
Hotel xxxxxxx
Bogor.
Senja mengulumkan senyumannya saat Cakra buru-buru turun, mencari payung di pusat resepsionis dan bergerak mendekati dirinya, membuka pintu mobil dan membawa masuk Senja kedalaman hotel dimana laki-laki tersebut membawa nya menginap malam ini.
Gadis tersebut menelisik sosok Cakra, laki-laki dewasa yang usia nya hampir 2x lipat dari usia nya, selisih 17 tahun benar-benar begitu jauh, tapi laki-laki tersebut tergolong cukup awet muda, tampan dan kharismatik, meskipun tua, jalan berdua tidak membuat Senja terlihat seperti simpanan Om Om.
Dia berdiri di samping Cakra, memerhatikan gerakan Cakra yang memberikan KTP dan surat nikah mereka di meja resepsionis, melakukan cek in dengan cepat kemudian meraih ID card hotel yang diberikan pada Cakra dari perempuan muda dihadapan mereka.
Dua perempuan tersebut terlihat berbisik sambil mengulum senyuman, menatap Cakra sedikit menggoda, sejenak Senja mengerutkan keningnya, dia menatap dua perempuan tersebut tidak suka.
Cemburukah? terlalu dini menyimpulkan.
Cakra sama sekali tidak mengeluarkan ekspresi nya pada dua perempuan tersebut, memilih beranjak kemudian menggenggam erat telapak tangan Senja, dia kemudian merangkul gadis tersebut sambil berkata.
"Dingin?"
Senja mengangguk kan Kepalanya.
"Aku minta selimut double, rasanya pasti dingin ditambah lelah yang menghantam, mau aku bantu pijatkan kembali nanti?"
__ADS_1
Laki-laki tersebut bicara, kemudian kembali bertanya.
"Abang tidak lelah kah? aku tidak melihat raut lelah sama sekali di sana"
Senja bertanya, melirik kearah wajah Cakra yang terlihat biasa saja, masih fresh padahal habis berjalan kesana-kemari seharian.
"Tidak juga, karena sudah terbiasa kesana-kemari saat ada proyek berjalan, Bahkan hilir mudik bawa mobil juga hampir tiap hari jika ada pekerjaan yang berjalan, sering juga PP Jakarta Bandung, Jakarta-lampung 1*24 jam atau 2*24 jam semua harus selesai tanpa mengambil waktu istirahat karena di kejar deadline"
Laki-laki tersebut bercerita cepat, membawa Senja masuk ke pintu elevator, mereka mengambil kamar di lantai atas.
Mendengar ucapan Cakra jelas saja membuat Senja terkejut, dia mengerutkan keningnya.
"Itu begitu memaksakan diri"
"Tidak memaksakan diri, tapi karena tanggung jawab besar yang di emban, mau tidak mau harus dijalankan"
Jawab Cakra cepat, menekan tombol elevator ke lantai mana mereka akan pergi.
"jadi pengusaha tidak seenak yang terlihat didepan kah? di novel-novel atau drama televisi mereka bilang keren, banyak uang dan tinggal main perintah sekertaris dan lain sebagainya?"
Senja tampak sedih, ekspresi wajah nya menampilkan satu perasaan yang bercampur aduk menjadi satu.
__ADS_1
"Novel dan drama tidak sepenuhnya bohong, tapi hanya 50%, 50% nya lagi tidak seenak yang mereka lihat, realita nya para pengusaha terus berkutat dengan waktu kerja yang tidak terbatas, kadang kesulitan tidur karena kejar deadline, belum lagi resiko untung rugi yang datang tiba-tiba, ditambah hutang piutang yang harus di selesaikan, kejar Setoran bulanan sudah pasti, semakin besar satu perusahaan, semakin besar tanggung jawab dan perputaran uang mereka, hutang jelas juga tidak sedikit karena tidak ada yang gratis di dunia ini, semakin besar gaya hidup, semakin besar pendapatan maka semakin besar pengeluaran"
Cakra mulai menjabarkan.
"Bahkan tiap tangga per sekian, mereka harus punya limit setoran yang harus di bayarkan, itu bukan rahasia umum lagi, pekerja biasa saja pasti punya urusan dengan bank bukan?, apalagi para pengusaha, beda nya mungkin mereka hanya bermain di angka nol 3, pengusaha jelas bermain dengan angka tak terhingga mungkin dari milyaran hingga ratusan milyar, Wajar, karena semakin besar satu usaha, semakin banyak tanggung jawab mereka, semakin banyak karyawan yang bekerja dan di gaji, semakin besar proyek berjalan maka semakin besar hutang yang dimiliki, itu jelas hal yang biasa, dan seorang pengusaha harus siap untung dan rugi, sekali nya untung mereka akan bersorak gembira, sekalinya rugi, bayangkan bagaimana rasanya? ada ratusan bahkan ribuan karyawan yang dipertaruhkan kehidupan nya dibalik kerugian mereka"
Senja terlihat diam, mencerna ucapan Cakra, baru tahu seberat itu menjadi seorang pengusaha.
Terkadang kehidupan novel dan televisi terlihat begitu indah, menceritakan percintaan pengusaha dan gadis beruntung yang dinikahkan mereka.
mereka keluar dari pintu elevator begitu pintu tersebut terbuka, melihat ekspresi wajah senja jelas saja membuat Cakra terkekeh kecil.
laki-laki itu menghentikan gerakan kakinya setelah keluar dari pintu elevator, menatap senja yang kini berdiri tepat dihadapannya sembari mendongakkan kepalanya, tubuh kecil itu terkadang membuat dia gemas.
"Jangan terlalu memikirkan nya, tugas seorang istri hanya di rumah, menerima nafkah lahir dan batin, aku tidak akan mengizinkan istri ku Sibuk ikut mengurus soal perusahaan"
Dia mengacak-acak rambut Senja, merasa geli dengan raut wajah khawatir Senja.
"Cukup membuat ku senang dirumah, itu bonus luar biasa untuk rasa lelah bekerja"
tambahnya lagi kemudian pada istrinya.
__ADS_1
Senja mengganggukan kepalanya dengan cepat, memahami apa yang diucapkan suaminya dan yakinkan diri akan menjadi istri yang baik untuk Cakra.