Senja Di Atas Cakrawala

Senja Di Atas Cakrawala
Gelisah


__ADS_3

Senja masih diam, membiarkan Cakra memijat kaki nya, dia meraih sebuah bantal, meletakkan di atas pahanya, Membiarkan menutupi wajahnya untuk beberapa waktu.


Meskipun Cakra bilang sama suami sendiri kenapa malu, yah dia tetap malu, memilih tidak berani melanjutkan kata-katanya, menenggelamkan dirinya dalam pijatan manis yang diberikan Cakra.


Awalnya geli-geli gimana, lama-lama jadi uenak dan nyaman, bolehkah dia memuji? Cakra memiliki tangan handal dalam memijat rupanya, dia baru tahu itu.


Dari satu kaki menuju ke kaki lainnya, laki-lakinya tersebut memijat seluruh betis bahkan hingga ke jari-jari kaki Senja, membuat gadis tersebut nyaman dengan keadaan, menyakinkan diri meskipun tidak 💯% meredakan lelah, tapi cukup bisa mengurangi pegal yang tersisa.


"Hari ini kita akan ke Bogor dan ke Bekasi"


Cakra kembali membuka suara, memberikan rute perjalanan yang akan mereka tempuh nanti.


Mendengar ucapan Cakra, Senja menoleh.


"He em"


dia menganggukan kepalanya, menerima keputusan Cakra.


"Akan ada banyak anak-anak ketika berkunjung ke sana"


mendengar kata anak-anak menbuat jantung dan hati Senja berdesir, dia belum melakukan kewajiban nya, gadis tersebut tiba-tiba merasa bersalah.


"Mereka sedikit hiperaktif, mungkin beberapa anak akan membuat kamu kerepotan, tapi percayalah mereka begitu manis dan penurut jika sudah mengenal kamu apa lagi jika mereka sudah jatuh cinta sama kamu"


Lanjut Cakra, dia mengenang para anak-anak dari sepupu nya, sangat aktif, begitu lincah, terlalu hiperaktif, tapi sekali nya suka dengan seseorang mereka akan ngelendot pada orang tersebut, seperti orang yang jatuh cinta, Begitu menyukai nya dan berebut ingin disayang oleh nya.


Terlalu gemas dan manis, itu yang membuat mama nya gelisah soal Cakra, anak-anak para sepupu membuat iri mama nya.


"Berikan aku seorang cucu."


"Sabar lagi?"


"Kapan?"

__ADS_1


"Pokok nya kamu harus menikah dan berikan mama cucu"


"Mereka lucu-lucu bukan? coba lihat begitu imut dan manis"


"Pokoknya mama ingin cucu"


Barisan demi barisan kalimat tersebut terus di tekankan oleh mama Niar, kalau ingat lucu juga dan Wajar saja.


Senja mengulum senyumannya, dia hanya kembali menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan suaranya sama sekali.


"Katakan pada ku, apakah ada tempat yang ingin kamu kunjungi? kita bisa mampir sejenak jika mau"


Lagi laki-lakinya tersebut mengeluarkan suaranya.


Mendengar pertanyaan Cakra, Senja sejenak berpikir, dia menggelengkan kepalanya.


"Seperti nya tidak ada"


"Apakah enak?"


Cakra masih memijat kaki Senja, bertanya sambil melirik kearah Senja, gadis dilirik hanya mengulum senyuman nya, dia kemudian berkata.


"Mau jujur atau bohong?"


Senja bertanya usil, sedikit menggoda, mencoba untuk membuat Cakra mengeluarkan tanya.


"Ada yang begitu?"


Laki-laki tersebut menaikkan ujung alisnya.


"Tentu saja"


"Bohong saja, mungkin terdengar lebih enak"

__ADS_1


Laki-laki tersebut memicingkan sebelah matanya.


Senja terkekeh, dia melepaskan bantal nya.


"Seperti bibik urut di tempat ku"


Senja bicara, membandingkan pijatan Cakra dan bibik tukang urut ditempat nya.


"Hahahaha bibik tukang urut, aku punya profesi dadakan"


Dia tertawa lepas mendengar ucapan istrinya.


"Itu pujian"


Senja memunyungkan bibirnya.


"Ahhh aku baru tahu ada pujian seperti itu"


"Benar pujian, rasanya enak, jadi tidak begitu pegal lagi"


Senja menggerak-gerakkan kaki nya, merasa sedikit jauh lebih nyaman, memang masih pegal, tapi lumanyan mereda.


"Tambah bonus boleh? pijat punggung ku juga boleh?"


Dia buru-buru membalikkan tubuhnya, terlalu refleks, polos, nyaris memangkas jarak, membiarkan punggung nya tepat berada di hadapannm Cakra, menbuat laki-lakinya tersebut sejenak mengeluarkan pipi merah nya.


Bagaikan gerakan slow motion, senja berkata sambil menepuk-nepuk punggung dan bahu nya.


"Disini juga pegal, Abang bisa pijat disini, kan lumanyan gratis"


Dia tertawa renyak, tanpa sadar membuat Cakra serba salah, laki-laki tersebut secara perlahan menyentuh lembut kedua bahu Senja dan percayalah jantung nya tiba-tiba berdetak kencang dimana sepertinya dia sedikit kehilangan cara bernafas yang baik saat tangan kokohnya menyentuh lembut bahu indah milik istrinya, dimana pakaian tidur dengan motif bunga-bunga tersebut menampilkan kulit bahu seputih susu yang menyembul indah di lintasi tali unik sebesar jari telunjuk yang mendominasi berwarna hitam dan melihat itu membuat Cakra berkali-kali menelan ludah.


Ini membuatnya gelisah.

__ADS_1


__ADS_2