI sedang on going seasin ketiga. Ceritanya serem abis ...


__ADS_2