
Mereka diam untuk beberapa waktu, lama, snagat lama hingga akhirnya Cakra melebarkan senyuman nya.
"Kita punya masa lalu, itu bukan masalah"
Dia bicara cepat, menghembuskan pelan nafasnya kemudian beranjak menyingkir dari ranjang.
"mari mendapatkan makan malam, ini sudah hampir tengah malam, kamu belum makan sejak terakhir kali kita berhenti di merak ba'da Zuhur"
Cakra mengingatkan, dia tahu Senja pasti lapar.
Melihat Cakra beranjak, Senja mengejar langkah, dia menahan lengan Cakra, membuat laki-laki tersebut terkejut, menoleh dengan cepat.
"Kamu tidak mau bertanya siapa dia dan apakah kamu mengenal nya?"
Dia bertanya, serius, ingin Cakra bertanya agar tidak menjadi beban dikemudian hari.
__ADS_1
Mendengar ucapan Senja, cakra sejenak mengerutkan keningnya, menelisik bola mata penuh kecemasan yang seolah-olah menerangkan masih ada cerita yang sebenarnya belun usai untuk dijelaskan.
laki-laki tersebut kemudian melebarkan senyumannya, dia menggeleng kan kepala kemudian tiba-tiba tangan kanan nya menyentuh lembut poni Senja, merapikan nya Secara perlahan, begitu lembut membuat Senja sejenak memejamkan bola matanya, refleks karena terkejut, ini untuk kedua kalinya dia merasakan hal yang sama, dulu didepan masjid, kini di kamar ini.
"Aku ini sedikit pencemburu"
Cakra bicara sambil meletakkan poni panjang Senja dibalik telinga nya.
"Aku tidak tahu bagaimana kedepan nya, apakah aku hanya sekedar jatuh cinta pada mu atau bahkan bisa jadi Allah SWT membolak-balikkan hati ku dan membiarkan aku tergila-gila pada mu"
"Biarkan aku tidak tahu siapa, karena aku takut kecemburuan ku menjadi-jadi dan merugikan banyak orang termasuk pernikahan kita"
Cakra kemudian menyentuh lembut dada atas Senja, membuat degub jantung Senja seketika tidak baik-baik saja.
"Simpan disini, aku dengan kenangan ku, dan kamu dengan kenanganmu"
__ADS_1
Laki-laki tersebut menyentuh lembut wajah Senja, menikmati rona polos dan memerah dibalik pipi cantik tersebut, mencoba mengikis jarak dan membuka satu kesempatan kedepan nya.
"Aku pernah membaca tulisan Tere Liye, disana aku sempat belajar berhenti tenggelam dalam ruangan gelap untuk mengingat jelita dimasa lalu, dia menulis dengan terus melangkah, cepat atau lambat, semua beban kenangan akan tertinggal di belakang, kemudian Ilham Gunawan juga pernah menulis barisan kata, Tidak ada yang benar-benar bisa melenyapkan kenangan lalu. Kita hanya bisa menimbunnya dengan kenangan baru yang lebih besar nilainya."
Setelah berkata seperti itu Cakra masih membiarkan telapak tangannya mengelus lembut pipi kiri Senja, di mana dia bisa melihat senja seolah-olah tenggelam dengan apa yang diucapkannya.
laki-laki itu menurunkan tangannya kemudian dia membentang telapak tangannya dengan luas, lantas Cakra berkata.
"Mereka bilang menjadi cinta pertama seseorang mungkin menyenangkan. Tapi, bukankah menjadi yang terakhir itu lebih dari sempurna?"
Seulas senyuman mengembang di balik bibir laki-laki tersebut, dia bicara sembari meyakinkan istrinya, gadis yang dia nikahi. Berawal dari kesepakatan lalu membuatnya gelisah dan mulai meragu dan kini tiba-tiba ingin mencoba untuk merajut segala sesuatu dari awal sembarinya langsung masa depan bersama hingga akhir hayatnya.
telapak tangannya masih mengulur menunggu Senja menerimanya, di mana bola mata gadis tersebut terus menata ke arah laki-laki yang telah sah menjadi suaminya, baik secara agama maupun secara kenegaraan, disaksikan oleh Allah SWT, juga malaikat dan juga orang-orang yang ada di sekitarnya.
Senja secara perlahan menaikkan telapak tangannya, mengulurkan tangan indah itu ke arah tangan kokoh dan besar yang ada di hadapannya tersebut.
__ADS_1