
Kedua temanku ini ternyata benar-benar tidak mengganggu konsentrasiku. Alhasil, sebuah ide pun muncul dari dalam pikiranku.
"Teman-Teman, aku ada ide, nih, untuk mempersingkat waktu kita dalam mencari biodata yang kota butuhkan." Aku berseru sambil bangkit dari rebahanku.
"Oh, ya? Ayo, Im, buruan kamu utarakan idemu itu! Supaya kita tidak perlu berlama-lama berkutat dengan buku pegawai ini," ucap Bondan sambil membolak-balik halaman demi halaman di buku pegawai itu dengan raut wajah lesu.
"Iya, Im. Ayo, buruan utarakan idemu!" tambah Indah.
"Begini, Ndan ... Ndah ... Ibuku kan bilang bahwa kejadian ia melihat mayat di jendela itu pada saat aku masih Balita. Nah, itu berarti itu sekitar sebelas tahun yang lalu. Kita pusatkan saja pencarian identitasnya pada tahun-tahun sekitar itu saja. Gimana?" ujarku.
"Hm ... Its a good idea, Im. Harusnya kamu ngomong itu mulai kemarin," cetus Bondan.
"Lah ... aku nemu idenya barusan. Terus, dapat buku pegawainya juga tadi. Gimana ceritanya aku ngomong kemarin sama kamu, Bambaaaaaang!!" omelku kesal.
"Serius amat kamu, Jum? Aku kan cuma bercanda," jawab Bondan sambil ketawa-ketiwi nggak jelas.
"Ngomong dong mulai kemarin lusa kalau mau bercanda, biar aku nggak salah paham," cetusku membalas candaan Bondan.
"Stop! Stop! Stop! Kita ini mau debat apa mau investigasi? Kalau mau debat, biar aku undang Korma Ajwa ke sini sekalian untuk jadi moderatornya, ya?" bentak Indah.
"Korma Ajwa?" Aku dan Bondan melongo mendengar nama buah multi khasiat itu disebut.
"Eh ... Itu loh maksudku penyiar yang malang melintang di tivi," jawab Indah lagi.
"Hus! Kalau maksudmu Mbak Nanak, berarti kamu salah. Mbak Nanak itu sekarang belum ngetop jadi pembawa acara. Itu sekitar lima belas tahunan lagi dari sekarang. Sekarang Mbak Nanak masih jadi wartawan kali ...," jawabku.
"Loh, kok kamu tahu? Kamu peramal, ya? lamar aku, dong!" cetus Indah.
"Hah! Otakku makin sontoloyo dengerin omongan erormu, Ndah. Ya, aku asal jeplak saja barusan. Tapi, nggak usah rame-rame, ya. Omonganku emang kadang-kadang ngelantur kalau lagi laper," jawabku.
"Ngomong-Ngomong, sikapmu kok beda ya, Im? Harusnya kamu itu serius, jangan terlalu urakan kayak begini," ujar Indah.
"Emangnya kenapa, Ndah?" tanyaku penasaran.
"Ntar, kalau kisah petualangan ini dinovelin di masa depan, pembacanya kebingungan dengan perubahan sikapmu. Paham?" ucap Indah.
"Oooo ... begitu, ya? Ngomong-Ngomong, kenapa kamu malah ikutan meramal masa depan juga, Ndah?" protesku.
"Ups! Aku keceplosan, Im. Ayo dah, kita buruan memeriksa data-data guru di tahun yang kamu maksudkan tadi saja, Im!" ajak Indah.
"Ayo, dah!" jawab aku dan Bondan secara kompak.
Kami bertiga pun akhirnya berkonsentrasi memeriksa satu persatu biodata guru dan karyawan yang ada pada tahun tersebut. Ada beberapa data guru dan karyawan yang kami salin ke buku catatan kami.
Napas kami berhenti sesaat secara bersamaan ketika kami sampai pada sebuah halaman yang memuat foto seorang karyawan berpakaian Satpam. Jari tangan Indah mendadak gemetaran saat itu.
__ADS_1
"Im ... Ndan ... Orang ini ...," ucap Indah terbata-bata.
"I-i-iya, Ndah. Wajahnya mirip sekali dengan hantu Satpam yang sering menggangguku di sekolah," jawabku.
"Iya, benar, Im. Apakah orang ini yang menjadi hantu di sekolah kita?" tanya Bondan spontan.
"Ya Tuhan, aku kok malah merinding, Im ... Ndan ... Aku takut hantu Satpam itu tiba-tiba muncul di sini," jawab Indah.
"Tenangkan dirimu, Ndah. Hantu itu tidak akan berani muncul di sini. Bukankah ini adalah rumah Allah SWT, tempat orang-orang beribadah menyembah pemilik jagat raya ini?" ucap Bondan.
"Iya, Ndah. Baiknya, kita cek satu persatu biodata Satpam ini untuk kebutuhan investigasi kita," jawabku.
"Ya Allah, Im ... Ndan ... coba kalian periksa nama dan alamat orang ini!" cetus Indah.
"Nama : Misnanto, Jabatan : Satpam, alamat ... astagfirullah!!! Ternyata alamat Pak Misnanto ini berada di jalan mawar nomor 13?" pekikku karena terkejut.
"Berarti selama ini hantu Satpam ini ingin memberi tahu kita bahwa ia tinggal di jalan mawar nomor 13. Terus, ke manakah rumah itu sekarang? Terus, kenapa juga plat rumahnya ada Pak Kumis? Apa hubungan almarhum Pak Misnanto dengan Pak Kumis?" ujarku dengan ekspresi wajah penuh kebingungan.
"Hm ... ayo, buruan kita ke tempat Pak Kumis. Kita tanya kepada beliau saja supaya jelas!" ucap Bondan seketika.
"Stop, Ndan! Kita jangan gegabah. Bagaimana kalau Pak Kumislah pelaku pembunuhan terhadap Pak Misnanto? Itu sama saja kita setor nyawa kepada pembunuh," ucapku.
"Iya juga, sih. Terus, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Bondan.
"Apa idemu, Ndah?" tanyaku.
"Begini ... Kita cari info tentang rumah itu, tentang Pak Kumis dan Pak Misnanto kepada orang-orang yang tinggal di sekitar tempat itu. Bagaimana?" tanya Indah.
"Menurutku itu ide yang bagus, Im. Resikonya lebih sedikit dibandingkan jika harus bertanya langsung kepada Pak Kumis," jawab Bondan.
"Oke, Ndah. Aku setuju dengan idemu. Kalau begitu, ayo kita segera berangkat ke sana supaya tidak kesorean," ujarku.
"Oke!!" jawab kedua temanku.
Kami bertiga pun berangkat ke jalan mawar dengan menaiki Angkot yang kami berhentikan di depan masjid. Jam-Jam segini tidak sulit mencari Angkot yang mau membawa kami. Tidak sampai satu jam, kami pun sudah sampai di sekitar alun-alun. Kami sengaja memilih berhenti agak jauh dari masjid karena takut dilihat oleh Pak Kumis yang mungkim sedang berjualan di depan masjid.
Setelah turun dari Angkot, kami langsung berjalan kaki menuju jalan mawar. Baru beberapa langkah dari Angkot, kami melihat ada sebuah warung makanan yang dijaga oleh seorang kakek tua.
"Ndah ... Ndan ... kita berhenti dulu di warung itu, ya?" ujarku.
"Ngapain, Im? Kamu lapar, ya?" tanya Indah.
"Kamu diam saja dulu. Nanti, kamu akan tahu maksudku," jawabku.
Indah tidak banyak protes ketika aku mengajaknya mampir di warung itu. Sepertinya ia mengerti dengan tujuanku yang sebenarnya.
__ADS_1
"Assalamualaikum ... Sendirian, Kek?" ucapku.
"Waalaikumsalam. Iya, Nak. Mau beli apa?" ujar si kakek tua.
"Saya mau pesan tiga gelas es teh, Kek. Kami kehausan, nih," jawabku.
"Baiklah ... Itu saja? Apa tidak mau pesan makanan?" tanya si kakek.
"Tidak, Kek. Itu saja dulu," jawabku.
"Baiklah. Silakan duduk! Saya mau membuatkan minumannya untuk kalian segera," ujar si kakek.
"Baiklah, terima kasih, Kek," jawabku.
Si kakek pun langsung menuangkan air teh pekat ke dalam tiga gelas bamboo. Setelah itu, kakek tua menuangkan gula beberapa sendok ke gelas berisi teh pekat tersebut. Terakhir, ia menuangkan air dan potongan es batu ke dalam gelas-gelas itu.
"Kek, sudah lama berjualan di sini?" tanyaku.
"Alhamdulillah, sudah belasan tahun," jawabnya.
"Hm ... berarti kakek berjualan semenjak Pak Misnanto tinggal di sini, ya?" ucapku.
"Siapa, Nak?" Si Kakek menghentikan pekerjaannya dan memusatkan pendengarannya.
"Pak Misnanto, Kek," jawabku tegas.
"Misnanto yang ...," ujar si kakek terbata-bata.
BERSAMBUNG
Hai Sobat Junan, kira-kira informasi apa yang akan diperoleh oleh Imran dan kedua temannya dari si kakek?
Siapa pelaku pembunuhan Pak Misnanto?
Masih penasaran?
Berikan like, vote, dan kalian sebanyak-banyaknya.
Kalau kalian mau ikutan menebak informasi yang akan diberikan oleh si kakek, boleh juga kok. Aku selalu membaca komentar-komentar kalian dan ternyata ada satu dua orang yang tebakannya tepat.
Terima kasih atas kesetiaan kalian semuanya
See u in the next episode
Assalamualaikum ...
__ADS_1