
"Bik?"
Nabila jelas terkejut karena melihat bibi pelayan menjatuhkan nampan yang ada di tangannya hingga membuat kehebohan di tengah rumah tersebut.
bayangkan bagaimana pecahan kaca berhamburan ke mana-mana di antara para tamu yang kini memenuhi ruangan tersebut.
Bibi pelayan langsung tersentak kaget dengan panggilan yang diberikan oleh Nabila, dengan tangan gemetaran dia langsung bergerak menduduki tubuhnya diantara dua kaki yang saling bertumpuk dan memungut pecahan beling tersebut.
jangan ditanya bagaimana perasaan wanita tua itu saat dia melihat sosok yang ada di hadapannya, dia pikir sudah berapa puluh tahun berlalu, dan dia seolah-olah baru saja melihat hantu.
Mak terlihat terdiam saat dia menyadari siapa yang ada di hadapannya, ekspresi wajah mak sulit untuk di artikan, Mak ingin membantu tapi mama Niar dengan cepat berkata.
"Tidak apa-apa, bibi bersihkan dulu, nanti koper nya bawa ke kamar atas, Ibu dan bapak bisa naik ke atas sama Nabila, April sama mama saja, sini"
Wanita tersebut bicara cepat, membawa April agar menjauh dari sana, sifat mama Niar agak berubah, kemarin mungkin tidak suka Senja, tapi kali ini setelah pembicaraan panjang dengan suaminya, pandangan nya pada Senja dan keluarga nya berubah.
April yang di ajak menurut, dia mendekati mama Niar dimana ada kak Senja nya.
"Bantu mertua kamu ke atas sama Nabila, besok baru nempel sama Senja"
Mama Niar menggoda Cakra, sejak pagi tidak lepas berada didekat menantu nya, yang di goda mengulum senyuman nya, dia menggeleng kan kepala sejenak.
Mak Hesty terlihat tidak mengeluarkan suaranya sama sekali, masih menatap punggung bibit pelayan yang tampak gemetaran memungut pecahan kaca yang berhamburan di sana kemudian dibantu oleh pelayan yang muda membawa sapu dan juga serokan sampah.
wanita itu terlihat menggenggam erat telapak tangannya, memilih membisu kemudian berjalan naik menuju ke lantai atas disaat Nabila membawa mereka.
Bapak terlihat berbisik dan bertanya.
"Mak baik-baik saja?"
laki-laki itu bertanya khawatir, menatap ekspresi wajah istrinya yang jelas terlihat tidak baik-baik saja.
alih-alih menjawab wanita itu hanya menganggukkan kepalanya.
"Mak kenal dengan dia?"
sekali lagi pak Anwar bertanya sembari berbisik.
__ADS_1
Mak Hesty tidak menjawab, memilih diam membisu tanpa mengeluarkan suaranya sama sekali, memilih untuk terus naik menuju ke lantai atas dan bergerak menuju ke salah satu kamar yang telah disediakan oleh semua orang.
"Ibu dan bapak bisa istirahat di sini, kalau ingin turun bebas turun kapanpun, tapi Nabila rasa ibu sama bapak mungkin lelah karena perjalanan jauh, sebaiknya boleh beristirahat sejenak kemudian nanti berbaur dengan keluarga lainnya, mereka pasti mau berkenalan sama ibu dan bapak"
Nabila berkata sembari melebarkan senyumannya, terus menyebut hangat kedua orang tersebut sejak tadi, tidak ada sedikitpun istilah meremehkan atau bahkan memandang sebelah mata kedua orang tua yang ada di hadapan mereka.
menganggukan kepalanya tanda mengerti diikuti bapak yang kini secara perlahan mencoba untuk duduk di sisi kasur karena rasa lelah yang menghantam.
setelah operasi dulu dia pikir tubuhnya tidak benar-benar fit seperti sebelumnya, dia gampang lelah bahkan untuk perjalanan jauh saja sudah membuat dia merasa seolah-olah habis lari meraton mengelilingi lapangan bola sebanyak puluhan kali.
dia pikir dia sudah tua bahkan sejak dulu tidak gagah sama sekali, sakit-sakitan sejak muda karena sakit yang diderita, cukup berbeda dengan emak yang tubuhnya jelas sangat sehat dan fit, masih sangat gagah dan terlihat jauh lebih mudah daripada dirinya.
kadang bapak berpikir mak tidak sepantasnya untuk dirinya, demi memenuhi janji almarhum istrinya emak menikah dengan dirinya dan terus setia berada di sampingnya hingga hari ini, merawatnya yang sakit-sakitan sejak dulu bahkan merawat anak-anak dengan sangat baik tanpa sekalipun mengeluh.
terkadang dia malu menjadi suami emak yang bahkan tidak pernah memberikan nafkah lahir dan batin sejak dulu hingga hari ini.
"Nabila dan Cakra turun dulu yah ibu, bapak"
Pamit Perempuan tersebut kemudian.
"Cakra sudah minta pelayan khusus yang melayani Mak dan bapak, jangan sungkan minta apapun pada bibi nanti"
Mak mengembangkan senyuman nya, dia mengangguk kan kepalanya, begitu kedua orang tersebut pergi mak menutup pintu secara perlahan.
Bapak menatap Mak yang berjalan mendekati nya, dia melihat sosok Mak untuk beberapa waktu hingga wanita tersebut bergerak mendekati dirinya.
"Maafkan bapak"
Laki-laki tersebut berucap saat Mak sudah duduk tepat disampingnya"
Mendengar ucapan bapak, Mak terlihat mengerutkan keningnya.
"Bapak ngomong apa? tidak ada yang perlu dimaafkan di antara kita, bapak tidak punya salah sama Mak"
Wanita tersebut berkata cepat, mengembang kan senyuman nya sambil menggelengkan kepalanya, Mak kemudian membenahi bantal bapak, menunggu laki-laki tersebut naik ke atas ranjang.
"Bapak hanya merasa berdosa dengan Mak"
__ADS_1
Lagi laki-laki tersebut bicara, menatap Mak dengan bola mata berkaca-kaca.
"Jangan ngomong begitu, fokus pada kesehatan bapak, lusa acara pernikahan Senja, mari berpikir yang bahagia-bahagia saja"
Ucap Mak lagi sambil membiarkan bapak berbaring di atas kasur.
Mereka pada akhirnya memilih diam, sibuk berkelana pada pemikiran masing-masing.
Bapak secara perlahan memejamkan bola matanya, sedangkan Mak tampak duduk di pinggiran ranjang, memilih diam untuk beberapa waktu hingga akhirnya suara pintu kamar diketuk oleh seseorang.
Mak beranjak, melangkah maju kearah depan, membuka pintu depan secara perlahan.
Wanita paruh baya lebih terlihat membawa koper milik mereka, wanita tadi yang menjatuhkan nampan di lantai bawah, menatap Mak dengan bola mata berkaca-kaca sembari meletakkan koper dengan tangan bergetar.
Mak buru-buru menutup pintu, meletakkan jari telunjuk nya di depan bibirnya, seolah-olah berkata diam saja, ada suaminya yang baru saja terlelap di ujung sana.
"Non?"
Suara wanita tersebut terdengar lirih, dia meneteskan air matanya.
"Ini benar-benar anda?"
Sebaris tanya meluncur di balik bibir tua dan pucat tersebut, dengan gemetaran dia mencoba menyentuh pipi kiri Mak.
Mak menganggukkan pelan kepalanya.
"Ohhhh"
Dia tercekat, menutup mulutnya dengan kedua belah telapak tangan nya.
Puluhan tahun berlalu, setelah berita kematian datang, dia pikir tuan putri di keluarga Dirgantara benar-benar mati, siapa sangka Perempuan yang dia hormati itu masih hidup hingga hari ini.
"Mell menguasai seluruh kekayaan Dewantara"
Ucap wanita tersebut kemudian dengan bola mata berkaca-kaca.
"Dia bahkan menikahi tuan Anggara dengan jutaan sandiwara"
__ADS_1
Mak diam, menatap wanita dihadapan nya tanpa bicara.