Senja Di Atas Cakrawala

Senja Di Atas Cakrawala
Menuntun pada pernikahan yang baik dan sehat


__ADS_3

Masih di Pullman Jakarta Central Park hotel


Kamar bulan madu Senja dan Cakra.



"Sudah lebih nyaman?"


Cakra bertanya pelan, berbisik di samping telinga Senja, dia memeluk Perempuan tersebut dari belakang, dimana Senja sibuk menatap pemandangan di depan pusat kota sembari meletakkan kedua tangannya di pinggiran besi penyangga teras kamar hotel.


"He em"


Senja menganggukan kepalanya.


"Malam terlihat indah, lampu jalanan memecah ibu kota, macet juga"


Perempuan tersebut bicara, menunjuk kearah depan memberitahukan apa yang dia lihat didepan sana.


"Jakarta, kota paling sesak di dunia, ini Indonesia"


Ucap Cakra sambil mengembang kan senyuman nya, membiarkan dirinya terus memeluk Senja dari belakang, menikmati pemandangan dihadapan mereka, sesekali dia mencium puncak kepala istrinya sembari bola matanya terus menatap kearah dengan.


Kini secara perlahan tangan kanan Cakra meraih tangan kanan Senja, membiarkan jemari-jemari di tangan kokoh nya menenggelamkan jemari-jemari kecil Senja, telapak tangan tersebut secara perlahan saling bertaut, kemudian dengan gerakan lembut Cakra mencium punggung tangan Senja untuk beberapa waktu.


Warna henna masih tercetak jelas di kuku-kuku dan tangan mereka, keindahan ukiran dalam bentuk mahakarya terindah menghiasi seluruh permukaan kulit Senja, cukup berbeda ditangan Cakra, laki-laki tersebut hanya di hiasi di bagian kukunya dan sedikit dipermukaan kulit nya.

__ADS_1


Benar-benar ciri khas pengantin baru, yang sejak dulu hingga sekarang tidak pernah tergerus dan lekang oleh waktu, seolah-olah itu menjadi tradisi yang hampir tidak dihilangkan dalam tiap daerah di Indonesia tiap pasangan pengantin menggelar pernikahan mereka.


laki-laki tersebut sejenak membiarkan tangan senja berada di pipi nya, menikmati pemandangan didepan sana dengan penuh cinta.


Percayalah, jantung Senja terkadang tidak baik-baik saja, karena ini kali pertama diperlakukan oleh laki-laki seromantis itu, membuat Senja terkadang gugup dan memerah, dia acapkali tidak bisa mengendalikan detak jantung nya yang terkadang seolah-olah bersiap melompat keluar karena tindakan Cakra.


Laki-laki tersebut benar-benar tahu bagaimana memperlakukan Perempuan nya dengan cara istimewa, membuat Senja terkadang merasa begitu dicintai dengan cara Cakra.


Percayalah, jika orang-orang melihat mereka, akan ada ke irian mendalam yang menghantam mereka, kedua insan tersebut benar-benar pasangan sempurna yang menyilaukan mata, dua perpaduan sempurna yang diciptakan Allah SWT dalam balutan kisah pertemuan awal yang tidak pernah terduga.


Senja sejenak memejamkan bola matanya saat semilir angin menerpa wajah nya, Cakra mempererat pelukannya, merapatkan diri takut Senja merasa terlalu dingin dengan cuaca malam.


"Sudah memutuskan mau liburan kemana?"


"Bonus bulan madu"


Itu yang diucapkan papa nya kemarin.


Mendengar pertanyaan Cakra, Senja terlihat diam, dia berusaha untuk berpikir dengan berat.


"Aku belum..."


"Sayang aku tahu kamu sudah memiliki tempat tujuannya, aku bisa membaca dari gestur tubuh dan pandangan matamu"


Cakra langsung memotong ucapan Senja, dia membalikkan tubuh Senja secara perlahan, menaikkan wajah istrinya, dan membiarkan netra mereka saling bertemu.

__ADS_1


"Kamu tahu? Membangun kehidupan rumah tangga mungkin tidak selalu mulus nantinya. Ada kalanya kedua pasangan akan menghadapi berbagai macam rintangan, dari yang mudah hingga sulit, baik senang ataupun sedih. Dan pokok untuk mempertahankan rumah tangga, dibutuhkan komitmen dalam hubungan cinta kedua pasangan"


Cakra bicara sambil menyentuh lembut surai Senja yang menutupi mata kirinya.


"Salah satu nya saling terbuka soal keinginan, melakukan diskusi dan komunikasi antar suami istri, bukan diam dan dipendam, namun tepat nya disampaikan, kamu bisa mengungkapkan perasaan kamu, keinginan kamu misalnya yang paling sederhana dalam konteks awal pernikahan kita soal keinginan bulan madu kemana, kita bisa saling berdiskusi dan memutuskan apakah itu akan menjadi tempat yang tepat untuk kita kunjungi"


Laki-laki tersebut bicara dengan tenang, menatap istrinya dalam penuh kesabaran, memberikan penjelasan soal keterbukaan, boleh menyampaikan sebuah keinginan, siapa tahu bisa menjadi bahan pertimbangan.


Senja jelas masih muda, belum berpengalaman membina biduk rumah tangga, usia labil yang belum paham kemana arah tujuan pernikahan, masih berpotensi dipengaruhi oleh orang luar jika salah dalam membawa arusnya, sedang kan Cakra jelas terlalu dewasa, ada banyak pengalaman yang menjadikan dia pembelajaran, membuat dia mendewasa dalam pemikiran, hati-hati untuk membawa Senja agar tidak timbul ketidakcocokan dalam hubungan mereka.


Mereka dua orang yang dipertemukan dalam satu ikatan janji suci, bukan untuk menuntut kesempurnaan namun saling menutupi kekurangan.


Tidak ada pernikahan yang akan bertahan karena pasangan yang menuntut pasangan harus sesuai keinginan, sejatinya pasangan yang menikah merupakan dua sosok anak manusia yang lahir dari tempat yang berbeda, dididik dengan cara yang berbeda, memiliki pola pikir yang berbeda, dipertemukan dalam takdir sama dan dituntut untuk saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya dalam pembedaan mereka.


Mereka tidak akan pernah bisa dipaksa untuk sesuai dengan keinginan pasangan mereka, karena sejatinya pernikahan yang baik dan sehat adalah ketika pasangan mampu saling menerima dan menutupi kekurangan dalam komunikasi persuasif juga kondusif.


Mendengar ucapan suaminya sejenak Senja diam untuk beberapa waktu, dan di beberapa detik kemudian perempuan tersebut mengembangkan senyuman nya, seolah-olah sadar apa yang dimaksud oleh Cakra.


"Aku hanya menyampaikan keinginan, Abang boleh setuju atau menolaknya"


Dia bicara pelan, menatap netra indah yang belakangan membuat Senja merasa di cinta.


Cakra menganggukkan kepalanya, dia melebarkan senyumannya sembari menunggu jawaban istrinya.


"Katakanlah"

__ADS_1


__ADS_2