
Gunawan Group
Ruang kerja Cakra
Cakra memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu sambil dia memijat-mijat kepalanya yang terus berdenyut-denyut sejak tadi.
pekerjaan menumpuk karena urusan pernikahan nya beberapa hari yang lalu membuat dia cukup lelah menyelesaikan semuanya.
Sejenak lagi menjadi jam pulang kerja untuk nya, tapi tidak tahu kenapa ini kali pertama untuk dirinya enggan pulang ke rumah, pada akhirnya dia tahu saat dia pulang ke rumah dia akan bertemu dengan gadis desa tersebut.
Entahlah tapi dia hanya merasa enggan dan belum siap untuk bisa berbaur dengan Senja, bagi nya saat ini yang penting dia memiliki status pernikahan agar tidak lagi terus didesak oleh Mama dan papa nya.
Kata pernikahan dan anak membuat dia seringkali Stress mendengar nya.
"Kamu baik-baik saja?"
tiba-tiba suara seseorang mengejutkan dirinya.
Laki-laki tersebut langsung membuka bola matanya, dia melihat seorang gadis berdiri didepan mejanya.
"Belakangan aku lihat kakak seperti orang yang terkena banyak tekanan"
Lanjut gadis tersebut lagi.
Riana, adik almarhum istrinya, Jelita.
__ADS_1
meskipun Riana adik jelita, tapi sifat mereka cukup bertolak belakang antara satu dengan yang lainnya, jika jelita gadis yang selalu menjaga cara berpakaian nya, tidak banyak bicara, murah senyum dan sangat menjaga jarak pada laki-laki, tentu hal nya sangat memiliki sifat yang berbeda dengan Riana.
gadis menghadapinya tersebut selalu menggunakan pakaian yang bisa mengusik laki-laki mana pun yang memandang nya, jika tidak kuat iman, bisa di jamin akan menimbulkan fitnah dan zina, belum lagi gadis tersebut terlalu berani pada para laki-laki disekitar nya, terlalu ramah pada kaum yang bukan golongan nya dan terang-terangan ingin berkata turun ranjang bersama Cakra.
Riana, menjadi salah satu pegawai di perusahaan tersebut karena permintaan nya pada Papa Cakra.
"kenapa kamu ada disini?"
laki-laki tersebut bertanya sambil mengerutkan keningnya, cukup terganggu dengan pakaian yang di gunakan Riana.
baju blazer dengan rok yang terlalu mini, bisa mengundang syahwat laki-laki yang melihat nya.
Cakra Beberapa kali menegur nya namun tidak kunjung di indahkan, dia jelas tidak memiliki kapasitas lebih untuk mengingatkan, Cakra merasa Riana bukan lagi siapa-siapa nya meskipun tidak di pungkiri kakak gadis tersebut adalah almarhum istrinya.
Bagi Cakra, tubuh seseorang itu adalah Hak nya, layak nya sebuah agama, tubuh adalah pilihan sang empunya bagaimana cara menjaga nya.
Melihat ekspresi Cakra yang menatapnya sedikit aneh seketika membuat Riana memunyungkan bibirnya.
"Aku hanya bertanya dan memberikan perhatian khusus, tidak mesti menatap ku begitu kak, seperti biasa aku seperti racun dan benalu bagi kakak, seolah-olah lupa, selama beberapa tahun kak jelita meninggal siapa yang paling banyak berkorban"
Protes Riana.
itu yang paling tidak pernah Cakra suka dari Riana, karakter perempuan yang suka menggerutu setelah melakukan banyak pengorbanan tidak pantas dijadikan sosok istri untuk dirinya, pada suatu saat jika mereka bertengkar karakter seperti itu pada akhirnya akan membunuh pernikahan mereka.
orang yang sering mengeluh dan menggerutu bukanlah orang yang tepat untuk karakter laki-laki seperti Cakra, biasanya karakter yang suka mengungkit hal-hal yang sudah-sudah dan kurang ikhlas dalam pengorbanan menjadi karakter buruk dalam hubungan rumah tangganya.
__ADS_1
mendengar ucapan gadis tersebut seketika membuat Cakra mendengus.
"sejak kapan aku memintamu untuk mengurusku? bahkan bertahun-tahun yang lalu tidak ada yang pernah ku izinkan untuk keluar masuk ke kehidupan ku, bukankah kau ya sebenarnya tidak tahu malu dan tidak bisa menjaga jarak dengan baik dengan kakak iparmu sendiri, seolah-olah sejak awal kau memang benar-benar mengharapkan kematian kakakmu agar bisa menggantikan posisinya di sampingku"
laki-laki itu bukan tipe orang yang suka bermulut manis, bahkan dia tidak pernah memberikan celah untuk memberi kesempatan kepada orang lain mengisi hatinya, tidak ada istilah tidak enak saat dia bicara begitu ketuk kepada para perempuan atau gadis lain.
karena menurutnya lebih baik dia menolak dari awal daripada memberi harapan yang tidak pernah bisa dia berikan.
mendengar ucapan Cakra seketika membuat Riana langsung mengubah ekspresinya menjadi mendung dengan wajah yang memerah karena malu.
"Kak... bisa-bisa nya?"
gadis itu menggenggam erat telapak tangannya, mencoba untuk menahan malu dan marah.
"keluarlah dari ruanganku dan lain kali ketuk pintu saat ingin masuk ke sini"
lanjut Cakra lagi.
bayangkan bagaimana perasaan Riana saat ini, baginya sudah berkali-kali Cakra memberikan respon yang sangat mengerikan untuk dirinya.
pada akhirnya daripada mempermalukan dirinya lagi, gadis itu lebih baik keluar dari sana dengan cepat dan memikirkan rencana berikutnya untuk meluluhkan hati kakak ipar nya tersebut.
sedangkan Cakra memilih untuk membuang pandangannya, dia beranjak dari posisi duduknya dan bergerak mendekati jendela kaca besar yang menjulang tinggi menghadap ke arah langit.
__ADS_1
Laki-laki tersebut tidak bergeming untuk beberapa waktu, membiarkan bola mata nya terpejam sejenak menikmati sinar matahari yang mulai menghilang secara perlahan ditelan malam.
Tidak lama kemudian handphone nya tiba-tiba berdering secara perlahan, tapi laki-laki tersebut sama sekali tidak bergeming atau bergerak dari posisi.