Senja Di Atas Cakrawala

Senja Di Atas Cakrawala
Di sini, di kota ini (Dalam ruang kejujuran)


__ADS_3

Karena hati mengerti apa yang kita senangi, tak ada salahnya jika kamu ikuti.


Karena hati hanya rela memberi bukan menguasai , jangan penah ragu memilih dengan hati.


Masa depan adalah milik mereka yang percaya diri bukan meninggikan diri.


Hati memang tak terlihat namun lewat hati, kita dengar Tuhan berdiskusi.


Ketika fikiran mencari dan hati yang meyakinkan di situlah pilihan yang tepat ditemukan.


*****


"Senja?"


Suara halus Cakra mengejutkan Senja, gadis tersebut memperbaiki pandangan nya untuk beberapa waktu, menatap kembali bola matanya yang belakangan mengganggu nya.


Awalnya dia pikir kenapa letak kisah mereka akan berlabuh, kesan pertama sungguh dramatis, Cakra terlalu kaku dan dingin, tidak berharap dia jatuh cinta pada laki-laki tersebut.


"Lahirkan anak untuk ku, untuk Gunawan group"


Dia membutuhkan uang, Cakra membutuhkan keturunan, berjalan baru beberapa waktu semua tiba-tiba berubah.


Allah SWT yang maha membolak-balikkan hati manusia.


Ingin aku menoleh kebelakang, dimana ada tangan yang mengulur dan aku ingin menggenggam, lalu aku sadar jarak terbentang antara aku dan dia tidak akan pernah ada penghujung nya.


Senja mencoba mengembalikan pemikiran, dia kemudian berkata, lirih, sangat lirih karena takut salah bicara.


"Bolehkah aku jujur?"


Begitu hati-hati, bertanya pada laki-laki yang sebenarnya belum dia pahami hatinya, dia butuh waktu menyelam, masuk kedalam sana untuk tahu bagaimana perasaan Cakra.


"Aku ingin bicara sebelum melangkah"


Seolah-olah ucapan Senja memberikan sedikit ruang untuk Cakra bernafas, gadis itu tidak menolak dari kalimat yang bisa dia cerna


Senja bicara, ingin berkata jujur tentang satu kenyataan sebab dia tahu Pondasi paling kuat dalam rumah tangga adalah selain tahu dengan agama jelas berikutnya adalah sebuah kejujuran, dia tidak ingin ada rahasia yang terjadi di Antara mereka, dia takut satu hari ini akan menjadi batu paling besar yang menghantam pernikahan mereka.


Mendengar ucapan Senja, Cakra menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Katakanlah"


Dia bertanya, menunggu Senja bicara apa yang ingin disampaikan gadis tersebut, cukup gelisah dengan jantung yang seperti nya kurang baik-baik saja.


"Aku pernah mencintai orang lain begitu lama, sangat lama bahkan hingga hari ini"


Kalimat tersebut meluncur dari bibir mungil nya, berat dan sulit tapi harus dia ucapkan kenyataannya karena dia tidak mungkin tidak mengatakannya.


Mendengar apa yang diucapkan Senja, Rudi terlihat diam.


Dia juga, mencintai Jelita, begitu lama, terlalu lama bahkan sangat lama, mungkin tepat nya Sejuta satu yang bisa bertahan dengan pasangan mereka selama Cakra.


Cinta itu buta, terkadang ada type orang yang bisa mencintai satu orang hingga akhir hayatnya.


"Aku juga sama"


Cakra menjawab pelan, mencoba balik menatap bola mata Senja.


"Perbedaan nya jika kak Jelita meninggalkan kenangan dalam memori tanpa tersentuh kembali, aku masih memiliki kenangan bersama nya, bahkan bisa bertemu setiap waktu dan satu hari aku takut ini akan menjadi duri didalam hubungan kita"


Senja bicara dengan cepat meyakinkan Cakra soal cinta pertama nya.


Dia jujur menyampaikan nya, takut jika satu hari tanpa sengaja bibir nya berucap atau dia meneriaki nama nya didalam tidurnya, sebab mimpi buruk tersebut terus bersemayam didalam diri nya, ketika Mak menentang, masuk pada masa sulit dan.....


"Makkkkk"


Ingatan lama kembali terngiang.


Ketika racun rumput di tenggak entah berapa banyak, Mak terkapar, mulut Mak mengeluarkan busa.


Suara sirine memecah keheningan malam, dimana semua tetangga berhamburan, malu luar biasa tapi semua tidak bisa di ubah.


Kak Rudi melepaskan segalanya, bahkan tidak memiliki keberanian untuk pulang, bapak semakin ambruk dengan kesehatan nya dan.....


"Apa Rudi pernah menyentuh kamu?"


Sebaris tanya di Lesatkan bapak dari bibir pucat bergetar nya, dia menatap Senja dengan penuh kekecewaan.


"Apa kamu hamil?"

__ADS_1


Lagi bapak bertanya.


Senja merunduk, menggelengkan kepalanya, tangis nya pecah tanpa suara,hanya air mata yang berderai tanpa ada kerat (Rem) nya.


Berhentilah menangis.


Dia berkata didalam hati, ingin sekali dia memukul dada nya berkali-kali tapi apalah daya dia tidak bisa melakukan nya didepan bapak.


"Jika iya maka pergilah dari rumah, bapak anggap tidak pernah memiliki dua anak gadis hingga mati, jika tidak maka lepaskanlah, biarkan Rudi angkat kaki dari rumah"


"Bapak?"


Senja bergerak, mendongakkan kepalanya dimana dia berada di lantai, memegang lutut bapak yang duduk di kursi.


"Mak melepas kan Rudi hingga mati, menghindari neraka yang mungkin akan dia ciptakan lagi satu hari nanti jika kalian tetap bersama, syetan paling pandai berbisik dibalik telinga manusia, sebelum semua terlanjur basah, Mak menyambar kan percikan api membiarkan dia berkobar menjadi Bara panas yang membentang jarak untuk para anak-anak"


Senja menggelengkan kepalanya, dia terisak sambil berkata.


"Senja janji tidak akan jatuh cinta dengan Abang, demi Allah, biarkan Abang pulang"


Suaranya terisak dan terbata-bata, berpindah pada emak, memohon dibawah kaki Wanita yang memberikan susu untuk nya.


"Maafkan Senja, maafkan Senja, biarkan Abang pulang Mak, biarkan Abang pulang makkkk"


Pecah...sepecah-pecah nya tangis, dia tidak bisa menahan nya, dia meraung sambil berulang kali memukul dada nya, meminta Mak dan bapak mencabut keputusan nya.


"Jika dia pulang, kalian akan memastikan mayat Mak bersemayam ditengah-tengah rumah"


Sisa selongsong peluru masih tertancap didalam hati nya, sakit terasa tapi dia ingat ada batas yang tidak bisa dia langgar dalam norma dan sumpah serapah, dia mencintai kakak Rudi nya tapi dia juga mencintai bapak dan emak dan mereka sejak awal memang tidak mungkin bersama.


"Lalu dia ada dimana?"


Cakra bertanya, suara laki-laki itu menggema di balik telinga nya.


"Di sini, dikota ini, di sini, di Jakarta"


Jawab Senja pada akhirnya.


Cakra diam tak bergeming, memikirkan sesuatu yang tidak Senja ketahui.

__ADS_1


__ADS_2