
Restoran xxxxxxx
Pusat kota.
Vervita terlihat duduk di meja sebuah restoran yang ada di pusat kota, terlihat diam sambil meremas telapak tangan nya secara perlahan, dia memejamkan bola matanya sejenak, mencoba untuk menikmati semilir angin malam yang menerpa wajahnya.
Duduk di bagian teras atas restoran, menikmati jutaan bintang yang berhamburan di atas langit.
Ini adalah kencan yang di atur papa nya, pertemuan dengan seorang laki-laki yang merupakan putra dari teman baiknya.
"Sudah 1 tahun berlalu, sampai kapan ingin terus begini?"
Papa nya bertanya sambil menatap dalam wajah Vervita beberapa hari yang lalu.
"Temui anak teman papa, dijamin kamu tidak bakal menyesal"
Lagi laki-laki paruh baya lebih tersebut bicara.
"Aku masih belum mau bertemu dengan siapapun pa"
"Dengarkan papa, temui dia besok, sekali ini saja, saat kamu merasa cocok lanjut kan, bukan papa yang minta, tapi teman papa sendiri, anak nya melihat kamu dari foto rekomendasi papa nya, bahkan pernah melihat kamu langsung tanpa sengaja, baru kembali dari luar negeri, hanya saja harus beradaptasi sebab dia banyak lupa soal Indonesia dan orang-orang di sekitar nya"
"Tapi pa..."
Vervita jelas keberatan.
"Percayalah, kamu tidak akan menyesali nya"
__ADS_1
Dan Vervita hanya bisa diam, tidak berani membantah Ucapan papa nya.
"Aku akan menemui nya, tapi jangan paksa Vervita untuk menyukai nya pa, jika Vervita merasa dia...."
"Kamu pasti menyukai nya, papa berani jamin"
Laki-laki tersebut menyela ucapan nya.
Dan bagi Vervita, papa nya terus menekan nya untuk melupakan segala sesuatu soal masa lalu termasuk Angga alias Rudi.
Bagaimana dia bisa melupakan semuanya? kenangan yang dia dan Angga lewati terlalu manis bercampur sakit, malam itu terakhir dia melihat Rudi, masa kritis nya sangat rumit, pada akhirnya keadaan semakin memburuk, meskipun garis layar monitor sempat kembali normal pada akhirnya para dokter mulai menyerah, Laki-laki itu dibawa ke luar negeri untuk masa kritis nya, dia tidak sadar untuk waktu yang sangat lama, koma dan tidak memiliki kemajuan sama sekali.
keluarga Anggara menyerah pada bulan ke 6, dimana Mak berkata.
"Aku ikhlas, jika memang waktu nya mencabut semua alat bantu yang menunjang kehidupan nya"
Sejak awal dia tahu, dia memang bukan tercipta untuk Rudi begitu juga sebaliknya.
Dia yang mencintai laki-laki tersebut sejak awal dan Rudi sana sekali tidak pernah mencintai nya, dibalik laki-laki tersebut mencintai masa lalu nya dan Vervita pikir selama ini dia terlalu banyak berharap.
Dia menyimpan sejuta harapan dan terus berkata bangunlah untuk Rudi, karena laki-laki tersebut tidak mencintai nya karena itu wajar Rudi tidak memiliki keinginan untuk bangun dari tidur panjangnya.
Namun meskipun begitu dia mungkin terlalu naif, masih juga tidak bisa melupakan laki-laki tersebut selama 1 tahun lebih ini.
"Minuman anda nona"
Suara seorang pelayan mengejutkan pemikiran Vervita, membuat gadis tersebut menoleh kearah asal suara, seorang laki-laki muda tersenyum pada nya, memberikan jus buah pesanan nya.
__ADS_1
"Terimakasih"
Vervita melebarkan senyuman nya untuk beberapa waktu.
Membiarkan laki-laki tersebut bergerak menjauhi nya dan secara perlahan dia menikmati minuman nya sambil menunggu laki-laki yang di rekomendasikan papa nya.
Vervita melirik kearah jam tangan nya, dia pikir laki-laki tersebut datang terlambat, kesan pertama di pertemuan awal sungguh tidak menyenangkan.
Gadis tersebut menghela nafas nya.
Tiba-tiba dari arah belakang nya muncul seseorang yang mengejutkan Vervita, dia langsung berdiri dihadapan Vervita kemudian langsung berkata dengan cepat.
"Maaf aku terlambat"
Suara seorang laki-laki terdengar memburu Indra pendengaran Vervita, awalnya dia ingin berkata jika keterlambatan di awal pertemuan begitu buruk, tapi didetik berikut nya mulut gadis tersebut seketika tertutup, dia membulatkan bola matanya untuk beberapa waktu, Vervita tercekat.
"Jalanan kota cukup macet, aku benar-benar harus berjuang untuk keluar dari kemacetan, agak bingung mencari jalan tikus, maklum ada banyak hal yang aku lupa karena alasan tertentu"
Ucap laki-laki dihadapan Vervita lagi kemudian.
Gadis tersebut masih membeku, kali ini bola mata nya terlihat berkaca-kaca, dia seolah-olah kehilangan kata-kata nya.
"Kau..."
"Rudi Anggara, kamu bisa memanggil ku Angga, ini pertemuan pertama, maaf jika tidak begitu berkesan di mata mu karena keterlambatan ku"
Dan Rudi bicara sambil mengembang kan senyuman nya, dia menyentuh tengkuknya tidak enak, merasa malu karena terlambat datang di balik jadwal pekerjaan nya yang padat dan usaha nya menembus macet jalanan ibu kota yang tidak dia pahami.
__ADS_1