Senja Di Atas Cakrawala

Senja Di Atas Cakrawala
kenangan masa lalu


__ADS_3

Di sisi lain.


Tuan Gunawan menatap bagian sisi kiri jalanan, membiarkan Rudi terus membawa mobil yang mereka naiki, tidak banyak terjadi percakapan di antara mereka, seolah-olah pemikiran mereka masing-masing berkelana kemana-mana.


Laki-laki tua tersebut memejamkan bola matanya, mengenang kisah lama yang telah di lupakan semua orang tapi tidak sekalipun menghilang dari ingatan Gunawan.


Selang-selang infus memenuhi tubuh tak berdaya didepan Gunawan muda, dia menatap tubuh ringkih laki-laki yang usianya tidak jauh dari dirinya, laki-laki di atas ranjang mendominasi berwarna putih tersebut tidak berdaya, sudah berbulan-bulan seperti itu dan tidak bergerak sama sekali dari posisinya.


"Juna pasti baik-baik saja"


Wanita tua yang selalu dia panggil Mama tersebut berusaha tersenyum, menatap dalam wajah Gunawan yang duduk diam sejak tadi menatap saudara laki-laki nya.


Meskipun mama nya berkata Juna baik-baik saja, dia tahu laki-laki tersebut tidak baik-baik saja, dokter sudah berkata.


"Ikhlaskan saja, kita hanya menunggu masa kapan waktu nya, tidak ada harapan yang tersisa"


tapi mama nya tidak mampu mengikhlaskan salah satu putranya, menyakinkan diri jika Juna akan bangun pada waktunya.


"Dia akan menikah, memiliki anak-anak yang lucu-lucu dan hidup hingga tua seperti mama dan papa"


Entahlah mungkin mama nya hanya tidak siapa menerima kenyataan saat tahu bagaimana keadaan Juna.


Cinta bisa membunuh siapa saja, begitu juga Juna.


Mencintai satu perempuan hingga berakhir seperti ini, Perempuan tersebut membohongi dirinya dibalik status yang Juna sembunyikan di antara semua orang.


Pada akhirnya perempuan itu tetap memilih laki-laki kaya, meninggalkan kekasihnya yang miskin dan tak berada.


Juna menyembunyikan statusnya, mengencani gadis miskin dari penghujung desa, tidak berkata dia putra kedua keluarga Gunawan, cinta nya terlalu naif, percaya pada gadis desa yang mengejar pundi rupiah ke kota, perempuan tersebut bekerja di satu tempat mengejutkan yang membuat orang cukup tercengang.

__ADS_1


Memamerkan lekuk tubuh indahnya setiap malam di atas panggung kebesaran para laki-laki hidung belang.


Sebodoh itu cinta mu Juna? sebuta itukah mata mu? hingga kau menutup mata dan telinga dari seluruh kenyataan yang diperingatkan semua orang.


Tiba-tiba suara memekakkan telinga keluar dari layar monitor disamping Juna, membuat panik mama nya dan dirinya, para dokter dan perawat berhamburan masuk ke dalam ruangan tersebut.


Kepanikan menerjang dimana Juna tiba-tiba mengejang.


"Tidak...dia pasti baik-baik saja, Juna pasti baik-baik saja astaghfirullahul'adzim, astaghfirullahul'adzim"


Bahu mama nya terlihat bergetar, bibir Wanita tersebut terlihat terus komat-kamit mengucapkan istighfar, air mata mama nya luruh dan tumpah.


"Ma..."


Gunawan muda menggenggam erat telapak tangan mama nya, menahan Isak tangis yang mungkin akan pecah.


Didetik berikutnya.


"Ma..."


Gunawan muda histeris saat menyadari mama nya tumbang.


"Jangan pernah ada gadis miskin yang masuk dalam keluarga Gunawan, mereka pasti tidak tahu diri, menjajal diri dan tidak memiliki harga diri"


"Lupakan Hesty, kau dan dia tidak akan pernah papa izinkan bersama, dia dan perempuan sia..lan yang di cintai Juna pasti sama saja"


"Hesty berbeda pa"


"Lupakan dia, atau kau akan melihat kematian ke 3 setelah Juna dan Mama mu dalam Minggu ini"

__ADS_1


"Pa..."


"Bapak?"


Seketika tuan Gunawan tersentak dari mimpi panjangnya, dia terkejut, membuka bola matanya.


Rudi terlihat menepuk-nepuk lembut bahunya, menatap khawatir kearah dirinya.


"Anda baik-baik saja?"


Gunawan masih diam, merasakan bagian mata nya mengeluarkan sedikit air mata, dia menyeka nya perlahan, kemudian mencoba membenahi posisi duduknya.


"Mimpi buruk lagi?"


Tanya Rudi pelan.


Tuan Gunawan menghela pelan nafasnya.


"Sulit sekali menyingkirkan kenangan buruk dimasa lalu saat kita terus melihat bagian kenangan tersebut didepan wajah kita"


Ucap Gunawan pelan.


"Dia akan hancur tidak lama lagi, bapak jangan khawatir soal apapun"


Rudi bicara pelan, menatap laki-laki tua dihadapan nya tersebut dengan pandangan yang sulit untuk dijelaskan.


*******


Kita hanya dua orang yang bertemu karena keadaan,

__ADS_1


saling mengambil keuntungan dengan tujuan yang sama.


Wanita sama yang menghancurkan dua keluarga sekaligus tanpa perasaan.


__ADS_2