
Kediaman Utama Mama Niar dan Papa Gunawan.
"Ehhh astaghfirullahul'adzim jantung eh kodok lompat"
Mama Niar cukup terkejut, bicara latah sambil membulatkan bola matanya, buka pintu utama tiba-tiba muncul Rudi, laki-laki tersebut sudah berdiri didepan pintu, hampir bikin jantung melompat kayak kodok disawah saking kagetnya.
"Kamu bikin kaget saja"
Dia mengoceh tapi tidak terdengar judes, sambil tertawa renyah lantas mengibas-ngibaskan tangannya.
"Maaf Bu"
Rudi menundukkan kepalanya.
"Aishhh kalau tidak jam kerja jangan panggil Bu, ini weekend, saya suruh kamu panggil Mama dari dulu susah banget, apalagi kamu seperti kakak sendiri untuk jelita"
Wanita itu protes, sudah berkali-kali berkata agar anak itu memanggil nya mama, usia nya lebih muda dari Cakra dan jauh lebih tua dua-tiga tahun dari Jelita.
Dulu sebelum meninggal Jelita pernah berpesan.
"Mama dan papa janji akan baik sama Rudi? dia itu satu kampung sama Jelita, anak nya baik dan pekerja keras, dan hidupnya...."
Selalu pesan nya tertunda, bola mata jelita berkaca-kaca, tiba-tiba air mata menantu nya tumpah.
Sesulit apa hidup Rudi, dia tidak tahu, sepertinya jelita memang kenal dekat dengan keluarga Rudi di masa anak-anak nya.
__ADS_1
Tapi anehnya saat dia bertanya sama besan nya.
"Rudi? Rudi mana yah?"
Ah sudahlah, dia enggan memikirkan nya, mungkin Mama Jelita tidak begitu mengenal nya.
Dan Rudi memang baik, sangat bisa diandalkan, perintah saja apapun kepadanya, tidak ada tugas yang tidak dia selesaikan dengan sempurna dan suaminya begitu mempercayai Rudi dalam banyak hal termasuk soal Cakra.
"Maaf saya lupa, Ma"
Ah begitu manis saat anak itu memanggil nya Mama,
"Ini weekend? tidak ngapel pacar kamu? bapak mau pergi?"
3 tanya sekaligus dia lesatkan pada laki-laki dihadapan nya.
Biar dikata terkadang ngajak mereka bicara sangat sulit di balas dengan kata-kata, bikin agak gondokan tapi Mama Niar suka karakter kedua orang tersebut.
Dan dia suka satu hal dari Rudi, anak itu jujur. Modal paling termahal yang harus dimiliki oleh orang-orang saat bekerja dengan orang lain.
"Bapak hanya menghubungi dan bilang agar aku mengantar nya pergi"
Rudi bicara sambil mengembangkan senyuman nya, menunggu laki-laki tua Gunawan yang terlihat berjalan dari arah anak tangga atas, menuruni satu persatu anak tangga di ruang rumah megah tersebut.
"Ohhhh mau kemana?"
__ADS_1
Mama Niar semakin mengerutkan keningnya, dia pikir suaminya tidak bilang kalau ingin pergi hari ini.
"Mau ke makam Juna, sudah lama tidak kesana, mungkin pulang nya sore, papa akan mampir ke perusahaan untuk mengambil sesuatu"
Laki-laki tersebut bicara, muncul dibelakang istrinya, membuat mama Niar terkejut, menoleh dengan cepat. Dia ingin bicara, tapi keningnya langsung di cium dengan cepat oleh suaminya.
"Aihhhh bikin malu saja, cium di depan Rudi"
Mama Niar terlihat tersipu-sipu malu, suaminya memang seromantis itu.
Alih-alih menjawab, papa Gunawan lebih memilih menaikkan ujung bibirnya, kemudian menunggu mama Niar mencium punggung tangan nya.
"Hati-hati dijalan"
Cuma itu barisan pesan yang dia ucapkan.
Menatap punggung suaminya yang bergerak menjauh diikuti Rudi.
Kemakam Juna.
Ahhhh berapa tahun berlalu? entahlah, suaminya masih tidak bisa ikhlas melepaskan saudara laki-laki nya.
Begitu pintu mobil tertutup, papa Gunawan berkata.
"Saat di Jakarta, biar Mak dan bapak kalian tinggal di villa Gunawan, Biarkan Mell dan Anggara melihat nya hanya di acara ngunduh mantu Cakra dan Senja"
__ADS_1
Ucap laki-laki tersebut cepat pada Rudi, kemudian dia memejamkan bola matanya, menyandarkan tubuhnya ku kursi mobil tersebut.
Rudi sama sekali tidak menjawab, melajukan mobilnya dengan mantap menatap lurus kedepan.