
"Mau kemana malam-malam jam segini?"
Bapak bertanya sambil terbatuk-batuk, baru saja memakan barisan obat milik nya, bersandar di kursi kayu goyang yang ada di depan rumah, laki-laki tua itu menggunakan kain sarung dan peci, menatap senja dan Cakra secara bergantian.
dia pikirin ini cukup malam untuk kedua orang tersebut keluar saat ini.
"Mau keluar sebentar Pak"
Cakra menjawab dengan cepat pertanyaan dari laki-laki tua di hadapannya tersebut, tidak enak kalau dia bilang langsung mereka harus pergi keluar hanya untuk beli kipas angin, mungkin kata-kata itu malah akan menyinggung mertuanya tersebut.
"mau cari sesuatu bapak"
senja menyambut dengan cepat kemudian mengalami bapaknya dan mencium tangan laki-laki tua itu dengan cepat.
Cakra agak bingung, karena dikota tradisi seperti itu nyaris terlupa, dia tidak pernah lagi melakukan hal seperti itu dengan papa setelah dia menyelesaikan bangku sma-nya.
mungkin hal seperti itu dilakukan nya hanya di hari raya, setelah itu tidak pernah lagi, seketika dia merasa malu, seolah-olah dia telah kehilangan Adab di masa anak-anaknya, menghormati dan menghargai orang tuanya dengan cara seperti itu.
__ADS_1
laki-laki itu dengan cepat menyambut tangan bapak Senja, ikut mencium punggung tangan laki-laki tua tersebut dengan perlahan.
"Kami pergi bapak"
gadis itu berpamitan dengan cepat melambaikan tangannya pada bapaknya lantas bergerak turun menuruni satu persatu anak tangga dari rumah panggung tersebut.
Cakra mengikuti langkah senja secara perlahan sembari dia mendengar bapak mertua nya berkata.
"Hati-hati dijalan, jangan minta senja untuk bawa motornya, dia itu mantan pembalap"
bapak bicara sambil menggoda ke arah Cakra.
"Tidak pak, mana mungkin Senja yang bawa motor nya"
gadis tersebut menyangkut dengan cepat, menyakini bapaknya jika dia tidak mungkin membawa motornya.
masih seperti orang oon Cakra bergerak turun, mendekati sebuah motor Legenda yang sebenarnya nyaris tidak pantas terpakai.
__ADS_1
Dia benar-benar seharusnya menjadi legenda.
Batin Cakra saat menatap motor butut di hadapannya.
Kapan terakhir dia punya motor seperti itu? SMP kalau tidak salah, kala itu motor tersebut saja sudah tidak dikatagorikan keren, tapi sudah cukup mewah untuk dibawa oleh anak bujangan pada masa nya, RX-KING menjadi motor andalan nya setelah itu berganti menjadi motor Ninja setelah dia mendapatkan SIM nya.
senja menunggu Cakra membelokkan motor yang ada di hadapan mereka, dia menatap laki-laki itu yang mulai menaiki motor tersebut dan menyalakannya.
"Tuan mereka harus di engkol pakai kaki, sudah tidak mampu lagi menggunakan starter untuk dinyalakan"
Senja berusaha untuk mengingatkan.
seketika Cakra menepuk jidatnya, laki-laki tersebut buru-buru menggunakan kaki kanan nya untuk mengengkol motor tersebut.
demi apapun hanya untuk sebuah kipas angin dia harus berkorban untuk banyak hal dan kini dia harus menggengkol motor tersebut berkali-kali hanya demi mendengarkan drum mesin dari motor tersebut agar menyala dan mampu membawa mereka pergi dari rumah tua tersebut.
sejenak wajahnya menegang, pemikirannya berkelana entah ke mana, dia pikir apakah mungkin motor yang mereka gunakan akan sampai pada tujuan mereka tanpa hambatan.
__ADS_1
Motor oh motor, apa aku harus mengganti mu dengan yang baru?!.
Tiba-tiba saja terbersit keinginan untuk mengganti motor tersebut untuk sang mertua dan adik ipar nya.