
Saking terkejutnya, aku dan Bu Iis menahan napas selama beberapa detik, sebelum akhirnya kami berdua melihat ada seseorang yang sangat berwibawa muncul dari balik pintu.
"Eh, Pak Rudi!" pekik Bu Iis terkejut sambil berdiri dari tempat duduknya.
Aku yang berada di depan Bu Iis tidak bereaksi apa-apa ketika melihat sosok kharismatik yang tidak kuketahui tersebut.
"Im, bangun. Pak Rudi ini kepala sekolah!" bisik Bu Iis kemudian.
Aku pun ikut berdiri dan memberi jalan kepada Pak Rudi menuju ke arah Bu Iis.
"Engsel pintunya longgar, ya? Barusan kena senggol sedikit langsung terbanting keras begitu saja?" ucap Pak Rudi dengan ekspresi keheranan. Bola matanya terlihat membesar dan semakin tajam saat beliau kebingungan seperti itu.
"Iya, Pak. Mohon maaf, tadi saya lupa tidak mengganjalnya dengan batu," jawab Bu Iis.
"Justeru saya yang seharusnya meminta maaf karena telah membuat seluruh orang terkejut karena kecerobohan saya," balas pria dengan tinggi 170 cm lebih tersebut.
"Inggih, Pak!" jawab Bu Iis sopan.
"Bu Iis, saya boleh minta bantuannya, nggak? Bu Iis nggak repot, kan?" ucap pria berjas itu lagi.
"Tidak, Pak. Saya hanya mengerjakan tugas rutin saja. Saya siap membantu Pak Rudi jika memang dibutuhkan," ujar Bu Iis.
"Begini ... Saya habis ini ada pertemuan dengan pengawas terkait Monitoring dan Evaluasi penggunaan dana sekolah. Di satu sisi, saya mau memindahkan file-file laporan keuangan empat sampai lima tahun lalu ke gudang. Kalau saya harus masuk ke gudang, takutnya baju saya nanti kotor lagi. Nggak enak menghadapi pengawas sekolah dalam keadaan tidak rapi," ujar Pak Rudi.
"Iya, Pak. Monggo, saya siap membantu Pak Rudi untuk memindahkan dokumen-dokumen tersebut," jawab Bu Iis.
"Oke, terima kasih kalau begitu. Dokumen-Dokumennya sekarang ada di ruangan saya. Saya sudah memisahkannya tadi. Tinggal membawanya ke dalam gudang," ujar Pak Rudi.
"Baiklah, saya siap memindahkannya, Pak!" jawab Bu Iis sambil menunduk.
"Ini kunci ruangan saya sekaligus kunci gudangnya," ujar Pak Rudi sambil menyerahkan segebok kunci ke tangan Bu Iis.
"Iya, Pak. Nanti kalau sudah selesai memindahkan barang ke gudang di sebelah ruang guru, kuncinya saya berikan kepada siapa, Pak?" tanya Bu Iis.
"Loh, kok gudang di sebelah ruang guru, sih? Itu kan gudang khusus menyimpan hasil karya siswa dan dokumen kegiatan siswa?" ujar Pak Rudi dengan nada sedikit kesal.
"Maksud Pak Rudi, gu-gudang atas ini?" tanya Bu Iis sedikit gelagapan.
"Iya, Bu Iis. Kenapa? Bu Iis nggak mau? Kalau nggak mau biar saya sendiri saja sudah yang akan memindahkannya di gudang," ujar Pak Rudi kesal.
"Tidak, Pak. Saya bersedia, kok. Cuma tadi saya kaget saja, biasanya Pak Rudi sendiri yang menyimpannya di lantai atas," jawab Bu Iis.
__ADS_1
"Bu Iis ... Bu Iis ... tadi saya kan sudah bilang, saya takut kotor lagi baju saya kalau masuk ke gudang?" ujar Pak Rudi.
"Iya, maaf, Pak. Saya kurang fokus barusan," jawab Bu Iis.
"Bu Iis mau, kan? Saya sudah percaya penuh, kok, sama Bu Iis," ujar Pak Rudi.
"I-iya, Pak. Saya siap melaksanakan perintah Pak Rudi," jawab Bu Iis.
"Baiklah, kalau begitu saya berangkat sekarang. Kunci ruangan saya yang ada tulisan R-nya, sedangkan gudang, yang ada tulisan X-nya. Nanti di gudang, kamu letakkan dokumennya di rak nomer 3. Di situ ada tempat kosong, saya sudah mengurutkannya sesuai urutan tahunnya," ujar Pak Rudi.
"Ba-baik, Pak Rudi!" jawab Bu Iis tergagap.
"Saya berangkat dulu, Bu Iis!" ujar Pak Rudi.
"Iya, Pak Rudi," jawab Bu Iis.
Pak Rudi pun membalikkan badannya yang tegao dan melangkah meninggalkan ruangan perpustakaan meninggalkan Bu Iis yang masih berdiri dengan gemetar.
"Bu Iis kenapa?" tanyaku kebingungan.
"Tidak apa-apa, Im," jawab Bu Iis berbohong.
"Bu Iis nggak usah bohong. Bu Iis loh gemetaran ini. Kenapa, Bu? Ayo, duduk dulu biar lebih tenang!" ujarku.
"Saya ambilkan air putih, ya, Bu?" Aku menawarkan bantuan.
"Tidak usah, Im! Ibu nggak apa-apa, kok! Bu Iis hanya sedikit takut," jawab Bu Iis.
"Bu Iis takut naik ke lantai atas, ya?" tanyaku memberanikan diri.
Bu Iis langsung menatapku dengan tatapan tajam.
"Iya, Im. Kamu tahu sendiri, kan? Seumur-umur, Bu Iis tidak pernah naik ke lantai atas. Di ruangan ini saja Bu Iis kadang masih trauma dengan gangguan-gangguan itu. Apalagi kalau harus naik ke lantai atas?" ujar Bu Iis jujur.
"Saya boleh ngasih saran, nggak, Bu?" Aku bertanya.
"Boleh. Apa saranmu?" tanya Bu Iis sedikit tenang.
"Bu Iis minta dianterin teman guru lain saja, gimana?" Aku berkata.
"Tidak, Im! Pak Rudi bisa marah kalau sampai tahu saya mengajak orang lain naik ke lantai atas!" pekik Bu Iis dengan nada serius.
__ADS_1
Aku sebenanrya sudah menduga Bu Iis akan menolak saran pertamaku itu. Karena itu memang hanya pancinganku saja.
"Bagaimana, kalau Bu Iis mengajak orang yang bisa menutup mulut rapat-rapat?" ujarku dengan nada serius sambil sedikit mendekatkan wajahku mendekati wajah Bu Iis.
"Siapa?" Bu Iis balik bertanya.
"Saya, Bu," jawabku sambil menarik lagi wajahku semakin menjauhi wajah Bu Iis.
"Ide yang bagus. Taoi, sebentar lagi bel masuk loh. Kamu nggak apa-apa telat masuk ke dalam kelas?" Bu Iis bertanya. Kali ini wajahnya sudah tidak setegang tadi.
"Bukankah, kalau anak-anak sudah masuk ke dalam kelas, akan semakin kecil kemungkinannya ada orang lain yang melihat saya menemani Bu Iis masuk ke gudang di lantai atas?" ucapku meyakinkan diri.
"Benar juga. Oke, sekarang Bu Iis mau ke ruangannya Pak Rudi dulu, ya, untuk mengambil dokumen-dokumen yang akan dipindahkan ke gudang tersebut? Kamu tunggu di sini dulu!" ujar Bu Iis.
"Baiklah, Bu!" jawabku.
Bu Iis melangkah meninggalkan ruangan perpustakaan menuju ke ruangan Pak Rudi. Indah dan Bondan menoleh ke arahku. Mereka masing-masing sudah memegang buku yang berkaitan dengan tugas mereka masing-masing di tangannya. Aku mengangkat jempolku kepada mereka sebagai kode kesuksesanku. Mereka berdua tersenyum ke arahku. Tiba-Tiba, bel tanda masuk berbunyi, senua siswa masuk ke kelasnya masing-masing.
"Indah ... Bondan ... Kalian masuk dulu ke dalam kelas, ya? Aku harus mengerjakan sesuatu setelah ini bersama Bu Iis," ucapku pada mereka berdua.
"Kamu tidak apa-apa ditinggal di ruangan ini sendirian?" tanya Indah sambil menoleh ke sekeliling.
"Nggak apa-apa, Ndah. Tenanglah!" jawabku.
"Baiklah, kami berdua akan masuk kelas kalau begitu. Selamat berjuang, ya!" ujar Indah.
Mereka pun meninggalkanku sendirian di perpustakaan. Aku duduk di sana sambil memperhatikan sekeliling. Rak-Rak buku yang berjejer rapi itu mengingatkanku pada kejadian tidak mengenakkan beberapa hari yang lalu. Aku berusaha menghilangkan pikiran buruk itu untuk menenangkan diri. Tiba-Tiba aku mendengar suara langkah kaki dari arah belakangku. Sepertinya, ini adalah suara langkah kaki Bu Iis yang baru saja kembali dari ruangan Pak Rudi. Aku pun menoleh ke belakang. Ternyata orang itu sudah berdiri tepat di belakangku. Dia bukan Bu Iis. Ada tulisan SATPAM di atas salah satu sakunya.
BERSAMBUNG
Like dan komennya kok segitu-segitu saja, ya? Aku jadi sedih loh. Jangan-Jangan novel ini nggak ada yang baca, ya?
Jangan lupa untuk membaca karyaku yang lain
Novel KAMPUNG HANTU
Novel MARANTI
Chat Story CIRCLE OF LOVE
__ADS_1
Terima kasih