
Tangis gadis tersebut tumpah, membuat Vervita seketika menelan salivanya, dia memeluk Riana perlahan, dimana Rudi mendengus melihat Riana.
Dasar!.
Laki-laki tersebut membuang wajahnya, Benci mendengar Isak tangis Riana, ingin sekali dia memaki kepalsuan Riana, tapi Vervita menggeleng kan kepala nya.
"No"
Gadis tersebut seolah mengajaknya bicara.
"Meskipun membenci nya, setidaknya dia seorang perempuan, ada hati yang rapuh terselip di balik keangkuhan mereka"
Rudi tidak bicara, berniat pergi mengabaikan gadis yang dia anggap cengeng dan lebai itu, jika tidak ada Vervita bisa dia Pastikan akan menyeret gadis tersebut kejalanan tanpa rasa iba, hal tersebut mengingatkan nya pada satu masa, dimana seseorang pernah memperlakukan hal yang sama, menyeret diri nya dan Mak dalam kondisi yang sama tapi dengan kisah yang berbeda.
Rudi menggenggam erat telapak tangan nya, menahan berbagai beban emosi yang membuncah didalam hatinya sejak tadi, mencoba pergi tapi tiba-tiba satu tangan Vervita menahan gerakan nya, menggenggam erat telapak tangan laki-laki tersebut sembari bola mata Vervita menatap dalam kearah Rudi.
Seakan-akan berkata,
"Jangan menangis, ada aku disini hmmm"
Seulas senyuman tipis penuh arti mengembang dibalik wajah Vervita.
"Jangan lupa Ga, hujan paling lebat keluar dari awan tergelap, akan ada masa langit menerang, musim hujan akan berubah menjadi musim semi yang indah"
******
__ADS_1
Di sisi lain.
Cakra dan Senja.
"Ada apa?"
Senja bertanya bingung menatap ekspresi Cakra yang tiba-tiba berubah saat mendengar penjual martabak berkata seseorang yang mencari entahlah siapa Senja tidak paham.
Cakra menoleh kearah Senja, menatap dalam Bola mata gadis disampingnya tersebut untuk beberapa waktu.
entahlah apa yang dipikirkan Cakra, laki-laki tersebut seperti nya membeku untuk beberapa waktu, setelah itu dia langsung mengehela nafasnya kemudian berkata.
"Aku akan menghubungi seseorang"
unsur laki-laki tersebut cepat kemudian dia mengeluarkan handphonenya, Cakra mencoba untuk menghubungi seseorang di seberang sana, Senja sama sekali tidak menjawab dia hanya menganggukkan kepalanya.
Cakra bergerak sedikit menjauhi senja, menunggu panggilannya diangkat oleh seseorang di ujung sana hingga pada akhirnya bisa dia dengar suara seseorang menyahut dari balik handphonenya .
"kau ada di mana?"
laki-laki itu bertanya dengan cepat, menunggu jawaban dari seberang sana untuk beberapa waktu, setelah mendapatkan jawaban dari seberang sana Cakra terlihat mengeratkan rahangnya, laki-laki tersebut kemudian menoleh ke arah senja untuk beberapa waktu sembari berkata kepada seseorang di ujung sana.
"apa kau bisa mengatur semuanya? pastikan dia tidak mengganggu kami dan aku tidak ingin melihat wajahnya besok pagi"
Cakra bicara setelah itu laki-laki tersebut menutup panggilannya begitu saja tanpa harus menunggu jawaban di seberang sana.
__ADS_1
dia berantakan handphonenya ke dalam kantong celananya kemudian berjalan mendekati senja dan kembali duduk di samping gadis itu kemudian melihat sisa martabak miliknya.
tidak terdapat percakapan apapun di antara mereka hingga mereka melihat semua martabak india menghabiskan teh botol milik mereka.
setelah memastikan semuanya habis dan senja meyakinkan diri untuk segera pulang saat ini Cakra langsung membayar makan mereka sembari mengucapkan terima kasih lantas dengan buru-buru dia menaiki motor legenda milik sang istrinya, berdebus jalanan kota Lubuklinggau di mana malam jelas semakin meninggi.
Senja Masih berdiri tidak bicara, membiarkan bola matanya menatap ke setiap penjuru arah, senja seketika bingung saat dia menyadari Cakra membawanya ke salah satu hotel yang ada di sisi kiri mereka.
"Loh?"
gadis tersebut bertanya sembari mengerutkan keningnya.
"Tuan...eh salah...Suamj ku...?"
Dia ingin bertanya kenapa laki-laki tersebut membawa nya kesana.
"Ada gangguan dirumah"
Laki-laki tersebut memberikan jawaban dengan cepat.
"Ya?"
"Malam ini Kita akan tidur disini"
Ucap Cakra lagi.
__ADS_1
Loh...loh....loh...?!.
Senja seketika gelagapan.