
Mendengar pertanyaan Senja, Cakra terlihat diam, dia membiarkan netra mereka terus menyatu Antara satu dengan yang lainnya.
Diam dan hening, itu yang dirasa didalam kamar mendominasi berwarna putih berukuran besar tersebut.
Senja menunggu Jawaban Cakra, terlalu gelisah dengan kebaikan Cakra, penikahan Mereka tidak sungguh-sungguh tapi sifat laki-laki tersebut seolah-olah mengikis jarak dalam pernikahan di atas perjanjian tersebut, membuat Senja khawatir akan kemana pernikahan mereka nanti.
Dia mulai gelisah, ketakutan menghantam dirinya, dibalik ingatan akan cinta pertama yang kandas membuat dia tiba-tiba takut kembali terluka.
Berhentilah sebaik ini pada ku, kau tidak tahu bagaimana rasanya ditinggalkan.
Itu yang ada di dalam hatinya.
Memasang jarak pasti pada Cakra, berharap kembali seperti awal dimana mereka tidak memangkas jarak hingga sedekat ini.
Dan Cakra sendiri sulit membuka suaranya n
Entahlah Cakra tidak memiliki jawaban sama sekali atas pertanyaan istrinya, dia hanya refleks mengikuti kata hati, apakah sedang mengimbangi tingkah laku Senja atau sebenarnya dia lah yang diimbangi Senja, membuat dua perilaku dan watak manusia yang sebenarnya tidak sama namun berusaha untuk saling menerima.
Realitanya tidak akan ada pasangan yang sempurna, menuntut boleh tapi kita tidak akan pernah bisa mendapatkan sosok yang selalu sesuai kemauan kita, yang tepat saling mengimbangi dan menerima itu yang akan membuat pernikahan bahagia.
Dan Senja membuat nya menerima semua apa yang di miliki gadis tersebut tanpa harus membuat dia memaksakan diri untuk Senja menerima balik dirinya, dia sedang mengimbangi, belajar mensejajarkan diri untuk memahami.
"Aku anggap ini seperti sebuah ibadah"
Ucap Cakra pelan.
"Tidak ada jawaban pasti, aku hanya mengikuti kata hati, dan aku seperti nya sedikit lupa diri"
__ADS_1
Lanjut nya lagi kemudian.
"Maaf jika membuat mu tidak nyaman"
Cakra merasa bersalah, terlalu dini memberikan perhatian yang mungkin membuat Senja jadi terlalu tidak nyaman.
"Ingatkan aku jika kamu merasa tidak nyaman"
Tambah laki-laki tersebut lagi, dia diam sejenak kemudian memilih untuk beranjak dari posisi nya, merasa gelisah karena mungkin Senja masih belum terbiasa dengan sifat nya.
Realitanya dia memang begitu, kesan awal memang terlihat angkuh dan dingin, tapi dia tidak seburuk itu, saat bersama Jelita dia juga begitu, awalnya sangat dingin dan cetus, begitu kenal mereka bilang Cakra sosok hangat dan menyenangkan, terlalu care bahkan sulit melupakan, jangan buat dia jatuh cinta, karena dia bisa melakukan apa saja bahkan dia tidak akan pernah tertarik pada gadis lainnya jika dia sudah tergila-gila pada satu gadis saja.
Cakrawala itu dimana Allah SWT menaruh semuanya yang ada di cakrawala untuk menerangi bumi, dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap.
Dan Cakrawala tidak pernah beranjak karena dia menjadi pembatas antara banyak hal, dia begitu setua tidak pernah beranjak kemanapun dan sekali nya Allah SWT menciptakan cakrawala dan menetapkan posisi nya, cakrawala telah menetap dimana dia berada.
Dia ingin beranjak, menjauh dari Senja, merasa terlalu bodoh dengan sifat nya yang bisa jadi membuat Senja risih juga tidak terbiasa.
Ketika dia siap beranjak, tanya Senja menggema di antara lapisan dinding kamar tersebut, seolah-olah ada getaran halus yang menghantam jiwa nya.
Kemana?!.
Itu menjadi satu peluru yang terus siap dia tembakkan kapan saja ke jantung hatinya belakangan ini.
Yah kemana sebenarnya dia ingin membawa hubungan mereka?!, dan dia sebenarnya mulai memiliki sedikit jawaban nya dalam istikharah cinta nya kepada Allah dalam beberapa hari belakangan yang dilakukan diam-diam.
Cakra langsung berbalik kemudian menatap Senja, dia lantas berkata.
__ADS_1
"Mari membuang surat perjanjian nya"
Mantap dia bicara, menatap wajah sendu yang masih tersisa, dengan bola mata indah yang membuat dia terus menatap gelisah.
Berdebar-debar menunggu jawaban Senja, bermodalkan bismillahirrahmanirrahim saat mengatakan nya tadi.
"Mari memulai nya dari awal terhitung hari ini"
Lanjut laki-laki itu lagi.
Senja tak bergeming, dia membulatkan bola mata, degub jantung nya seolah-olah berhenti.
Dan seolah-olah di lauhul mahfudz nama mereka perlahan tercatat dalam tinta emas yang tidak mungkin terhapus hingga kematian menerjang.
...(Bayangkan ada musik indah mengalun diiringi serpihan emas bertaburan dimana tinta emas mulai mengukir indah nama mereka berdua)...
******
Setiap manusia diciptakan berpasang pasangan oleh allah SWT ,entah dengan cara apa allah mempertemukan kita dengan pasangan kita tentu hanya allah yang mengetahui kapan dan dimananya .berjodoh dengan seseorang bukanlah hal kebetulan melainkan sudah digariskan atau di tuliskan di lauhul mahfud.
Karena sesungguhnya jodoh yang akan datang kepada kita adalah hasil dari setiap usaha dan doa kita.
******
Catatan \=
__ADS_1
Baper dan melankolis ga makkkk?!
Demi Allah cari ide dan nulis kisah Senja dan Cakra tuh ikut alun banget, tanpa sadar emosi Mak author ikut naik turun di tiap bab nya ketika ngetik, pas sedih ikut nangis, pas kesal ikut marah, pas baper dan bucin kek merasa kembali remaja hahahaha, Mak author sengaja membawa ini cerita seperti arus sungai yang diiringi terpaan angin yang tidak tertebak arah nya, sebab kisah mereka lain dari pada novel Mak author yang lainnya.