
Aku masuk ke kelas terlebih dahulu, kemudian disusul oleh Bondan beberapa menit kemudian. Bondan melempar bokongnya ke kursi dengan agak keras, seolah-olah ia sedang berusaha melepaskan emosinya. Mulai dari awal materi sampai kelas selesai, kami yang biasanya akrab berbicara mendadak sama-sama membisu. Bahkan saat istirahat aku dan Bondan memilih tempat terpisah untuk sekedar melepas lelah. Aku memilih untuk duduk di teras sambil menikmati beberapa potong kue yang aku bawa dari rumah, sedangkan Bondan duduk di depan kelas juga, tapi pada tempat duduk yang berbeda. Ia juga menikmati makanan yang ia bawa dari rumah. Sampai bel tanda masuk berbunyi, kami berdua masih belum saling berbicara. Aku menyadari bahwa sebenarnya saat ini kami sedang lelah pikiran, jadi kami menghindari berkomunikasi dulu agar tidak terjadi kesalahpahaman yang lebih besar.
Tidak terasa bel pulang sekolah pun berbunyi. Kami semua melaksanakan salat Asar secara berjamaah di musala. Setelah salat berjamaah, kami berganti pakaian Pramuka dan berkumpul di lapangan. Kak Sandy sebagai ketua OSIS menyampaikan beberapa pengumuman di antaranya adalah pembagian kelompok dan jadual kegiatan Persami yang akan kami ikuti. Semua siswa mencatat jadual kegiatan itu ke bukunya masing-masing. Setelah itu semua berpencar sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Aku satu kelompok dengan Bondan di kelompok Singa. Kami langsung mendirikan tenda di halaman sekolah. Tepat saat azan Asar dikumandangkan, tenda yang kami buat selesai dan siap digunakan.
Kegiatan setelah salat Asar adalah PBB dan Out Bond. Out bond hari itu sangat seru sehingga membuat semua siswa antusias untuk mengikutinya. Setelah Out Bond selesai, semua siswa dipersilakan untuk mandi dan bersiap-siap melaksanakan salat Magrib kembali di musala.
Beberapa guru pulang ke rumah pada saat anak-anak sedang mandi dan bersiap-siap salat Magrib.
"Tenang, adik-adik. Nanti sebagian guru akan kembali ke sekolah untuk mendampingi OSIS dalam melaksanakan kegiatan ini," ujar Kak Sandy.
Setelah salat Magrib, lampu-lampu di sekolah dimatikan. Suasana menjadi gelap. Setiap kelompok menyalakan lilin sebagai penerangan. Sayangnya satu kelompok hanya diperbolehkan menyalakan satu lilin saja.
"Adik-Adik, sebentar lagi akan diadakan lomba PBB di lapangan utama. Setiap kelompok wajib mengirimkan sepuluh anggotanya untuk mengikuti lomba tersebut," ujar Kak Tedy yang diberi tugas menyampaikan informasi ke semua kelompok.
"Teman-Teman, jumlah kelompok kita kan ada dua belas orang. Sebentar lagi sepuluh orang harus mengikuti lomba di dekat tenda utama. Berarti ada dua orang yang akan bertugas menjaga tenda. Siapa yang akan menjaga tenda?" tanya ketua kelompok kami.
Ada dua orang yang mengangkat tangannya yaitu aku dan Bondan. Waktu itu kami duduk secara terpisah. Ketua kelompok melihat ke arahku.
"Kamu yakin nggak mau ikut, Im?" tanyanya.
"Iya. Aku berjaga di tenda saja," jawabku kalem.
"Baiklah. Imran dan Bondan akan menjaga tenda ini. Yang lainnya akan ikut saya untuk mengikuti perlombaan PBB. Apa kalian siap?" tanya ketua kelompok.
"SIAAAAAP!!!" jawab kami kompak.
"Baiklah. Im .. Ndan ... kami titip tenda ini. Hati-Hati ada penyusup dari kelompok lain. Kita nggak boleh kecolongan. Kalau sampai salah satu atribut kita ada yang hilang atau kecolongan maka kita akan dinyatakan gagal dan harus mengulang kegiatan ini tahun depan," pesan ketua kelompok.
"Siap, Ketua!!" jawabku dan Bondan kompak.
__ADS_1
Kesepuluh teman kelompokku pun berangkat secara bersama-sama menuju lapangan utama yang letaknya agak ke timur meninggalkan aku dan Bondan yang sedang tidak saling bicara.
Aku dan Bondan duduk berhadapan dan bersila di depan tenda tanpa saling bertegur sapa. Setelah beberapa menit tak saling menyapa, Bondan tiba-tiba berdiri.
"Mau ke mana kamu, Ndan?" tanyaku spontan.
"Aku mau ke kamar mandi untuk buang air kecil," jawabnya.
"Aku temani, ya?" tanyaku.
"Tidak usah! Siapa yang menjaga tenda ntar kalau kamu ikut?" tegasnya.
"Kamu nggak apa-apa ke kamar mandi sendirian? Kamu ke kamar mandi mana?" tanyaku cemas.
"Aku nggak apa-apa, kok. Aku ke kamar mandi sebelah perpustakaan," jawabnya enteng.
"Kamar mandi sebelah timur itu selama Persami dikhususkan untuk anak-anak cewek. Kamar mandi yang barat dikhususkan untuk cowok, Im," jawab Bondan.
"Ooo ... begitu. Hati-Hati, ya, Ndan," ujarku lemah.
"Makasih," jawab Bondan singkat.
Aku menatap kepergian sahabatku itu dengan perasaan cemas. Aku takut terjadi sesuatu padanya. Kalau sampai hal itu terjadi, tentunya aku yang akan merasa paling menyesal karena sudah tidak bertegur sapa dengannya sekarang.
Semenit dua menit pun berlalu. Aku sudah tidak dapat melihat Bondan dari posisiku duduk. Tenda-Tenda di di sekitar ku pun sekarang sepi sekali. Jarak antara tenda memang cukup jauh jadi wajar saja dalam kondisi hanya diterangi sinar cahaya lilin, aku tidak dapat mendengar aktivitas kelompok yang lain. Tapi, dari kejauhan aku masih mendengar suara teriakan anak-anak yang sedang mengikuti lomba di lapangan sebelah timur.
BLEP ...
Tiba-Tiba lilin yang berada di depanku mati karena tiba-tiba tertiup angin. Aku mengambil korek di sakuku untuk menyalakan lilin itu kembali.
__ADS_1
SIUUUT ...
Tiba-Tiba angin bertiup kembali. Aku berusaha menutupi bagian sekeliling lilin dengan kedua telapak tanganku agar lilin itu tidak mati lagi. Usahaku tidak sia-sia, lilin itu tetap menyala. Tapi, angin makin rajin berembus. Aku pun membawa lilinnya masuk ke dalam tenda.
"Siapa itu?" teriakku.
Aku sekilas melihat seseorang seperti melintas di sebelah kiri tenda. Tidak ada suara sahutan.
"Apa kamu, Ndan?" teriakku.
Tidak ada sahutan. Tapi, kalau dipikir-pikir mana mungkin itu Bondan. Bukankah ia masih ada di kamar mandi. Sekarang aku sudah berada di dalam tenda dengan lilin di depanku. Tidak ada lagi angin di dalam tenda ini.
Beberapa menit kemudian aku mendengar suara langkah sedang mendekat ke tendaku. Sampai di depan tenda langkah itu terhenti. Aku melihat Bondan sedang berdiri di pintu masuk tenda ini. Bondan masuk ke dalam tenda dan duduk di depanku sambil membenarkan tali sepatunya membelakangiku.
"Syukurlah kamu kembali, Ndan," ujarku sambil memandangi punggung temanku itu.
Bondan tidak menyahut. Barangkali ia masih kesal denganku. Aku baru menyadari saat itu bahwa kecuekanku padanya adalah sebuah kesalahan.
BLEP ...
Lilin di depanku mati kembali padahal tidak ada angin yang berembus.
BERSAMBUNG
Ditunggu like, vote, dan komentarnya.
Kalau kakak hanya membaca saja, hm ... tolong noleh ke belakang ...
Mungkin ada korek di belakang kakak.
__ADS_1