
Mak berusaha untuk mundur, dia bingung, rasa panik menerjang, sejuta kesedihan menghantam, dia gemetaran, bola mata Mak berkaca-kaca saat dia menyadari siapa yang ada di hadapannya tersebut.
Pernah merasakan perasaan yang sama? memimpikan orang yang sama selama berpuluh-puluh tahun, terkadang merindukannya, dalam sholat tidak sengaja menyebut nama nya dalam doa, bahkan sesekali tiba-tiba berpikir bisakah kami bertemu ya Allah SWT?.
ada harapan yang tersirat di dalam hati, ingin bertemu dimana terpikir kan siapa tahu suatu saat nanti akan datang masa itu, dalam kondisi dan situasi yang berbeda, meskipun tidak tahu apakah waktu nya tepat atau tidak.
Dalam pikiran berkata, jika dia salah ingin aku lampiaskan kemarahan pada dirinya, jika dia benar ingin sekali aku berkata maaf.
Tapi begitu diberikan kesempatan sekali lagi, jangan kan lah untuk melakukan semua itu, bicara saja kita tidak mampu.
Pertemuan itu terkadang tidak terduga, bisa dimanapun yang Allah SWT inginkan, bahkan mungkin diantara keadaan yang baik, atau bahkan di kala dalam kondisi yang buruk.
Mak seketika menyentuh dahi nya, dia mencoba berbalik, tidak berani menatap wajah laki-laki dihadapan nya, meskipun terpatri dia ingin bertemu lagi, tapi nyata nya dia tidak memiliki kemampuan menatap wajah laki-laki tersebut lebih lama lagi.
Bahkan keinginan untuk ke toilet tiba-tiba menghilang, berganti ingin segera pergi dan pulang dari sana.
Jakarta seharusnya tidak menjadi tempat berkunjung nya, tapi meskipun begitu dia masih berpikir, Jakarta jelas saja besar,mana mungkin dia bertemu laki-laki tersebut disini.
__ADS_1
Mak mencoba untuk melangkahkan kakinya, berbalik dan mundur teratur, dia ingin lari saat ini juga, tapi seketika sebuah tangan meraih tangan nya, mengejutkan Mak yang pemikiran nya pecah entah kemana.
Seketika bola mata Mak membulat, dia menatap siapa yang menggenggam erat telapak tangan nya.
"Pak"
Suara Mak tercekat.
Itu Anwar, suami sambung nya, bapak Senja.
"Jangan melarikan diri lagi, bicaralah dengan Anggara, dia sudah terlalu lama menunggu"
"Bagaimana bisa?"
Yah Mak pikir bagaimana bisa bapak mengenal Anggara, laki-laki yang pernah mengisi kehidupan nya, laki-laki yang pernah menjadi suaminya.
******
__ADS_1
Anggara terlihat mematung, menatap Mak Yang memundurkan langkahnya saat melihat kehadiran nya, untuk sampai pada titik ini dan masa ini butuh perjuangan berat.
bola mata laki-laki tersebut terlihat berkaca-kaca, ingin lagi dia berkata betapa dia merindukan Mak dalam segala situasi.
Dia bertahan demi Dewantara, merebut nya kembali dari tangan Mell tidak mudah, bukan untuk dirinya, Dewantara bagi nya untuk anak-anak nya dan itu harus kembali pada Hesty yang memang pemilik sah nya.
Dia ingin sekali memeluk Hesty, perempuan pertama yang membuat dia tergila-gila dulu, perempuan pertama yang mengajarkan nya arti dicintai dan mencintai, Perempuan pertama dan terakhir yang selalu terselip didalam doa nya.
Entah berapa lama dia menahan kerinduan, saking lama nya tidak bisa dia hitung jumlah waktu nya, dia ingin berkata betapa rindu itu menyiksa, menyiksa nya baik pagi, siang, sore bahkan malam.
Rindu serindu-rindu nya seperti lagu lawas, juga rindu, saking berat nya seperti rindu dalam film anak-anak jaman now yang Berkata rindu itu berat di film 'Dilan'.
*****
Catatan \=
Yang ga ada IG bisa ke FB Mak yah untuk konfirmasi give away kuota nya.
__ADS_1