SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 77 : JATMIKO


__ADS_3

Aku tiba-tiba ingat Ikbal barusan menyebut nama SMA Pejuang. Aku jadi teringat dengan temanku Cindy yang tahun ini bersekolah di sana.


"Bal, kamu kelas berapa di SMA Pejuang?" tanyaku.


"Aku siswa baru di sana. Kenapa memangnya?" Ikbal balik bertanya.


"Kamu kenal Cindy? Dia anak baru juga di SMA Pejuang," ujarku.


"Cindy yang dari SMP Karangjati?" tanya Ikbal.


"Iya. Dia satu SMP denganku," jawabku.


"Siapa yang tidak kenal anak itu, Im. Dia siswa baru yang jadi incaran anak-anak cowok di sekolahku. Termasuk incaran kakak kelas," jawabnya polos.


"Beneran, Bal?" Aku memekik tidak percaya


"Bener, Im. Termasuk aku juga sih ikutan naksir sama anak itu," jawab Ikbal.


"He he he ... Yakin?" tanyaku.


"Yakin lah. Tapi, kayaknya Cindy itu nggak demen sama cowok deh!" ujar Ikbal.


"Maksudmu apa berkata begitu tentang temanku?" Aku bersuara agak keras.


"Lah, habisnya semua cowok ia tolak. Tidak ada satu pun yang ia terima," jawab Ikbal


"Dia itu normal, kok, Bal. Mungkin dia mau serius sekolah. Nggak kayak kamu, maunya jadi playboy," ledekku.


"Sialan kamu, Im!" balasnya.


"Im, sebenarnya kami berlima di sini memang sedang menunggu orang keenam yang akan bergabung bersama kami," ujar Ikbal kemudian.


"Maksudnya, aku jadi orang keenam yang kalian tunggu-tunggu?" tanyaku.


"Iya," jawab mereka kompak.


"Kami menunggumu cukup lama di sini Memang sih, pemandangan di sini bagus, jadi kami tidak terasa berada di sini meskipun lama," jawab Faisal.


"Berapa lama kalian menunggu di sini?" Aku bertanya lagi.


"Di sini tidak ada malam, Im. Sejak aku datang di sini, aku tidak melihat matahari, tapi bisa kamu lihat sendiri langit terang benderang," jawab Faisal lagi.

__ADS_1


Aku spontan melihat ke langit. Benar saja, tidak ada matahari di sana.


"Iya benar katamu, Sal. Tidak ada matahari di langit. Kenapa bisa begitu, ya?" tanyaku.


"Entahlah, Im. Ssssst ... sepertinya ada yang sedang datang ke sini," ujar Faisal.


Beberapa detik kemudian, datanglah seorang pria dengan pakaian hampir sama dengan kedua pria yang berjaga di gerbang. Menggunakan ikat kepala dan menggunakan jarik bercorak batik sebagai satu-satunya penutup bagian bawah tubuhnya mulai dari pinggang sampai ke lutut. Sabuk berukuran cukup besar melingkar di bagian atas jarik tersebut. Di pinggang belakang mereka terdapat golok dengan ukuran sedang. Pria yang datang sekarang ini memiliki warna jarik yang lebih mencolok dari kedua pria tadi.


"Sekarang kalian sudah lengkap berenam. Pertanda, sebentar lagi ujian kedua akan dimainkan oleh kalian. Saya harapkan kalian semua bisa melalui ujian kedua ini agar kalian bisa kembali kepada kehidupan kalian yang sebelumnya. Kalau tidak ...," ujar pria tampan tersebut.


"Kalau tidak, kalian akan menetap di sini selamanya seperti saya dan para petugas di sini," jawab pria itu dengan tatapan mata agak kosong.


"Astagfirullah!!" pekikku.


"Kak, aku mau pulang! Aku mau menjaga adikku. Kasihan dia sendirian. Orang tua kami sudah lama meninggal," suara rintihan Dinda yang bersimpuh di kaki pria itu.


"Kalau kamu ingin pulang, kamu harus bisa melalui ujian-ujian di sini sampai selesai. Atau, kamu di sini saja menjadi pasanganku ...," ujar pria itu sambil berusaha mencium Dinda.


Dinda menghindar dari ciuman pria itu.


"Hei, jaga sikapmu, Mas! Jangan berbuat tidak sopan pada wanita!" teriakku pada petugas tersebut.


Kami yang melihat adegan itu seperti tidak percaya dengan apa yang kami lihat. Dinda yang semula menolak dicium oleh pria itu mendadak seperti luluh dan pasrah. Bibir pria itu sudah semakin dekat dengan bibir Dinda, dan mata Dinda terlihat sayu. Beberapa senti lagi kedua bibir mereka akan bersentuhan.


"Tidak!!! Aku ingin pulang untuk menjaga adikku!" teriak Dinda keras sambil melepaskan diri dari cengkraman pria itu.


Kami yang melihatnya, lega seketika.


"Hebat juga pertahananmu, Cantik. Pantas saja si Karsan terus mikirin kamu karena ia telah kamu tolak juga," ujar pria itu.


"Jangan bahas pria kurang ajar itu lagi!" ujar Dinda ketus.


"Baiklah! Silakan kalian semua merapat ke sini! Hei kamu juga, Andre! Jangan menyendiri di situ!" teriak pria itu memanggil teman kami yang tidak mau aku ajak bersalaman tadi.


Roni pun mengajak anak bernama Andre itu berjalan mendekati kami. Sejak tadi memang hanya Roni yang mau duduk di dekat anak sombong itu. Padahal Roni juga tidak diajak bicara oleh Andre.


Akhirnya, semua anak berdiri di depan pria itu. Dinda agak menjaga jarak dengan pria itu. Mungkin dia masih trauma dengan perlakuan tidak sopan pria tersebut.


"Baiklah segera saya mulai saja. Sebelumnya perkenalkan nama saya Jatmiko. Saya adalah penanggung jawab dari semua ujian yang akan kalian lalui. Di setiap ujian, ada petugas yang akan memandu kalian. Saya di sini hanya akan menyampaikan kepada kalian peraturan utama dari setiap ujian tersebut," ujar pria berbadan tegap tersebut.


"Ujian apa? Kami hanya ingin pulang ke rumah kami masing-masing. Kenapa kami harus melalui ujian-ujian ini? Apa salah kami?" protesku.

__ADS_1


Pria bernama Jatmiko tersebut menoleh ke arahku. Matanya melotot, urat lehernya keluar dan dengan cepat tangannya yang berotot pejal mencekik leherku.


"Diam! Kamu pikir melanggar pantangan di kebun jagung itu bukan kesalahan? Bukankah kamu sudah diingatkan bahwa orang dengan kelahiran 'legi' tidak boleh masuk ke kebun jagung itu!" Jatmiko membentakku.


"Aduh ... sakit!!! Tolong lepaskan! Aku tidak bisa bernapas!" Aku merintih.


"Tolong lepaskan Imran!" ujar Ikbal sambil berusaha melepaskan cekikan Jatmiko di leherku.


Faisal pun ikut membantu Ikbal untuk melepaskan cengkraman tangan Jatmiko.


"Kalian mau melawanku, Hah? Atau kalian akan aku habisi semuanya!" teriak Jatmiko marah.


Mendengar bentaka Jatmiko, Roni yang semula diam saja pun ikut menarik tangan Jatmiko dari leherku sehingga terlepas.


"Kalau kamu menyakiti salah satu dari kami, kami tidak akan tinggal diam!" ujar Roni yang ukuran tubuhnya hampir sama dengan Jatmiko.


"Oooo ... kalian mau melawanku? Oke! Ayo, akan aku layani," teriak Jatmiko sambil mengambil ancang-ancang untuk menyerang Roni.


"Hentikan, Jatmiko! Jangan sampai kau lukai tubuh mereka. Kalau sampai hal itu kamu lakukan, kamu akan aku turunkan pangkat menjadi penjaga gerbang!" suara seorang perempuan tiba-tiba terdengar dari kejauhan.


"Ampun, Nyi Sukma. Hamba tidak bermaksud menyakiti mereka. Mereka tidak mau mendengarkan perkataan hamba, Nyi!" ujar Jatmiko sambil bersimpuh menghadap ke arah rumah Nyi Sukma.


"Sudah! Tidak usah alasan! Cepat kamu sampaikan aturan permainannya saja. Aku sudah tidak sabar melihat aksi mereka di arena," suara perempuan itu lagi.


"Baik, Nyi Sukma!" jawab Jatmiko dengan bersimpuh.


Jatmiko kemudian bangkit dan kembali menghadap ke arah kami. Aku masih heran kenapa suara Nyi Sukma bisa sampai di sini sedangkan orangnya tidak nampak? Suaranya pun tidak seperti berasal dari pengeras suara.


"Baiklah, silakan kalian ingat-ingat peraturan-peraturan yang akan saya bacakan ini!" ujar Jatmiko dengan tatapan mata masih menyimpan kekesalan kepada kami terutama kepada Roni.


Kami menunggu Jatmiko membacakan aturan permainannya. Tiba-Tiba Roni nyeletuk.


"Dibayar apa kamu oleh Nyi Sukma sampai kamu rela tinggal di sini dan tidak pulang?" ledek Roni.


"Jangan sombong kamu, Ron! Kamu pikir ujian-ujian di sini bakal kamu lewati dengan mudah? Kalau kamu gagal sebelum ujian terakhir, kamu akan bernasib sama dengan penjaga-penjaga itu," ujar Jatmiko kesal.


"Kita lihat saja nanti!" balas Roni.


BERSAMBUNG


Mau crazy up? like dan komen, dong, yang banyak!

__ADS_1


__ADS_2