
wanita tersebut meyakinkan diri jika dia bisa menghancurkan Vervita dan keluarganya, dengan api kemarahan dan juga senyuman piciknya dia menghubungi seseorang di ujung sana untuk waktu yang cukup lama.
Dia menunggu jawaban dari seberang sana, dimana bisa didengar suara dari handphonenya terus menunggu jawaban di seberang sana, beberapa kali panggilannya terjadi sehingga pada akhirnya dia mendengar jawaban dari ujung sana.
"Halo?"
"Kau ada dimana?"
Mell terlihat bicara untuk beberapa waktu, memerintahkan seseorang untuk melakukan apa yang harus dia lakukan pada keluarga Vervita, membuat perhitungan besar untuk menundukkan keluarga gadis sialan tersebut.
"laksanakan perintahnya saat ini juga agar dia tahu dia sedang berhadapan dengan siapa, dan singkirkan Anggara dari daftar nama keluarga Dewantara, aku ingin dia ikut hancur bersama Vervita dan keluarga nya sekarang juga"
Ucap wanita tersebut cepat.
Ini adalah kemarahan terburuk nya, dia tidak peduli apa yang terjadi pada Gunawan kali ini, dia tidak akan memberikan kesempatan lagi pada laki-laki tersebut kali ini.
Berulangkali perselingkuhan nya terjadi, dia tidak pernah berhasil mendapatkan nya, tapi untuk kali ini dia jelas melihat nya dengan mata kepalanya sendiri, dan dia akan menyingkirkan Anggara dari Dewantara tanpa berpikir dua tiga kali, dia terlalu malu kali ini, tidak memberikan toleransi untuk Anggara yang menyakiti dirinya secara terang-terangan.
"Aku tidak peduli bagaimana cara nya, kau paling bisa mengatur nya"
Ucap Mell lagi kemudian.
__ADS_1
"Tapi nyonya apakah anda..."
Suara diseberang sana belum selesai melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba Mell langsung mematikan panggilannya.
Dia tidak peduli apa yang ingin dikatakan bawahan nya di seberang sana.
Sejenak bola mata Mell bertemu dengan bola mata dokter yang baru saja keluar dari ruang IGD tersebut, dia berdiri dengan cepat dan mendekati sosok itu.
"Bagaimana dok?"
Dia bertanya tidak sabaran.
Dokter tersebut bicara dengan cepat.
Bisa dia lihat para perawat mulai memindahkan putri nya dari ruangan tersebut menuju ke ruangan yang berbeda, Mell mengikuti langkah, mengejar keberadaan putri nya dengan cepat.
hingga pada akhirnya putrinya dipindahkan, Mell duduk tepat di samping tubuh putrinya yang masih terlelap di atas kasur rumah sakit mendominasi berwarna putih, wanita itu menatap putrinya untuk beberapa waktu sembari mencoba untuk menetralisir kemarahannya yang masih tersisa.
dia begitu marah dan merasa bersalah pada Riana, marah kepada Anggara karena melakukan perselingkuhan dengan teman baik putrinya sendiri, dan merasa begitu bersalah saat dia datang melabrak Anggara dan Vervita, dia sama sekali tidak menyadari jika putrinya ada di antara mereka, melihat segala sesuatu pada kejadian saat itu, bisa dibayangkan bagaimana perasaan Riana, putrinya pasti hancur dan kehilangan kata-katanya, putrinya pasti begitu membencinya dan juga Anggara, putrinya bahkan bisa jadi membenci teman baiknya sendiri karena telah menikamnya dari belakang.
wanita tersebut memejamkan sejenak bola matanya, mencoba untuk menahan amarahnya beberapa waktu, gue yakin dia telah berhasil untuk menghancurkan sel kita dan keluarganya juga mendepak Anggara dari Dewantara.
__ADS_1
kali ini dia mencoba untuk mematikan cintanya atas kemarahan luar biasa karena penghianatan Anggara dan juga rasa sakitnya, dia tidak lagi peduli bagaimana perasaan cintanya selama ini pada laki-laki tersebut.
dan dia tidak merasa jika ini adalah karma, manusia sepertinya tidak akan mendapatkan karma dan dia tahu dia tidak akan pernah mempercayai Tuhan sedikitpun, karena baginya usahanya adalah campur tangannya sendiri tanpa ada campur tangan Tuhan hingga dia sampai pada hari ini.
hingga pada akhirnya wanita tersebut membuka bola matanya karena sebuah panggilan yang datang dari balik handphone yang ada di atas meja di dalam tas tangannya, Mell buru-buru membuka bola matanya kemudian dia langsung meraih tasnya dan mengambil handphonenya di dalam sana.
sejenak wanita itu mengerutkan keningnya, menatap nama yang muncul di layar handphonenya, jalan semangka panggilan tersebut dengan cepat.
"Ada apa?"
wanita itu bertanya, ekspresinya masih terlihat biasa-biasa saja namun di beberapa waktu kemudian seketika ekspresinya berubah dan wajahnya memucat pasi.
"Apa?"
bibir wanita tersebut bergetar.
"Kau...bilang apa?"
dia bertanya dengan bola mata membulat dengan sempurna, seketika dia menggenggam erat telapak tangannya dan dia mengeram.
Anggara.... ba.jingan kau.
__ADS_1