Senja Di Atas Cakrawala

Senja Di Atas Cakrawala
Tidak pernah diperlakukan sama


__ADS_3

Riana membulatkan bola matanya saat dia melihat siapa yang ada di depan sana, Vervita berjalan dengan tergesa-gesa, masuk ke toilet di ujung sana lebih dulu.


Tanpa memberikan jeda waktu Riana ikut mengejar langkah, persis seperti pencuri yang takut ketahuan gerakan nya dia mengendap dan mengendalikan jarak di antara mereka.


Gadis tersebut bergerak masuk ke toilet setelah memastikan Vervita masuk lebih dulu ke salah satu toilet, dia mencoba memilih satu toilet di sana dimana tiba-tiba dia mendengar suara sahabat baiknya.


"Bisa tunggu sebentar? aku di toilet, aku akan menyusul kesana, sayang"


Riana yang berada di sisi kanan toilet dimana Vervita berada langsung menggenggam erat telapak tangannya, dia meremas telapak tangannya dengan perasaan kacau balau.


"Sayang?"


Riana membatin.


"Entahlah dia baru saja menghubungi aku, aku harap dia tidak curiga dan bertemu kita nanti'


Lagi terdengar suara Vervita samar-samar di sebelah sana.


Riana menggenggam erat telapak tangan nya, pikirannya berkelana, dia pikir apakah yang dihubungi Vervita adalah papa nya?!.


Tidak lagi terdengar suara disana, membuat Riana menunggu apa yang terjadi berikutnya, hingga pada akhirnya bisa dia dengar pintu terbuka, dia mencoba mengintip dan memastikan apakah itu sosok Vervita atau pengunjung mall lainnya.

__ADS_1


Dan dia lagi-lagi melihat sosok Vervita, bergerak keluar dengan cepat dari sana, tidak peduli bagaimana rasa perut Riana, rasanya semua sudah menghilang berganti ketegangan yang mendalam, dia memilih mengabaikan keinginan untuk berlama-lama dikamar mandi, sengaja mengejar langkah sahabat nya untuk tahu siapa yang akan ditemui Vervita berikutnya.


Anggaplah dia gila dalam kecurigaan besar nya, dari pada dia menjadikannya beban berlama-lama atas rasa penasaran nya, Riana pikir biar sekalian malu dia mengejar langkah Vervita.


Hingga pada akhirnya sejauh mana dia berjalan mengikuti langkah Vervita, keluar dari mall tersebut menuju ke area samping menuju kearah hotel, gadis tersebut bergerak tergesa-gesa mengejar waktu membuat Riana semakin cepat mengikuti langkah nya hingga pada akhirnya dia membeku saat melihat di ujung sana dia benar-benar melihat sosok laki-laki yang dia kenal dengan panggilan Papa.


Riana menyembunyikan tubuh nya di balik dinding kokoh bangunan hotel tersebut, mengintip ingin tahu apa yang terjadi berikutnya, papa nya Anggara melebarkan senyumannya, menatap sosok Vervita yang bergerak mendekati laki-laki tersebut.


Riana bergetar, dia memejamkan sejenak bola matanya, namun didetik berikut nya ketika dia membuka bola matanya, dia kehilangan sosok kedua orang tersebut.


Riana panik, berlarian mencari kedua orang tersebut, bola matanya menyusuri seluruh ruangan, mengelilingi pandangan nya dengan cepat, hingga akhirnya dia berusaha naik ke lantai atas, dia yakin kedua orang tersebut pasti ada disana.


Riana menggelengkan kepalanya, berlarian menuju ke arah elevator, naik ke atas tanpa berpikir dua tiga kali.


Begitu pintu elevator terbuka, dia berlarian dengan cepat, mengabaikan orang-orang berlalu lalang di sekitar nya, dia masih fokus mencari papa nya dan sahabat baiknya, hingga pada akhirnya petualangan pencarian nya berakhir, pada satu sisi dimana bisa dia lihat Vervita duduk di salah satu kursi dimana bisa dia lihat papa nya menundukkan tubuh dan kepala nya, laki-laki tersebut tampak membenahi sandal heels Vervita dengan senyuman merekah dalam penuh tanda cinta yang tidak pernah laki-laki tersebut persembahan pada dia dan mama nya.


Yah Anggara tersenyum ramah, berbeda jauh ketika menatap Riana dan mama nya selalu dalam balutan kebencian dan ketegangan.


Senyuman itu pernah diberikan papa nya pada kak Jelita nya, selalu selama bertahun-tahun dulu, hingga menciptakan kebencian di hati Riana, dan dia cemburu luar biasa, menunggu kematian Jelita agar posisi tersebut berganti dan kasih sayang Anggara akan berpindah padanya.


Tapi realitanya setelah kematian jelita dia sama sekali tidak pernah mendapatkan nya.

__ADS_1


"Kenapa papa tidak pernah memperlakukan aku layak nya putri nya ma? papa teman-teman ku begitu mencintai putri mereka?!"


Ingatan nya pada tanya yang dia lesatkan pada mama nya menghantam ingatan nya.


"papa mu memang begitu, kaku dan dingin, tapi hatinya baik, dia menyayangi kita dengan caranya sendiri"


"tapi dia menatap kak jelita dengan cara yang berbeda sejak beberapa tahun ini?"


"Itu mungkin perasaan mu saja"


Riana bergetar, bergerak mendekati kedua orang yang ada dihadapan nya tersebut dengan cepat.


Dalam langkah gontai dan kecemburuan mendalam ditambah kecurigaan besar yang menghantam.


"Vervita...pa..?'


Dia memberanikan diri mengeluarkan suara nya.


"Kauuuuu... berani-beraninya kalian berselingkuh dibelakang ku"


Dan satu suara lain pecah menimbulkan kehebohan pagi didalam hotel tersebut saat ini.

__ADS_1


__ADS_2