
Kediaman utama Keluarga Gunawan
H-2 Sebelum acara ngunduh mantu.
Mak dan bapak baru saja tiba bersama April dengan mobil jemputan dari bandara milik keluarga Gunawan, begitu turun dari mobil bayangkan bagaimana bapak melihat rumah mewah yang ada dihadapan nya, seketika rasa malu dan minder menyeruak didalam hati nya, rumah dihadapan nya, rumah besan nya seperti istana berbalutkan lapisan emas permata.
Menjulang paling tinggi di antara bangunan yang lainnya, bisa dipastikan di antara orang di komplek sana, keluarga Gunawan yang paling berpengaruh dan paling berkuasa disana.
Apalagi barisan mobil yang memenuhi bagasi yang bahkan ada Lamborghini juga Ferrari didalamnya membuat laki-laki tua tersebut menelan air ludahnya, seketika keraguan menghantam dirinya tapi Mak dengan cepat menggenggam erat telapak tangan bapak.
"Kita tidak sepadan dengan mereka, bapak takut Bu"
Kekhawatiran menghantam laki-laki tersebut, seketika dia memejamkan bola matanya sembari menggelengkan kepalanya, ayah mana yang tidak cemas melihat keluarga dari suami putri nya yang kekayaannya melebihi kapasitas pemikiran nya, Keluarga Gunawan terlihat sederhana saat datang bersilaturahim ke rumah mereka, tidak menggunakan pakaian lebai dan mewah, tapi menampilkan kesederhanaan dengan pakaian yang mungkin harga nya selangit tapi tertutupi oleh kesan sederhana namun berkelas,cukup membuat dia tertipu dan tidak menyangka keluarga itu sekaya ini.
Seketika laki-laki tua itu khawatir, pemikiran demi pemikiran menghantam dirinya, takut jika Senja diperlakukan dengan tidak layak, mungkin di jadikan...
Ohhh apa yang kamu pikirkan Anwar?!.
Laki-laki tersebut membatin.
Dia sudah berburuk sangka, takut Senja dijadikan sebagai istri yang hanya di perintahkan kesana-kemari, diperlakukan buruk oleh keluarga kaya raya, diperlakukan tak ubahnya seperti peliharaan saja.
__ADS_1
Astaghfirullahaladzim.
Dia memejamkan bola matanya.
"Jangan berburuk sangka, sebaik-baiknya pengatur itu Allah SWT, dan kita tidak pernah tahu rahasia Allah pak"
Nyonya Hesty bicara sambil mengembangkan senyuman nya, dia menyakinkan diri suaminya jika semua tidak seperti yang Anwar pikirkan.
Mereka melangkah masuk ke dalam bangunan bak istana tersebut, yang ukurannya jelas tidak menentu saking besarnya bangunan tersebut, bisa dikatakan ukuran rumah mereka mungkin tidak lebih luas daripada bagasi mobil rumah tersebut.
keramaian jelas terlihat di setiap sisi sepertinya keluarga besar daripada Gunawan telah berkumpul entah sejak kapan sambutan indah terasa di sana penuh dengan keramahtamahan tanpa ada pandangan yang merendahkan sedikit.
di ujung sana di dalam rumah dengan desain megah tersebut Senja terlihat berlarian dari arah tangga saat menyadari kehadiran emak dan bapaknya, jangan ditanya bagaimana perasaan gadis itu, dia langsung memeluk kedua orang tuanya dengan penuh kebahagiaan juga memeluk April yang sejak tadi tampak ternganga menatap rumah mewah yang didatangi oleh mereka.
gadis remaja itu bergidik ngeri karena kekayaan suami kakak nya tersebut.
"Subhanallah, gila"
Dia membatin dan terus berucap sejak tadi.
Membiarkan kak Senja nya memeluk dirinya yang dalam keterkejutan luar biasa.
__ADS_1
Tuan Gunawan dan nyonya Niar terlihat mengembang kan senyuman mereka, menyambut besan yang datang, Nabila jelas antusias, dia begitu ramah, mencari bibi pelayan agar mengangkat koper milik keluarga Senja dan membawanya ke kamar yang telah disediakan.
Malam ini mereka tidur disana, besok papa Gunawan berkata, akan meletakkan mereka di villa, sebenarnya Nabila agak keberatan, tapi papa nya berkata.
"semua keluarga besar akan datang kesana untuk merayakan kebahagiaan, disini hanya untuk tamu undangan yang datang"
Meskipun agak bingung Nabila menurut, karena posisi villa memang jauh lebih strategis dan dekat dengan keluarga besar lainnya, tidak macet dan yang jelas jauh lebih tenang.
Mak Hesty terlihat mengembang kan senyuman nya ketika Nabila meminta seorang pelayan wanita dari ujung dapur bergerak tergopoh-gopoh untuk mengambil tas mereka, sembari membawa nampan berisi teh dan cemilan pelayanan tersebut bergerak cepat menghampiri, berniat meletakkan nampan dan meraih koper milik Mak, tapi belum pula wanita itu meletakkan nampannya ketika bola matanya saling beradu dengan bola mata Mak, seketika wanita tersebut terkejut dan langsung terbelalak kaget.
"Hahhh?"
Pranggggg.
Nampan itu seketika terlepas seiring dengan gumaman tak jelas yang diucapkan oleh sang Bibi pelayan.
"Nona muda?"
Bibirnya bergetar, dia menatap Mak persis seperti melihat hantu.
bayangkan bagaimana semua bola mata memandang ketika nampan terlepas dan seluruh isinya pecah berhamburan di atas lantai keramik bangunan megah tersebut.
__ADS_1