
Kebun jagung milik sekolah ini terdiri dari puluhan baris pohon jagung. Setiap pohon jagung tingginya hampir seragam hampir dua meter. Daunnya sangat rimbun. Di bagian bawah juga banyak ditumbuhi rumput liar. Mustahil bagi kita dapat mengetahui posisi pos kedua tanpa harus memeriksa setiap barisnya satu persatu.
Aku masuk ke dalam baris pertama deretan jagung bersama kedua temanku. Dari posisi sekarang, aku masih bisa mendengar suara langkah kaki teman-teman yang ada di baris kedua. Suara Bondan yang khas pun juga masih kudengar.
Aku berada di posisi paling depan dan diikuti oleh kedua temanku di belakangnya. Rumput yang tumbuh di lorong-lorong tanaman jagung ini cukup tinggi dan segar-segar. Jadi, begitu rumput itu sudah kami injak, beberapa waktu kemudian rumput-rumput itu sudah kembali ke posisinya semula. Setelah masuk agak jauh dari ujung lorong, aku mencoba menoleh ke belakang ternyata rumput-rumput yang tinggi itu sudah kembali menutup lorong tadi, seolah-olah tidak pernah dilewati oleh siapa pun. Setelah melintasi lorong selama kurang lebih lima menit akhirnya kami pun sampai di ujung lorong. Kami keluar dari lorong dengan rasa kecewa. Ternyata, teman-teman dari group yang lain juga tidak menemukan pos kedua.
"Wah, ternyata belum ada yang menemukan pos kedua, ya?" ucapku pada teman-teman group yang lain.
"Iya, Im. masih zonk semua," jawab Bondan yang berada di lorong kedua.
"Ayo, kita lanjutkan pencarian di lorong selanjutnya!" teriak ketua kelompok yang berada di lorong keempat.
Kami pun kembali berjalan menuju lorong yang sudah disepakati. Groupku memeriksa lorong ke lima. Kami masuk ke dalam lorong secara bersama-sama. Lorong kelima ini rumput dan daun jagungnya lebih lebat dari pada lorong pertama tadi jadi kami harus lebih berhati-hati agar tidak tergores oleh pinggiran daun jagung yang cukup tajam. Kami butuh waktu lebih lama untuk sampai di ujung lorong. Sesampai di ujung lorong, masih belum ada kabar baik dari teman-teman.
Kami pun melanjutkan ke lorong nomor sembilan. Pada saat masuk kurang lebih dua meter ke lorong nomor sembilan itu, aku seperti merasa ada kakek tua tadi melintas di belakang ke dua temanku. Aku pun menoleh secara cepat ke belakang.
"Ada apa, Im?" tanya salah satu temanku.
"Kayak ada kakek tua tadi lewat di belakang. Coba kamu lihat!" ujarku.
Temanku yang berada paling belakang pun menoleh dan memeriksa keadaan di sekitar galengan sawah. Barang kali memang benar ada kakek tua tadi di sana.
"Tidak ada, Im," jawab temanku itu.
"Ya sudah. Ayo, kita buruan periksa lorong itu soalnya teman-teman yang lain sepertinya sudah jauh meninggalkan kita," ujar temanku yang satunya.
"Baiklah, kalau begitu," jawabku.
Aku pun kembali bersiaga untuk melangkah ke depan. Tiba-Tiba telingaku berdengung.
__ADS_1
"Kenapa, Im?" tanya temanku.
"Telingaku berdengung," jawabku sambil menutup telingaku dengan telapak tangan.
"Kamu nggak apa-apa, kan, Im?" tanya temanku itu lagi.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Telingaku sudah kembali normal," jawabku kemudian.
"Beneran kamu tidak kenapa-kenapa, Im?" tanya temanku yang kedua.
"Tunggu! Bagaimana kalau kita lompati lorong yang ini, teman-teman?" ujarku pada mereka.
"Loh, kenapa, Im?" tanya salah satu temanku.
"Perasaanku tidak enak," jawabku.
"Tapi, bagaimana kalau pos kedua ada di lorong ini? Pasti teman-teman akan marah kepada kita?" ujar temanku itu.
"Mungkin itu efek telingamu berdengung tadi, Im. Coba tenangkan pikiranmu sekarang dan ayo, kita lanjutkan memeriksa lorong ini!" desak temanku.
Aku sebenarnya masih merasa tidak nyaman untuk melanjutkan memeriksa lorong itu, tapi aku juga tidak bisa menolak keinginan kedua temanku.
"Baiklah, teman-teman. Tapi, kalian yang di depan, ya? Soalnya perasaanku benar-benar tidak enak," jawabku.
"Oke, Im," jawab kedua temanku.
Kami pun melanjutkan langkah kami untuk memeriksa lorong tersebut.
"Gimana, Im, sudah lebih enakan sekarang?" tanya temanku yang berjalan di depan.
__ADS_1
"I-iya, lumayan," jawabku.
"Kayaknya sebentar lagi kita akan sampai di ujung lorong, deh!" ujar temanku.
"Dari mana kamu tahu? Lah wong, di depan gelam begitu," protes teman satunya.
"Feelingku saja, sih!" jawab temanku itu.
"Halah ... feeling-feeling. Tuh, Imran pake main feeling segala sampai telinganya berdengung," jawabnya.
Aku sengaja tidak menimpali obrolan mereka karena aku kembali merasa telingaku berdengung. Bahkan kali ini aku merasa dadaku merasakan hawa panas.
"Aduh ...," Aku memekik sakit sambil berusaha menutupi lubang telinga dan juga memegangi dadaku yang memanas.
Kedua temanku sepertinya tidak menyadari kalau aku sedang kesakitan. Mereka masih terus melangkah sambil mengobrol. Aku memegangi telinga dan dadaku yang semakin sakit. Aku berusaha memanggil kedua temanku untuk meminta pertolongan, tapi mereka tidak mendengar panggilanku.
"Heeeeeeeei .... Heeeeeeeeei ...," suaraku parau memanggil kedua temanku sambil menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang telinga dan dadaku. Serangan rasa sakit itu menyerangku selama beberapa detik dan rasa sakit itu pun tiba-tiba menghilang tepat saat rumput-rumput di belakang temanku kembali berdiri setelah diinjak oleh mereka. Alhasil, aku dan kedua temanku sudah tidak dapat saling melihat.
Menyadari rasa sakitku sudah menghilang, aku pun segera mengambil ancang-ancang untuk menyusul kedua temanku yang aku yakin hanya berjarak tak sampai lima meter di depanku. Maka, aku pun berlari menabrak rumput-rumput itu. Aku tidak meperdulikan kulit tanganku tergores daun-daun jagung yang cukup kasar. Bagiku saat itu yang terpenting adalah berkumpul dengan kedua temanku itu lagi.
Aku terus berlari dengan kencang melawan lebatnya rumput dan daun jagung. Sudah tak terhitung berapa luka goresan di lenganku akibat sayatan pinggiran daun jagung. Aku juga tidak memperdulikan akan bertemu ular di antara rumput-rumput itu.Anehny, meskipun aku sudah berlari cukup kencang, aku tak juga dapat mengejar mereka berdua. Bahkan, menurut perhitunganku aku sudah seharusnya sampai di ujung lorong. Namun, lebatnya daun jagung dan rumput masih saja ada di depanku. Seolah-olah aku hanya berlari di tempat saja.
"Heiiiii ... Heiii ...," teriakanku memanggil kedua temanku dengan keras. Kali ini aku merasa dadaku sudah plong untuk berteriak. Aku yakin seandainya mereka ada di depanku, mereka pasti mendengarnya. Bahkan, aku yakin jika Bondan ada di lorong sebelah, ia juga pasti mendengar teriakanku. Tapi, nyatanya, teriakanku tidak didengar oleh siapa-siapa. Aku merasa sedang berada sendirian di tempat itu. Menyadari hal itu, aku pun semakin kencang berlari sampai napasku tersengal-sengal agar aku bisa segera keluar dari lorong itu. Tapi usahaku lagi-lagi gagal. Tajamnya pinggiran daun jagung masih saja ada di depan dan di belakangku.
BERSAMBUNG
Like, komen, dan vote Sobat Junan di setiap episodenya sangat aku tunggu-tunggu, loh!
__ADS_1
Terima kasih atas atensi Sobat Junan semuanya.