
Kamar tidur utama papa Gunawan dan Mama Niar
Mana Niar terlihat tidak baik-baik saja, sejak tadi ekspresi wajah nya seolah-olah menampilkan ekspresi ketidaksukaan nya pada keputusan yang dilakukan suaminya di atas meja makan, seolah-olah berpikir suami nya bertindak di luar kapasitas nya, tidak membicarakan semuanya lebih dulu pada dirinya dan menganggap dirinya tidak ada.
Saking kesalnya wanita tersebut langsung masuk ke kamar tanpa mengeluarkan sedikitpun suaranya, memilih mencuci wajah nya kemudian bergerak dengan cepat menuju ke depan lemari hias, setelah itu wanita tersebut langsung membersihkan sisa make up yang masih menempel di bagiannya dengan ekspresi muka di tekuk.
tidak bisa dibayangkan bagaimana ekspresi wanita tersebut saat ini, yang jelas semua tidak terlihat baik-baik saja, seolah-olah enggan menganggap suaminya memang tidak ada di dekatnya.
dia terus memberikan tangannya untuk membersihkan sistem make up-nya, setelah memastikan sistem make up yang telah bersih wanita tersebut bergerak menuju ke atas kasurnya, memilih untuk membaringkan tubuhnya di atas kasur mendominasi berwarna putih tanpa mengeluarkan sedikitpun suaranya.
persis seperti anak kecil, ketika mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginanmu wanita tersebut memilih marah dengan cara ini.
Papa Gunawan sejak tadi sibuk dengan sisa bacaan majalah di tangan nya, memilih membaca beberapa artikel dan menyelesaikan bacaan yang tertunda miliknya sebelum di meja makan tadi, laki-laki tersebut selalu harus menuntaskan semua bacaan nya tiap kali dia membeli majalah baru.
meskipun jaman telah berubah, handphone lebih canggih daripada televisi dan majalah, tetap saja bagi laki-laki tersebut majalah cetak lebih enak di baca dari baca membuka artikel atau berita di layar handphone yang tingkat cahayanya bisa membuat sakit kepalanya.
Laki-laki tersebut terus fokus pada bacaan nya tanpa menghiraukan sama sekali istri nya.
entahlah berapa lama waktu berlalu yang jelas mereka karena sibuk dengan urusan mereka masing-masing, Mama Niar dengan kemarahannya dan papa Gunawan dengan majalah kesayangan nya.
hingga pada akhirnya setelah waktu panjang berlalu papa Gunawan meletakkan majalah ditangan nya ke atas meja nakas yang ada di sisi kanan nya, laki-laki tersebut langsung membaringkan tubuhnya begitu dia selesai meletakkan majalah nya, memilih melirik kearah istri nya sejenak sambil dia mencoba membenahi posisi kepala dan rasa nyaman di tubuhnya.
"Masih belum Redho Senja tidak sesuai ekspektasi kamu?"
tiba-tiba saja ya papa Gunawan bicara, memecah keheningan di antara mereka berdua hingga membuat mama Niar terkejut, wanita tersebut memilih membungkuk laki-laki itu dan sama sekali tidak berbalik untuk menoleh kearah suaminya.
Papa Gunawan secara perlahan merapatkan tubuhnya, dia memeluk istrinya secara perlahan kemudian berbisik lembut.
__ADS_1
"Jangan lupa Niar, segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini atas kehendak Allah SWT"
"Dan milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." Tidak ada yang berkuasa selain Allah yang menguasai semua yang ada di alam semesta ini, bahkan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan atas kehendak Nya (Al-An'am: 59), karena Ia pemilik kerajaan langit dan bumi.
"Dan milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 189)
Tidak ada yang berkuasa selain Allah yang menguasai semua yang ada di alam semesta ini, bahkan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan atas kehendak Nya (Al-An'am: 59), karena Ia pemilik kerajaan langit dan bumi."
Mendengar ucapan suaminya seketika mama Niar memejamkan bola matanya, bisa dirasakan ada satu hantaman kuat yang menusuk hatinya dan menghantam jiwanya.
"Jangan marah dengan keadaan ini, karena Saat kamu marah itu artinya kamu tidak Redho dan ikhlas atas keputusan dan ketentuan Allah"
Rasulullah SAW bersabda, “Marah itu berasal dari setan. Sementara setan diciptakan dari api dan api hanya dapat dipadamkan dengan air. Karena itu, jika di antara kalian ada yang marah segeralah berwudhu.” (HR. Ahmad bin Hanbal).
Dia tentu tahu bagaimana sikap istrinya, wanita itu masih tidak ikhlas dan ridho dengan keadaan, sebab merasa senja bukanlah sesuatu yang dia harapkan, terlalu jauh diluar ekspektasi.
Bohong jika dia tidak tahu apa keinginan istrinya, minimal berharap Cakra menikah dengan adik Jelita bahkan dapat istri dari kalangan atas dengan pekerjaan mapan nya.
"Saat kamu marah dengan jodoh di dapat Cakra, itu artinya kamu sedang berusaha menyalahkan keputusan Allah SWT, marah karena apa yang kamu inginkan tidak sesuai keinginan kamu dan menyalahkan Allah SWT atas apa yang sudah di gariskan nya"
pada akhirnya mendengar ucapan suaminya seketika membuat bola mata Mama Niar mulai berkaca-kaca, dan dibeberapa detik berikutnya wanita tersebut terisak.
"Maafkan mama, Mama hanya merasa ini belum saatnya, dan Mama merasa cemas jika pilihan Cakra hanya akan menambah kepelikan dalam keluarga kita"
Jawab nya pada akhirnya pelan.
__ADS_1
"Itu namanya prasangka, dan prasangka layak nya ghibah"
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka buruk itu dosa. Dan janganlah sebagian kalian mencari-cari keburukan orang dan menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudanya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (Al-Hujurat: 12)."
"Saat prasangka dan ghibah datang maka istighfar lah, itu artinya syetan sedang bermain dikepala kita dan juga hati kita hmm"
Setelah berkata begitu, papa Gunawan mengeratkan pelukannya, dia mencoba untuk memahami dan membujuk lembut istrinya, tahu jika wanita tersebut tidak dalam kondisi baik-baik saja.
Masih marah putra kesayangannya bertindak di luar akal warasnya.
"Mama hanya merasa khawatir dan cemas, disatu sisi seolah-olah sedang dibohongi, disisi lain nya cukup cemas jika senja jauh di luar harapan, hanya khawatir dan cemas, mungkin juga benar terbawa prasangka karena bisikan syetan"
Ucap wanita tersebut lagi kemudian.
Papa Gunawan menghela pelan nafasnya.
“Bukankah kita sudah tahu? antara karakter kehidupan dunia jelas di penuh dengan kegalauan dan kecemasan, yang itu jelas akan menimpa semua orang yang hidup di dunia. Jangan lupa dunia adalah tempat kesusahan, penderitaan, dan kesempitan hidup. Inilah yang membedakan surga dengan kehidupan dunia” (‘Ilājul humūm, hal. 2)."
"Tidak semua yang dilalui setiap hari berisi dengan hal-hal yang menyenangkan. Terkadang hati mampu menjalani dengan wajah tersenyum, namun tak jarang menjalani dengan guratan beban di dahi dan hati. Namun yang perlu selalu diyakini ialah semua yang menimpa diri itu semua atas kehendak dari Allah Ta’alā."
"Dan apa yang terjadi saat ini juga kehendak Allah, kenapa kita risau? jalankan saja, terima saja, itu artinya kita ikhlas, jika kita menolak nya, itu artinya kita sedang berusaha menolak ketentuan Allah, padahal kita tidak pernah tahu ada rahasia apa yang tengah direncanakan Allah untuk kita kedepannya"
setelah berkata seperti itu, papa Gunawan meraih bahu istrinya, dia meminta wanita tersebut berbalik menghadap ke arah dirinya, wanita tersebut menurut, membalikkan tubuhnya secara perlahan.
"Nikmati saja, ikuti alur, yang menikah Cakra dan Senja, bukan mama dan Senja,atau papa san Cakra, seperti kita dulu, yang menikah kita, bukan antara orang tua kita, kalaupun hari ini kita tidak bahagia bukankah ini pilihan kita? kalaupun kita hari ini bahagia, ini juga karena kita dengan yakin memilih nya"
Seulas senyuman mengembang dibalik wajah tua tersebut, menatap dalam wajah istrinya yang berpuluh-puluh tahun menemaninya.
__ADS_1
"Jangan mengukur seseorang dari derajatnya Niar, sebab dulu kita juga bukan siapa-siapa dan apa-apa, harta cuma titipan, saat meninggalkan yang kita bawa 1 helai kain putih tidak lebih, yang mendoakan anak, menantu dan cucu, tetangga hanya datang bantu memberikan doa saat keluarga mengadakan yasinan saja, selebihnya tidak ada"