Senja Di Atas Cakrawala

Senja Di Atas Cakrawala
Pada akhirnya kita sama-sama terluka


__ADS_3

Derap langkah kaki dalam perpaduan heels tinggi lantai granit saling bertanya disepanjang ruangan hotel Pullman Jakarta Central Park, Mell terlihat mengeratkan rahangnya, mencoba menahan amarahnya.


Apa yang dikatakan teman arisan nya? istri dari relasi bisnis Anggara?.


Suami nya berselingkuh dengan gadis muda?!.


Mungkin dia masih bisa menahan kemarahannya saat tahu suaminya berselingkuh, mungkin juga dia masih bisa bicara baik-baik dengan Anggara, mencari tahu soal perempuan tersebut dan melabraknya tapi ada hal lain yang mengejutkan dirinya.


"Ada yang bilang gadis itu teman baik putri mu, anak nya bu eta"


Wanita tersebut benar-benar marah, dia menyiapkan banyak senjata didalam dirinya untuk menghancurkan kedua orang tersebut tanpa berpikir dua tiga kali.


Berapa lama dia bertahan disamping Anggara? merelakan semuanya agar terus bisa berada di samping Anggara, tidak peduli apa kata orang-orang, selama ada Anggara dia tidak peduli apa yang dikatakan semua orang tentang diri nya.


Meksipun Anggara tidak mencintai dirinya setelah ingatan laki-laki tersebut kembali, setidaknya dia pernah merasakan di cintai ketika laki-laki tersebut kehilangan ingatan nya selama bertahun-tahun, tapi setelah itu semua berubah, ini semua karena Jelita.


Andaikan saja dia bisa mengubah waktu, melenyapkan jelita lebih cepat setelah mendapatkan Dewantara group.


Dia tidak bisa melenyapkan jelita karena menunggu gadis tersebut berusia 17 tahun, menunggu semua hak Dewantara berpindah setelah cukup usia jelita dari surat wasiat yang dibuat Dewantara pada pengacara nya.


Dia memelihara ular yang akhirnya menghancurkan hubungan dirinya dan Anggara.


Hingga akhirnya laki-laki tersebut berulang kali mengkhianati dirinya, membuat skandal yang serasa merusak nama baiknya, semakin dia memaafkan Anggara semakin laki-laki tersebut menyakiti diri nya.


"kenapa? kenapa kamu menyakiti aku Anggara?"


Dia menggenggam erat telapak tangan nya, menahan jutaan emosi yang menggebu-gebu soal suaminya.


Mell terus berlarian mengejar langkah,takut terlambat mendapatkan Anggara dan bocah selingkuhan suaminya, dia bergerak mendekati meja resepsionis bertanya soal keberadaan Anggara, entahlah isi kepalanya terlalu banyak, tanpa sadar semua berjalan mudah, biasanya pihak hotel tidak mudah memberikan informasi pada orang asing siap pelanggan nya tanpa bukti yang masuk akal dan jelas, tapi semua berjalan terlalu cepat dan mudah.


"kamar xxxxxxx, lantai xxxxxxx"


Entahlah seolah-olah isi kepalanya Mell buntu, dia bergerak cepat Menuju kearah yang di tunjuk resepsionis tersebut.

__ADS_1


Bergerak naik keatas melalui elevator, tanpa hambatan sedikitpun, begitu tiba di lantai yang dimaksud dia mencari nomor kamar yang di maksud, hingga akhirnya setelah lelah dalam masa pencarian, dia menemukan barisan nomor kamar yang hampir sama dengan kamar yang diambil Anggara.


wanita tersebut bergerak ke sisi kirinya, melangkah cepat dalam taburan emosi yang tidak kunjung mereda, jantung nya berdetak kencang, kemarahan nya membuncah, pemikiran nya sudah entah melanglang buana kemana-mana hingga pada akhirnya bola matanya tanpa sengaja menangkap dia sosok manusia dengan usia yang bertaut begitu jauh.


Anggara dalam posisi menjongkokkan tubuhnya, menatap kearah seseorang yang jelas seusia putri mereka.


"Vervita?"


Sosok yang dia takutkan benar-benar ada bersama suaminya, Mell menggelap, dia berlarian dengan kemarahan yang menggebu-gebu, siap mengeluarkan makian terbesar nya.


"Kauuuuu... berani-beraninya kalian berselingkuh dibelakang ku"


Dia berteriak histeris, bergerak cepat kearah Anggara dan Vervita yang menatap lurus kearah dirinya, tanpa Mell sadari ada putri nya juga disisi yang berbeda.


Dan bayangkan bagaimana kejadian berikutnya, saat Mell berusaha menarik Vervita dan mencoba menjambak rambut nya, tapi Anggara menahan gerakan nya dan.


Plakkkkkkk.


Satu tamparan keras menghantam pipi kirinya.


"Pa?"


Riana terlihat bergetar dibelakang sana, Bola mata nya terlihat berkaca-kaca, Anggara terlihat begitu marah, Vervita berlindung dibalik punggung Anggara.


Semua terlihat pecah, para pengunjung tercekat menatap kekacauan yang terjadi, flash kamera menyoroti mereka, dan seseorang yang lainnya yang menatap mereka dari lantai atas sana, mengembangkan senyuman paling sempurna diiringi kepuasan yang mendalam didalam hati nya.


jika kau terluka karena hari ini, maka tidak ubahnya seperti aku, dan ibu ku juga saudara ku yang terluka dimasa lalu karena perbuatan kamu.


Rudi Anggara.


******


Aku sampai pada titik ini untuk kamu yang aku cintai

__ADS_1


Anggaplah ini adalah cara ku untuk mencintai kamu


masuk terlibat dalam rumit nya cerita kehidupan kamu dan seluruh anggota keluarga kamu


Aku tahu tidak ada jalan untuk aku masuk kedalam hati kamu


tapi aku percaya Allah SWT maha membolak-balikkan hati manusia.


Vervita.


*****


"Stadium berapa Om?"


Vervita bertanya pada laki-laki dari adik papa nya, menatap laki-laki berusia lebih dari 40 tahun tersebut dengan tatapan serius dan khawatir.


laki-laki tersebut memilih belum menjawab, dia menatap sosok laki-laki muda yang berdiri di balik kaca ruangan nya, menghisap rokoknya dengan cara yang gentle dalam balutan jas mendominasi berwarna hitam.


"Kamu mencintai nya?"


Dia bertanya pada keponakan nya, menatap Vervita dengan seksama.


Vervita diam, memilih tidak menjawab.


"Kita harus melakukan operasi nya, Angga tidak baik-baik saja, semakin lama menunda nya, om takut ini akan mengecilkan kemungkinan untuk nya hidup lebih lama"


Vervita diam, menggigit bibir bawahnya, dia menahan sesuatu di kedua pelupuk matanya, sejenak dia menoleh kearah luar, menatap Rudi, laki-laki yang dikenalnya dari seorang perempuan cantik keluarga Anggara.


Jelita.


"Dia adik ku, begitu rapuh dan gampang terluka, dia pernah kecewa, mencintai seseorang yang salah karena ikatan yang tidak bisa diputuskan oleh tradisi, adat dan agama, jaga baik-baik dia jika kakak pergi mendahului dirinya"


Vervita terlihat meremas telapak tangan nya, dia kembali menoleh kearah Om nya.

__ADS_1


"Aku akan coba untuk membujuknya"


__ADS_2