
Rudi mengeratkan rahangnya tatkala suara diseberang sana menghantarkan sebuah kabar berita dari balik handphone nya.
"Apa?"
Laki-laki tersebut menyematkan tanya, cukup marah dengan apa yang disampaikan di ujung sana.
"Dimana?"
Lagi laki-laki tersebut bertanya hingga terdengar jawaban dari seberang sana, dia yang baru menggunakan jaket nya dan berniat berbaring untuk melepaskan dirinya di atas tikar pandan seketika mengurungkan niatnya.
buru-buru bola mata laki-laki tersebut menyusuri segala penjuru sisi yang ada di tempatnya duduk saat ini, Rudi dengan cepat menggunakan maskernya, pergi dari bagian pos kamling gimana dia tidur-tiduran di dalam pos kamling yang belum ada penghuninya tersebut, laki-laki itu bergerak dengan cepat dan berusaha untuk mencari seseorang.
Begitu sampai di halaman muka rumah Senja bisa dia lihat seorang gadis bergerak mengendap-ngendap di depan sana, Rudi mempercepat langkah karena takut gadis tersebut bergerak lebih dulu.
Riana celingak-celinguk persis maling mencari mangsanya.
"Aku cukup terkejut putri Anggara datang kemari seperti pencuri"
Suara datar Rudi terdengar memecah keadaan, mengejutkan Riana yang mengendap-ngendap sejak tadi, dia menoleh ke arah Rudi dengan cepat, menatap wajah datar Rudi untuk beberapa waktu.
Tatapan Rudi begitu tajam, jaket Levis mendominasi berwarna hitam menambah tingkat ketampanan nya, seperti kata orang-orang, Cakra memang memiliki sekretaris tampan seperti aktor favorit anak gadis jaman now.
Sejak awal bertemu pertemuan pertama kali di 7 tahun yang lalu sebelum laki-laki tersebut menjadi sekretaris Cakra laki-laki tersebut jarang mengajak nya bicara, pertemuan pertama ketika kak jelitanya menabrak laki-laki tersebut dijalanan.
Entahlah apa memang begitu ekspresi wajah laki-laki tersebut, kala itu Rudi menatap kearah mereka dengan tatapan terkejut, dan kak jelitanya menangis tanpa sebab hanya karena menabrak seseorang yang tidak dikenal dan membuat nya terluka tapi tidak parah.
hanya lecet tapi membuat hati perempuan tersebut terenyuh melihat Rudi.
__ADS_1
berulang kali dia pikir aneh.
3 tahun kemudian, setelah peringatan 1 tahun kak Jelita nya meninggal, dia bertemu laki-laki tersebut dengan versi berbeda, menjadi bagian dari Gunawan group dan seolah-olah lupa dimasa lalu mereka pernah bertemu dengan cara tak sempurna.
"Aku tidak datang seperti pencuri, ingin masuk bertemu dengan Tante Niar, tidak lebih"
Dia berkilah malas berdebat dengan Rudi, meskipun mulut Riana pedas, berdebat dengan laki-laki bukan level nya, dia punya harga diri didepan laki-laki.
tidak ingin menurunkan image nya atas keegoisan nya demi memiliki Bara, selama Rudi sopan pada nya dia masih bisa mengontrol perasaan nya.
"Sudah tidur sejak tadi, perjalanan jauh membuat bapak dan ibu memilih istirahat lebih awal"
Rudi berucap cepat, menatap Riana penuh intimidasi.
Riana melirik ke rumah panggung dihadapan nya, cukup terkejut jika mama Niar mampu tidur ditempat mengerikan seperti itu.
"pulanglah, Cakra dan istrinya pergi belanja dan mencari makan malam di luar, aku tidak yakin mereka pulang lebih awal, jangan membuat malu diri kamu dengan datang ketempat asing tanpa buah tangan dan ketika ditanya siapa membuat turun harga diri atas jawaban aku adik ipar cakrawala, itu tidak lucu samasekali"
Rudi bicara' mencoba memperingatkan gadis dihadapannya, suaranya terdengar begitu tenang dan datar dengan tatapan yang begitu mengintimidasi.
"Kamu mengusir ku?"
Riana menaikkan ujung alisnya.
"Tidak, aku sedang mencoba melindungi harga diri mu"
Riana mendengus.
__ADS_1
"Kau begitu pandai mengukur situasi, aku akan menunggu Cakra pulang"
"Jangan menyakiti diri sendiri hanya untuk melihat kebahagiaan orang lain, kamu sedang tidak bahagia dengan pernikahan Cakra dan istrinya"
"Seharusnya dia menikah dengan ku saat ini setelah bicara 4 mata dengan papa"
"Tapi dia memilih gadis lain setelah melewati banyak pertimbangan"
mereka saling menatap untuk beberapa waktu, Riana menggenggam erat telapak tangan sembari membatin.
"Itu yang membuat ku bingung, Cakra seharusnya menerima tawaran papa untuk pernikahan kami lalu kenapa tiba-tiba berubah pikiran dan menikah dengan gadis dari kampung hanya dalam waktu 1 bulan?"
Riana membatin sambil mencoba menahan kemarahannya.
Rudi tidak menampilkan ekspresi wajah nya sama sekali.
percayalah dua orang itu sesungguhnya saling menahan amarah yang ingin meledak sejak tadi.
Riana dengan kemarahan nya dan Rudi dengan kemarahan nya.
******
Aku mengendalikan semua benang tipis yang terselubung untuk menggerakkan setiap pion permainan agar tersingkirkan satu persatu dari tangan ku.
apa kau lupa pada ku?.
Kau akan menangis histeris saat tahu kebenaran tentang siapa kamu.
__ADS_1