
Hotel xxxxxxx
Kamar hotel.
"Apa aku tidur di kursi sofa saja?"
Hahahaha pertanyaan Senja sungguh terlalu, dia berdiri di ambang pintu yang tertutup, menatap Cakra yang bergerak menuju kearah kasur mendominasi berwarna putih dihadapan nya.
"Berhentilah bercanda, kemarilah dan duduk di sini"
Cakra bicara cepat, melambaikan tangan nya keatas Senja, menyimpan sisa detak jantung nya yang di anggap nya tidak normal, menepis perasaan aneh yang dia pikir hanya kebetulan.
Manusiawi, laki-laki yang berpuasa lama pasti berdebar-debar saat melihat sesuatu yang menggoda.
Yah cukup menggoda, kalau tidak menggoda sejak awal mana mau dia men'deal kan untuk menikahi Senja, ada banyak pilihan gadis diluaran sana, dia punya kwalifikasi tersendiri Kenapa memilih Senja kemarin untuk menjadi istrinya dan memasang perjanjian bersama.
Bukan asal cari gadis untuk di nikahkan, sebab setidaknya dia harus tahu bibit, bebet dan bobot nya dan Senja memiliki kriteria terbaik untuk melahirkan anak-anak nya dan meneruskan Gunawan group, Senja masuk kwalifikasi sempurna dari sekian banyak kandidat yang ada.
__ADS_1
Tapi untuk jatuh cinta 💯% dia jelas butuh waktu lama untuk melakukan nya, tidak gampang, sebab ada jelita yang menemani nya sejak dulu, perempuan itu tidak akan tergantikan, sudah ada satu bagian hatinya yang sudah penuh terisi, tidak mungkin ditempatkan oleh orang lain.
Dan Senja?!.
Cakra memilih menatap gadis di muka pintu masuk kamar hotel tersebut.
1-2 tahun.
Tiba-tiba rasanya tidak tega untuk melakukan hal kejam seperti itu untuk gadis muda berusia belum 20 tahun itu, kemarin otak nya ngelag dan tidak dalam keadaan normal, saat ini tidak begitu menjamin masih normal 💯% memang tapi setidaknya ada nurani yang bermain didalam dirinya.
Menikahi nya sampai melahirkan anak-anak nya saja.
Perempuan berstatus janda jelas akan menyulitkan Senja untuk berjalan kedepannya, sesungguhnya dialah yang paling banyak di untungkan kedepannya, bukan Senja.
Senja bergerak mendekati Cakra, membuat laki-laki tersebut sejenak menatap wajah Senja yang terlihat bingung sejak tadi, dia tahu gadis tersebut gelisah.
Mungkin jika tidak dalam keadaan terdesak, gadis manapun mana mau menggadaikan masa depan nya menikah dengan laki-laki duda yang bukan cinta nya, tidak munafik karena uang gadis seusia Senja mau melakukan nya, tapi gadis tersebut punya alasan paling logis menerima semuanya.
Di dunia ini tidak ada yang gratis, seperti kata Senja, satu hari kentut saja mungkin dilarang oleh pemerintah dan di wajibkan untuk bayar, siapa tahu kedepan nya bukan?!.
__ADS_1
"Naiklah keatas kasur"
Pada akhirnya Cakra bicara, membiarkan Senja semakin merapat kan jarak dan menunggu gadis tersebut duduk keatas kasur mendominasi berwarna putih tersebut.
"Aku tidur di sofa boleh?"
Senja kembali mengulangi pertanyaannya yang tadi saat berhadapan dengan Cakra.
Laki-laki tersebut sejenak diam, menelisik wajah Senja untuk beberapa waktu, dia menghela pelan nafasnya.
"Tidurlah di sini, mungkin kita bisa bercerita tentang beberapa hal, hingga kantuk kita datang dan memilih terlelap"
Cakra cicara kembali, memilih menduduki pantat nya ke tepian kasur, Senja menurut sambil meremas ujung pakaiannya.
"Jangan berpikiran sejauh itu, jika kamu belum siap, aku tidak akan memaksa"
Ucap Cakra tiba-tiba.
"Kamu hanya perlu amunisi banyak untuk menjawab pertanyaan Mama nantinya, karena mama pasti akan terus membahas soal anak-anak setiap kali berada dalam pertemuan keluarga, harus tahan telinga hingga kamu siap dan kita diberikan rejeki memiliki nya"
__ADS_1
Mendengar ucapan Cakra, Senja sejenak menatap dalam bola mata laki-laki tersebut.