
Kediaman utama Mama Niar dan Papa Gunawan.
Dikamar mendominasi berwarna putih, mama Niar terlihat keluar dari kamar mandi sambil menggulung rambut nya dengan handuk yang masih basah, dia berjalan menuju kearah meja hias kemudian mulai membersihkan muka.
Melirik kearah suaminya yang terlihat sibuk mengutak-atik jam tangan tua kesayangan nya, dengan kaca mata yang membingkai wajah.
"Diganti saja pa, sudah berulang kali di dandani, sudah pantas masuk etalase koleksi barang tidak pakai"
Wanita tersebut bicara cepat,meraih kapas dan pembersih muka.
Papa Gunawan mengulum senyuman, dia masih fokus memutar obeng berukuran mini khusus untuk membuka baut jam di tangan kanan nya.
"sayang"
Itu selalu menjadi jawaban mujarab suaminya.
"Seberharga itukah jam tangan itu Pa? menemani kamu jauh sebelum kita menikah"
Wanita tersebut menghela pelan nafasnya, dia pikir saat suami nya memiliki sebuah barang dengan kenangan nya, laki-laki tersebut benar-benar menjaga dan menghargai nya.
Mendapatkan pertanyaan dari istrinya, tuan Gunawan menghentikan gerakan tangannya, dia diam untuk beberapa waktu, memilih menatap jam tangan usang dan tua tersebut.
Tua.... lebih tua dari usia Cakra, usang dan sebenarnya sudah cukup untuk pantas dan tidak layak lagi digunakan, gompelan kecil terlihat di bagian sudut bawah,warna nya usang dan jarum jam nya terkadang bergerak tenang terkadang suka mati tiba-tiba.
Tapi bukan itu yang dia pertahanan kan, melainkan sebuah kenangan indah yang tersimpan di dalamnya di masa lalu.
__ADS_1
Jam itu masuk pada katagori jam paling mahal di era itu bahkan hingga hari ini, Rolex, siapa yang tidak tahu daftar harga nya?!.
Dan seseorang memberikan nya pada dirinya.
Tuan Gunawan melepaskan kaca matanya, dia memejamkan bola matanya sejenak, mengingat rupa Wanita yang masih berjuluk gadis pada masa nya.
Gadis bertubuh kecil dengan wajah cantik yang cukup mirip dengan seseorang yang belakangan terus dia lihat, mengisi banyak hari dan hati dengan keceriaan yang bisa membuat tenang dirinya.
Bijaksana tapi begitu manja, mandiri dengan segala keadaannya, begitu hangat dan mampu membuat dia merindukan nya jika mereka berjauhan.
"Aku membawa sesuatu untuk kamu"
Suara halus mengalun indah di balik telinga nya, gadis cantik itu berdiri tepat dihadapan nya, menyembunyikan kedua tangan nya tepat di belakang punggung nya.
Gunawan muda, tidak kalah tampan dengan Cakra, menatap netra yang belakangan membuat dia tergila-gila, gugup dia rasa tapi dia memendam rasa, tidak berani mengikis jarak persahabatan karena dia jatuh cinta pada sosok kecil mungil didepannya.
Dia pura-pura bicara tegas, menampilkan satu sisi sombong nya, tapi tetap dengan tatapan hangat namun dengan senyuman mahal yang menggoda, rambut di sisir kesamping dengan pakaian rapi dan mahal karena dia memang anak orang punya, papa nya pemilik perusahaan raksasa konstruksi di Jakarta, siapa yang tidak mengenal keluarga mereka.
Senyuman Gunawan hanya untuk gadis dihadapannya, bukan untuk siapa-siapa.
"Tutup mata dan biarkan aku memberikan nya"
Gadis tersebut bicara cepat, menampik barisan gigi putih yang tertata rapi, bibir merah muda alami menambah cantik sosok tersebut, membuat Gunawan muda semakin berdebar-debar melihatnya.
Ahhhh jika saja dia tidak ingat dosa dan siapa sosok dihadapan nya, ingin sekali dia menyambar bibir Indah itu, menyatu dalam sentuhan kalbu yang mungkin bisa semakin dalam mengoyak dirinya.
Dia benar-benar jatuh cinta pada nya.
__ADS_1
Gunawan memejamkan bola matanya, mengulum senyuman dan menunggu kejutan yang akan diberikan gadis yang mampu memporak-porandakan hati Gunawan yang tidak pernah terpaut dengan gadis manapun hingga hari ini.
"Pa?"
Suara istrinya mengejutkan diri nya.
Tanpa sadar ada lelehan air menghiasi pinggiran mata tua tersebut,dia menghapus nya buru-buru disaat istri nya sibuk membersihkan sisa make up nya.
"Berharga, sangat, dari seorang teman terbaik didalam hati, yang putri nya baru aku temukan setelah puluhan tahun terpisah"
Jawab Gunawan cepat, dia menundukkan kepalanya kembali, berkutat pada jam tangan yang mampu membuat nya menangis siang dan malam karena rindu yang tidak pernah tersampaikan lagi.
******
Aku mencintai dia sebagai yang terakhir.
Tapi aku begitu mencintai kamu yang pernah menjadi yang pertama.
Apa kau merindukanku? aku begitu merindukan mu.
Dan kerinduan ku sedikit sirna saat aku melihat dia yang memiliki paras sama persis seperti kamu disini.
Senja!.
Dia cantik, seperti diri mu.
Jangan marah, aku menarik nya karena aku tahu dia pantas menggantikan kamu untuk Cakrawala.
__ADS_1
Kita mungkin tidak bisa bersama, tapi anak-anak bisa menyatukan rindu milik kita yang tertunda.