
Pandanganku bergerak dari kaki orang itu naik ke atas sampai ke kepalanya. Aku sempat melonjak terkejut begitu mengetahui sosok yang menggantikan hantu Satpam barusan adalah Pak Rudi, kepala sekolahku.
"Eh, Bapak!!!" ujarku spontan sambil bangkit untuk duduk.
"Kamu kenapa barusan? Kok, ngigau-ngigau tidak jelas?" tanya Pak Rudi sinis.
"Ngi-gau?" Aku mengulangi pertanyaan Pak Rudi karena tidak percaya bahwa aku baru saja mengigau.
"Iya. Barusan pas lewat tenda ini, saya mendengar suara teriakan. Karena itu saya masuk ke dalam tenda karena takut terjadi sesuatu di dalamnya. Ternyata saya melihat kamu sedang mengigau sambil mencekik lehermu sendiri," terang Pak Rudi.
"Ti-tidak, Pak. Saya tidak mengigau karena sejak tadi saya terus terjaga. Tidak tidur apalagi sampai.mengigau seperti yang Bapak sampaikan barusan," bantahku sopan.
"Kamu tidak percaya dengan saya? Lah, wong saya jelas-jelas melihat kamu rebahan sambil memejamkan mata sedangkan kedua tanganmu digunakan untuk mencekik leher kamu sendiri. Pas aku mau menolong kamu, kamu tiba-tiba sudah bangun sendiri," tandas Pak Rudi.
"Oh, ya?" Aku bertanya sambil berusaha mengingat-ingat kembali kejadian yang baru saja aku alami.
"Lain kali kalau kamu kebagian tugas menjaga tenda, jangan digunakan kesempatan untuk tidur! Ntar, kalau sampai ada kelompok lain yang menyusup ke sini atau ada petugas khusus yang diutus untuk menyusup ke tenda kelompokmu, nasib kelompokmu bisa tamat. Kamu sudah paham, kan, dengan aturan tersebut?" ujar Pak Rudi lagi.
"Iya, Pak. Terima kasih atas nasihatnya," jawabku sopan.
Sejujurnya aku masih tidak yakin dengan ucapan Pak Rudi bahwa aku baru saja tertidur, tapi karena aku tak ingin berlama-lama berkutat dengan masalah tersebut, aku pun mengalah dengan pendapat kepala sekolahku itu
"Oke, saya pamit dulu, ya!" ujar Pak Rudi.
"Baiklah, Pak. Terima kasih banyak atas teguran dan nasihatnya," jawabku.
Pak Rudi pun berlalu meninggalkanku sendirian di tempat itu. Kali ini aku merasa jengah berada di dalam tenda. Aku pun keluar tenda dan meninggalkan lilin tetap di dalam tenda. Sedangkan aku menatap Pak Rudi yang sedang berjalan meninggalkan tenda kelompokku. Sepertinya Pak Rudi sedang menuju arena perlombaan PBB.
Setelah tubuh Pak Rudi menghilang dari jangkauanku, kepalaku menoleh ke kiri untuk melihat ke arah kamar mandi yang berada di sebelah perpustakaan. Namun, tiba-tiba saat aku menoleh ke arah kiri, sebuah kepala tiba-tiba mundul di dekat wajahku.
"Astagfirullah!!! Kamu, Ndan? Datang kok nggak permisi dulu? Bikin kaget orang saja," cetusku karena kaget.
"Ealah, gitu aja kaget kamu, Im!" jawab Bondan.
"Gimana aku nggak kaget, Ndan. Lah wong beberapa menit yang lalu, aku didatangi arwahnya Pak Misnanto. Dia gangguin aku dan hampir saja membunuhku," ujarku dengan nada serius.
"Oh ya? Kamu tidak bohong kan, Im?" tanya Bondan.
__ADS_1
"Beneran, Ndan. Ngapain juga aku berbohong, Ndan. Nggak ada untungnya buatku, kan?" jawabku lagi.
"Iya, sih. Tapi, gimana caranya kamu bisa selamat dari serangan hantu itu?" tanya Bondan.
"Itu dia, Ndan. Aku kan bertarung dengan arwah yang berusaha mencekikku itu. Fisikku memang tidak mampu melawannya lagi, tapi aku berusaha melawannya dengan doa. Dan ternyata usahaku membuahkan hasil. Hantu Pak Satpam lenyap setelah aku bacai doa. Namun, ketika hantu itu lenyap tiba-tiba muncul Pak Rudi di sebelahku dan beliau mengatakan bahwa aku hanya mengigau," terangku.
"Ha ha ha ... jadi maksudnya, kamu baru saja mengalahkan hantu Satpam di dalam mimpi? Imran ... Imran ... anak kecil juga bisa kalau kayak gitu," ledek Bondan.
"Loh! Aku tidak sedang bermimpi, Ndan. Aku bertemu dengan hantu itu dalam dunia nyata. Pak Rudi saja yang ngiranya aku sedang bermimpi," balasku.
"Ooo begitu?" tanya Bonda dengan sambil menahan tawa.
"Sialan kamu, Ndan. Kamu sebagai temanku masa tidak percaya sama aku?" gerutuku.
"Yakin kamu masih menganggapku sebagai teman?" tanya Bondan.
"Maksud kamu?" Aku mulai emosi.
"Yah. Sekarang kamu baru tahu kan, rasanya tidak dipercaya? Apa laginoleh sahabat sendiri. Sakit, kan? Itu yang aku dan Indah rasakan, Im. Semenjak Pak Rudi mengancammu, kenapa kamu menjadi acuh pada kami berdua? Apa kamu tidak percaya bahwa aku dan Indah dapat membantumu menyelesaikan kasus ini tanpa sepengetahuan Pak Rudi?" Bondan mencecarku dengan beberapa pertanyaannya yang memojokkanku.
"Ndan. Sepertinya lombanya sudah mau selesai. Itu anak-anak sudah pada kembali dari lapangan utama," ucapku mengalihkan pembicaraan.
Bondan menoleh ke arah yang kumaksud. Dari kejauhan kami berdua melihat wajah teman-teman kelompok kami semuanya sumringah.
"Assalamualaikum ...,"
"Waalaikumsalam ...,"
"Alhamdulillah, kelompok kita mendapat juara kedua lomba PBB-nya," ujar ketua kelompok.
"Wah, selamat ya teman-teman. Kalian memang hebat!" jawabku.
"Makasih juga, ya, Im ... Ndan ..sudah mau menjaga tenda. Situasi aman, kan?" tanyanya lagi.
Aku dan Bondan saling bertatapan.
"A-aman, Ketua!" jawabku.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang saatnya kita merayakan kemenangan ini. Ayo kita makan mie goreng bareng-bareng sambil menunggu waktu salat!" ucap ketua kelompok.
"Wah, ide bagus itu. Perut kami sudah keroncongan," jawabku.
"Khusus sekarang kalian semua silakan bersantai saja. Biar aku yang akan memasak mie instannya sendiri. Dijamin rasanya akan enaaaak sekali," sesumbarnya.
"Yakin, Ketua?" tanyaku.
"Yakin. Aku kan cita-citanya emang mau jadi cheff?" jawabnya.
"Wah, kebetulan kalau begitu. Makasih banyak, ya?" ujarku lagi.
"Ayo teman-teman kita istirahat dulu di dalam tenda! Kita rayakan kemenangan ini dengan penuh kegembiraan! Kita konser dulu di dalam!" teriak Bondan.
Semua anggota kelompok saling bertatapan. Raut wajah mereka yang semula gembira karena mendapat kemenangan dan juga akan makan mie goreng bareng, mendadak kecut seketika. Aku yang paling dekat dengan Bondan pun langsung mengambil peran untuk mengembalikan mood mereka.
"Ndan. Rasanya nggak seru kalau kita nyanyi bareng sekarang. Lebih baik kita menunggu mie gorengnya mateng dengan bermain tebak-tebakan. Teman-Teman setuju, kan?" ujarku.
"SETUJUUUUUU!!!" jawab mereka kompak.
"Padahal aku sudah nyiapin lagu andalanku, loh!" protes Bondan.
"Nanti saja, Ndan. Kalau kita dapat juara lagi," bisikku pada sahabatku itu
"Ya deh!!" jawab Bondan sambil menggerutu.
Teman-Teman yang lain semuanya tersenyum mendengar jawaban Bondan.
BERSAMBUNG.
Hayooooo ngaku!
Siapa yang pernah digituin juga sama teman-temannya kayak Bondan?
Kira-Kira kenapa, ya?
__ADS_1