Senja Di Atas Cakrawala

Senja Di Atas Cakrawala
Panggilan yang membuat nya candu


__ADS_3

Gallery xxxxxxx.


Pusat kota.


Senja terlihat berdebar-debar ketika 2 Perempuan terlihat sibuk membantu dia menggunakan pakaian pengantin di tubuhnya, dengan perasaan malu-malu gadis tersebut mencoba menutup tubuh indahnya saat dua perempuan muda tersebut secara perlahan mulai memakaikan pakaian yang berat nya luar biasa dengan keindahan luar biasa pula di tubuhnya.


"Tidak apa-apa, kita sesama perempuan"


Satu perempuan seolah-olah tahu rasa malu dan risih yang di berikan Senja, seperti nya gadis tersebut memang tidak pernah menggunakan pakaian terbuka, tidak juga pernah memperlihatkan lekuk tubuhnya pada orang lain.


Pakaian yang digunakan Senja jauh sangat sopan untuk ukuran gadis kota pikir mereka.


Mendengar ucapan perempuan di sisi kanan nya, Senja terlihat malu-malu.


Cukup lama mereka berkutat di ruang ganti, dimana Cakra menunggu mereka di luar sana, duduk di atas kursi sofa sembari membaca salah satu dari sekian banyak tumpukan majalah.


laki-laki tersebut memutuskan untuk pergi ke galleri pakaian pengantin lebih dulu baru bertolak ke Bogor dan Bekasi.


Hari ini mungkin akan pulang larut malam mengingat perjalanan panjang mereka yang jelas tidak akan memakan waktu singkat.


Dia masih sibuk berkutat dengan majalah bisnis, menelisik berita dari para pemain utama bisnis kelas berat dan dunia, bola mata datar nya menangkap satu lembar kertas berita di mana di sana terpampang salah satu orang yang tidak asing untuk nya.


Pencarian bertahun-tahun anak kandung pengusaha ternama Anggara yang belum membuahkan hasil.


Cakra mengerutkan keningnya


"Lubuklinggau?!"


Dia semakin mengerutkan keningnya.


Ditengah pemikiran yang menghantam nya, tiba-tiba terdengar suara bagian tirai dibuka dihadapan nya, Cakra seketika melepaskan bola matanya dari bacaan nya, memilih menatap kearah depan.


__ADS_1


...(Hanya visual)...


Sejenak Cakra berdebar-debar, menatap satu sosok gadis yang rambut nya di sanggul dengan indah, masih menampilkan punggung seputih susu yang berbalik secara perlahan kearah nya mengikuti arahan dua perempuan di sisi kiri dan kanan Senja.


Cakra beranjak dari posisi duduknya, bergerak melangkah mendekati Senja, bola matanya enggan terlepas menatap sosok gadis cantik yang telah sah menjadi istri nya, salah satu titipan Allah SWT yang merupakan bagian dari tulang rusuk nya.


Senja Telihan gelisah, takut dan gelisah jika gaunnya tidak sesuai selera Cakra.


"Apakah ini buruk?"


Dia bertanya pelan, menatap wajah Cakra yang kini berdiri tepat dihadapan nya, menelisik bola mata suaminya sembari menunggu jawaban Cakra.


Dua pelayan tadi menjauh, memberikan waktu kepada pasangan tersebut berdiskusi dan bicara.


"Suami ku ..aku takut ini..."


"Cantik"


Cakra memotong ucapan Senja, memperhatikan gaun pengantin yang digunakan istri nya, seperti Dejavu, dia pernah ada disini sebelum nya, yah bersama Jelita, dalam suasana yang sama, tapi dalam rasa yang berbeda.


"Apakah ini tidak terlalu mahal?"


Senja kembali bertanya, baru ingat berapa harga gaun nya, bisa untuk membeli 1 rumah sederhana di tempat asal nya.


Ratusan juta hanya untuk sebuah gaun yang dipakai untuk satu malam, membuat dia meremang dibuat nya, itu membuang-buang uang, dia tidak paham bagaimana cara orang kaya mencari uang dan membuang uang mereka.


Seulas senyuman mengambang dari balik bibir Cakra, dia tiba-tiba merapatkan tubuhnya, menarik pinggang Senja hingga membuat gadis tersebut terkejut dibuatnya, Senja secara refleks membulatkan bola matanya sembari tangannya langsung menyentuh dada Cakra saking terkejutnya.


Laki-laki tersebut memeluk erat pinggang istri nya, membuat menyatu diri mereka hingga membuat wajah Senja memerah.


"Abang..."


Dia gugup.

__ADS_1


"Suami ku, aku suka mendengar kata-kata itu jika tidak dihadapan orang-orang, itu terdengar manis"


Ucap laki-laki tersebut sedikit menggoda.


Senja mendongakkan kepalanya sambil menatap dalam bola mata Cakra.


"Seperti sebuah candu?"


Goda Senja memberanikan dirinya, memangkas jarak agar semakin dekat diantara mereka.


"Hmmm terkadang panggilan sayang terasa seperti sebuah nikotin, memacu jantung terasa lebih kencang atas panggilan yang disuka untuk sepasang suami istri"


Ucap Cakra cepat.


"Dan ada keunikan tersendiri yang membuat panggilan tersebut terasa istimewa di telinga, aku menyukai nya karena lain dari yang lain"


Lanjut nya lagi.


mendengar jawaban laki-laki tersebut seketika membuat senja mengembangkan senyuman nya.


"Lalu apa ini tidak terlalu mahal?"


gadis tersebut masih mempertanyakan soal harga gaunnya.


Cakra terlihat terkekeh kecil, tiba-tiba merapatkan perlahan kening mereka.


"Sekali seumur hidup untuk kita, ini tidak mahal sama sekali, pilihlah yang paling kamu suka, jika ada yang jauh lebih kamu suka kamu bisa memilih nya"


"Harga nya mahal sekali, bagaimana jika setelah menikah jadi bangkrut?"


Lucu sekali kekhawatiran istrinya.


"Itu tidak akan membuat ku jatuh bangkrut sayang, percayalah"

__ADS_1


Cakra menyakinkan sambil terus mengulum senyuman, kening yang saling menyatu kini berubah menjadi bibir yang kembali menyatu, membuat terkejut Senja atas perlakuan tiba-tiba Cakra, singkat dan lembut seolah-olah tahu diri dimana mereka saat ini.


__ADS_2