
Ditengah pemikiran takut yang menghantam nya, sebuah tangan mengejutkan Riana, dia tersentak dan menoleh dengan cepat.
"Maaf mbak"
Seorang cleaning servis terlihat sibuk membersihkan lantai, meminta gadis tersebut menyingkir dengan cepat, Riana buru-buru menyingkirkan dirinya tanpa banyak bicara, bergerak mencari toilet terdekat.
Meskipun sakit perut melanda pemikiran nya tetap tidak baik-baik saja, berbagai macam pemikiran menghantam dirinya tentang sahabatnya dan juga papanya, berbagai macam kecurigaan serta ketakutan juga menerjang isi kepalanya hingga pada akhirnya dengan sejuta keberanian Riana mencoba untuk mengeluarkan handphonenya, menghubungi Vervita dengan jutaan kemungkinan yang masih buram dan abu-abu.
Cukup lama hingga akhirnya panggilannya tersambung juga.
"Halo assalamualaikum, Na?"
Bisa dia dengar suara halus dan lembut di seberang sana.
Vervita, gadis cantik seusia diri nya, meskipun sifat mereka bertolak belakang, satu-satunya orang yang tahan berteman dengan nya hanya Vervita, mungkin karena mereka sejak kecil saling mengenal antara satu dan yang lainnya, karena itu menjadi kedekatan tersendiri untuk dirinya.
Tapi ada tahun dimana mereka tidak baik-baik saja, saat mama nya membuat saham papa Vervita merosot drastis karena permainan bisnis mama nya, kala itu tante Eta mama Vervita begitu marah, meskipun papa Vervita berkata dalam bisnis kawan bisa menjadi lawan.
__ADS_1
Mama Mell sengaja membuat Keluarga Vervita mengemis bantuan pada mereka karena permainan liciknya, Mell berkata.
"Tundukkan saja orang-orang yang kurang suka melihat mu, dengan Begitu mereka akan jadi an.jing yang patuh pada mu"
Dan mau tidak mau Tante Eta menahan perasaan berada di bawah naungan Dewantara group selama bertahun-tahun atas permainan licik Mell.
Vervita marah, merasa permainan mama Riana sangat tidak manusiawi, memangkas jarak di antara mereka untuk waktu yang cukup lama, hingga akhirnya seiring berjalannya waktu, Vernita mencoba berdamai dengan keadaan, melupakan perbuatan mama nya pada keluarga mereka.
Dan Vervita selalu bertahan disamping nya menjadi sahabat terbaiknya dalam banyak hal, meskipun terkadang Riana tampil egois dan acapkali membuat Vervita ingin menyerah, pada akhirnya gadis itu selalu bertahan menjadi sahabat baiknya.
"Kamu dimana?"
Toh meskipun Riana mengucapkan salam, pada akhirnya siapa yang akan membalas salam? Mama dan papa nya makhluk paling sibuk di dunia, pergi pagi pulang malam sudah menjadi tradisi mereka berdua.
Meskipun Riana heran pernikahan bagaimana yang dijalankan kedua orang tua nya tersebut, dia enggan peduli, yang dia pedulikan kantong tebal dengan ATM hitam tanpa limit, dia bebas pergi kemanapun dan bergaul dengan siapapun, menikmati hidupnya, menikmati keremajaan nya tanpa halangan apapun.
Dia adalah Riana, yang hidup dalam ruang kebebasan nya, Mell membentuk karakter dirinya yang tidak membutuhkan siapa-siapa, berbuat semaunya tapi gila karena satu laki-laki dengan akal liciknya.
__ADS_1
"Aku ada di mall Pullman, menemui seseorang, kamu dimana?"
Sahutan terdengar dari seberang sana.
Sahutan itu cukup membuat Riana gusar, mall Pullman? kebetulan kah? papa nya dan dia ada di sana sekaran, dia berdiri di sini sambil bola matanya mencari sosok yang dihubungi nya.
"Menemui siapa?"
Dia penasaran.
"Seseorang"
"pacar?"
Terdengar kekehan dari seberang sana.
"Lebih kurang, sebentar dia menghubungi aku Na, bisa matikan handphone nya?"
__ADS_1
Riana bergetar, mencoba terus bergerak kearah depan tanpa tahu tujuan, sengaja tidak mematuhi panggilan hingga akhirnya bola matanya menangkap satu sosok gadis yang jelas tidak asing untuk dirinya.
Vervita?.